Pendekatan-pendekatan dalam Konseling Part 9 - Psikolog Sekolah

Latest

Monday, July 1, 2019

Pendekatan-pendekatan dalam Konseling Part 9

Pendekatan-pendekatan dalam Konseling
Part 9 


PENGANTAR
Konseling memiliki makna yang luas dan beragam. Namun, apa saja makna konseling dan apa yang melatarbelakanginya, sering kali sulit untuk dipahami dan dicari dalam literatur. Sebab, banyak penulis lebih senang membahas tentang teori-teori konseling dan pendekatan-pendekatannya. Pembahasan berikut ini merupakan dikutip dari buku yang berjudul : Psychology Counseling: Perspectives and Functions, karya Gerald L. Stone tahun 1985, dimana kajian psikologi konseling dapat diurutkan pembahasannya yang meliputi : membimbing, menyembuhkan, memfasilitasi, memodifikasi, merestrukturisasi, mengembangkan, mempengaruhi, mengkomunikasikan, dan mengorganisasikan. Masing-masing dibahas berdasarkan perspektif latar belakang historis dan pendekatannya berdasar atas fungsi konseling.

I. Mengorganisasikan (organizing)
Mengorganisasikan secara metaporik dapat dipersamakan pada biologi, yaitu membuat suatu organ berproses melalui pemeliharaan dan tindakan dari bagian-bagian dari tubuh itu sendiri. Mengorganisasikan juga mempunyai konotasi lain, yaitu menyusun, merestrukturisasi, efeisiensi atau befungsinya bagian-bagian yang berhubungan.

Dalam perspektif tradisional, individualisme dan otonomi adalah kerangka kerja dalam proses konseling, karena itu dalam membantu klien adalah menguji tindakan, mengambil tangggungjawab, dan merubahnya sehingga dapat berubah. Namun, dalam masyarakat modern, bantuan memiliki perbedaan ideologi. Dalam pandangan organik, walaupun peduli dengan fungsi otonomi, tetapi hal tersebut hanya bagian dalam relasi dengan keseluruhan tubuh, atau dalam hubungan dengan lingkungan. Maksudnya bahwa dalam penyesuaian pribadi, dunia luar bukan merupakan realitas yang tidak dapat dirubah, tetapi dapat dapat dirubah. Dengan demikian, konselor dapat membantu seseorang dengan merubah keluarga, kelompok, adan komunitas.

1. Latar Belakang Historis
Secara historis kesehatan mental telah menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Selama pertengahan abad 19 tritmen moral sangat dominan. Namun, seiring dengan reformasi intstitusi sosial dari masyarakat agraris ke ekonomi industri yang terjadi pada awal abad 20, layanan tritmen bergeser ke model dokter-pasien. Mulai tahun 1960-an, profesi kesehatan mental kembali mengambil tanggung jawab seiring dengan dengan penghargaan peran lingkungan dalam menangani masalah-masalah prilaku, yang ditandai dengan munculnya gerakan kesehatan mental, dimana para psikolog ditantang untuk : (1) lebih berperan dalam gerakan kesehatan menta, (2) menerima peran masyarakat dalam kerja klinikal mereka, (3) berurusan dengan masalah kesehatan, tidak hanya yang sakit, dan (4) berbicara tentang isu-isu publik dan melakukan intervensi dalam sistem sosial.

Kepedulian terhadap lingkungan dan aktivitas mengorganisasikannya juga telah menajdi bagian dari sejarah konseling. Rockwell dan Rothney (1961) menegaskan bahwa gerakan bimbingan telah menjadi bagian dari gerakan reformasi sosial. Sementara itu Williamson (1939), Wrenn (1962), dan Shoben (1962) mengingatkan pentingnya konseling dalam sistem pendidikan dengan lebih bertanggung jawab terhadap kebutuhan-kebutuhan siswa. Jurnal-jurnal tahun 1960 dan tahun 1970an telah banyak mengeksplorasi tentang isu-isu sosial dan budaya. Stewart dan Warnath (1965) telah menjelaskan tentang konselor sebagai mesin penggerak social (social engineer) Blockher (1966/1974) membahas tentang ekologi perkembangan manusia, serta banyak buku-buku yang membahas tentang konseling komunitas. Semua ini mencerminkan adanya pergerakan bahwa konseling tidak lagi dibatasi pada teori-teori intrapsikis dan praktek cara-cara individual.

