Psikologi Keluarga: kehidupan keluarga

Psikologi Keluarga: kehidupan keluarga


TOPIK BAHASAN meliputi Degradasi nilai-nilai, Kondisi keluarga modern, Krisis keluarga, dan Upaya mengatai krisis keluarga

1. Degredasi nilai-nilai meliputi:
-Nilai-nilai Agama, termasuk ibadah. Kehidupan keluarga yang mengutamakan urusan dunia,sangat berdampak pada akhlak anak, dan bisa mengantarkan anak mengalami keterbelakangan mental dan masalah perilaku)
-Nilai-nilai Adat Istiadat, yaitu Kesopanan. Penyebab nilai kesopanan memulai memudar: Kurikulum pendidikan kesopanan dihapuskan, Kurangnya teladan orang dewasa (pendidik, orangtua), dan Rendahnya angka kesejahteraan masyarakat yang megakibatkan angka kriminal meningkat 
-Nilai-nilai Sosial, yaitu Sikap individualistik berkembang di masyarakat. Ciri sikap individualistik: Memetingan diri sendiri dalam segala hal, Enggan berbagi harta, pikiran, saran, dan pendapat, Memilih teman dalam bergaul, Memutuskan tali silaturrahim dengan keluarga
-Kesakralan Keluarga, “Ada apa dengan keluarga???” Fakta-fakta penurunan kesakralan keluarga: Perceraian, Perselingkuhan, Kekerasan dalam rumah tangga Keluarga retak karena faktor ekonomi

2. Kondisi Keluarga Modern
Membahas mengenai keluarga modern maka sangat erat kaitannya dengan pendidikan dan keterampilan. Pada masa milenial ini, pendidikan dan keterampilan sudah menjadi ssalah satu kebutuhan manusia. Semua orang berlomba-lomba memperoleh pendidikan dan keterampilan ini. Hanya saja, segelintir orang gagal menerapkan pengetahuan dan pemahaman yang diperolehnya pada proses pendidikan dan keterampilan dalam menciptakan ketahanan keluarga (dari berbagai aspek yaitu aspek fisiologis, psikologis, dan spiritual). Sesungguhnya tingkat pendidikan seseorang berbanding lurus dengan sikap/perilaku yang luhur (Pendidikan memiliki korelasi dengan perilaku) bahkan dalam islam terdapat pendapat bahwa ketika seseorang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang luas maka semakin sering juga orang tersebut mengingat kepada Penciptranya "Fikir dan zikir". Selain itu, terdapat juga konsep yang mengatakan bahwa semakin tinggi kapasitas intelektual seseorang dan semakin kaya (harta masteri) maka keimanan dan ketaqwaan seseorang semakin tinggi juga. Berbicara mengenai keterampilan, akses memperoleh pelatihan keterampilan lebih mudah diperoleh orang yang tinggal di Kota dibandingkan orang yang tinggal di desa namun, kembali lagi kehidupan di kota jauh lebih beresiko menghadapi ujian/tantangan hidup dibandingkan kehidupan di desa yang penuh kenyamanan dalam kesederhanaan.

3. Krisis keluarga 
Membahas mengenai keluarga maka secara langsung bersinggungan dengan peran orangtua yang ada di dalam keluarga. Umumnya sebuah keluarga (orangtua) tidak mampu melaksanakan perannya secara tepat dikarenakan beberapa hal yaitu: tidak terjalinnya komunikasi yang efektif diantara orangtua/pasangan suami istri, sikap egosentris pasangan suami istri, masalah ekonomi (disorientasi keluarga), orangtua sama-sama sibuk dengan karir masing-masing, pemahaman kedua orangtua/pasangan berbeda mengenai berbagai hal khususnya hal-hal yang berkaitan dengan keluarga, terjadinya pengkhianatan/perselingkuhan, dan yang paling utama membuat keluarga mengalami krisis adalah jika keluarga/orangtua/pasangan suami-istri jauh dari agama (baik pemahaman maupun aktivitas ibadah)

4. Upaya mengatasi krisis keluarga
terdapat dua cara umum yang dapat ditempuh untuk mengatasi krisis keluarga dan berusaha membangun keluarga yang harmonis yaitu cara tradisional (bantuan keluarga terdekat dan melibatkan bantuan orang bijak (ulama/ustadz) dan cara ilmiah yaitu konseling (konseling keluarga) yang dapat dilaksanakan secara individual maupun kelompok


Referensi:

Willis, S. 2011. Konseling Keluarga ( Family Counseling ). Bandung :Alfabeta.

No comments for "Psikologi Keluarga: kehidupan keluarga"

Berlangganan via Email