3. Pendekatan
Dalam bab permulaan, model teoritik dalam diskusi konseling kebanyakan dilakukan dalam konteks modalitas psikoterapi individual. Pada bagian ini diskusi lebih diperluas dalam modalitas yang berbasis sistem, yakni : kerja kelompok, konsultan, pengembangan organisasi, dan tindakan komunitas.

a. Pembukaan
Membangun hubungan merupakan tema umum dalam seluruh modalitas praktek konseling, sehingga kualitas hubungan merupakan hal yang ktitis dan kepercayaan adalah suatu yang penting. Masalah kepercayaan ini menjadi bertambah besar dalam layanan-layanan terhadap sistem sosial, apakah keluarga, kelompok-kelompok komunitas, atau organisasi, yang cenderung menjadi pusat dari identitas dan keamanan individu. Ketika layanan masuk dalam sistem sosial, maka anggota-anggota diinterpretasikan masuk sebagai seorang yang lemah dalam sistem tersebut. Layanan diberikan dengan tugas pertama membangun hubungan dengan anggota-anggota sistem sosial. Kolaborasi ditekankan, dan perubahan menjadi tanggung jawab anggota-anggota dalam sistem sosial.

Sedangkan dalam kolaborasi sangat tergantung kepada kepercayaan, sementara itu untuk memperoleh kepercayaan dalam suatu aktivitas organisasi merupakan hal yang sulit, baik dalam kerja kelompok, konsultasi, pengembangan organisasi, mauoun tindakan komunitas (perencanaan sosial), sehingga diperlukan keterampilan dalam merespon tantangan tersebut secara tepat. Misalnya, dengan sikap low profile, koopertaif, mendengarkan, tidak berpraduga. Sehingga anggota/klien dapat mengeksplore melalui pemberian informasi yang relevan, dan kelompok dapat berkolaborasi dalam membuat perencanan maupun dalam pengambilan keputusan.

b. Konseptualisasi
Tugas utama dalam pembukaan untuk kelompok baru adalah menentukan masalah, kemudian memecahkannya dengan menggunakan proses kelompok. Tanpa pemahaman terhadap proses, angota mungkin akan menggunakan kelompok untuk alsan-alasan lain dari pada tujuannya itu sendiri, akibatnya proses pengumpulan informasi/data, identifikasi masalah, intervensi, dan evaluasi dapat kacau. Ahli-ahli organisasi umumnya menggunakan pendekatan melalui konsep dan metode tersendiri, sesuai orientasi mereka tentang sistem sosial. Dengan demikian, masalah yang ada selalu dipandang dalam konteks sistem sosialnya.

Dalam pengumpulan data pendahuluan, penting untuk menggunakan metode yang bervariasi, sehingga diperoleh data yang komprehensif. Kemudian distrukturkan dalam tiga kategori, misalnya sumber-sumber yang menguasai staf, tekanan pekerjaan, dan iklim organisasi. Kemudian secara periodik, staf bertemu untuk mendiskusikan hasilnya, memberikan kesempatan untuk mengidentikasi masalahnya dan mendiskusikannya.

c. Intervensi
Dalam kerja kelompok saat ini, intervensi umumnya dilakukan melalui metode interaksi yang berpusat pada tema atau disebut model tema atau pendekatan tematik. Tema ini sekaligus merefleksikan tujuan utama kerja kelompok. Cohen (1972) menyarankan bahwa dalam menyeleksi tema harus didahului asesmen terhadap permasalahan yang dihadapi, menggunakan kata-kata yang positif, memnggunakan kata kerja yang memungkinkan masing-masing anggota dapat berpartisipasi (misal, ”menjadi diri sendiri sesuai pekerjaan”, dari pada ”dunia kerja”). Selanjutnya juga perlu dibuat aturan atau prosedur sebagai kerangka kerja dalam membantu anggota berelasi satu dengan yang lainnya secara otonomi, meliputi : jadikan anda pemimpin diri sendiri, gunakan kata-kata saya, memberi pernyataan sebelum bertanya, ganggguan-gangguan harus lebih diutamakan, dan pada saat yang sama hanya satu orang yang bicara.

Dalam konsultasi pendidkan, misalnya dapat menggunakan pendekatan pendidikan, dengan memimpin suatu rangkaian workshop supervisi guna membantu pemahaman staf dan bagaimana mengaplikasikannya, atau melalui pendekatan psikologis melalui latihan-latihan keterampilan sosial, pengembangan pendidikan, atau interaksi manusia, yang secara metodologi dapat menggunakan pendekatan berdasar teori belajar sosial dari Bandura. Sedangkan dalam konsultasi behavioral, lebih menekankan kepada aplikasi teknologi behavioral, sebagaimana akhir-akhir ini banyak digunakan dalam mengatasi amsalah-masalah lingkunga, seperti konsevasi air, dsb.

Dalam pengembangan organisasi, intervensi kebanyakan dilakukan melalui konsultasi proses, misalnya melalui latihan-latihan laboratori (misal T-Group) serta melalui penelitian tindakan. Sedangkan dalam tindakan masyarakat, intervensi dapat dilakukan melalui penerapan model-model pengembangan masyarakat dan aksi-aksi sosial.

d. Evaluasi
Riset evaluasi dalam perspektif mengorganisaikan selalu terjadi dalam setting-setting yang relevan melalui studi-studi lapangan, penelitian tindakan, dan evaluasi program, tetapi hal ini sering dicirikan dengan desain dan intsrumen yang lemah. Kurang ketatnya prosedur eksperimen ini sering memunculkan pertanyaan tentang nilai-nilai intervensi pengembangan (Dustin dan Blocher, 1984).

e. Pengembangan profesional
Sangat disayangkan bahwa latihan formal dalam bidang baru sering tertinggal dibelakang dibandingkan prakteknya. Para praktisi pengembangan, selalu memperoleh pelatihan melalui tiga cara, yaitu : berdasar pengalaman kerjanya, latihan formal subspesialis dalam suatu pembentukan profesi, dan latihan dalam organisasi non tradisional (misal, Laboratorium Pelatihan Nasional).

Konsultasi merupakan subspesialis dalam ilmu pengetahuan dan profesi psikologi. Karena itu penyiapannya harus berisi tentang pendidikan psikologi, kurus dalam teori konsultasi, kerja lapangan, dan mengambil pelajaran tambahan dalam bidang yang tepat sesuai yang akan ditekuni, ujian komprehensif dalam konsultasi. Setelah menyelesaikan bidang akademik tersebut, traineee seharusnya mengambil kursus panjang dalam teori dan proses konsultasi, dengan pengajaran dan supervisi laboratory, serta pengalaman lapangan.

Dalam setengah bagian pertama dari kursus tersebut, trainee harus mempelajari konsep-konsep, sejarah, dan dasar-dasar ideologis dalam berpikir sistem. Sedangkan dalam setengah bagian kedua, trainee harus praktikum, dengan menempatkannya pada suatu organisasi dan melakukan proyek-proyek konsultasi, kemudian secara formal dievaluasi atau dengan mengajukan usulan untuk evaluasi, misalnya melalui seminar yang dihadiri oleh trainee lain dan profesor.

Sedangkan mengambil pekerjaan tambahan dan penyiapan untuk ujian komprehensif harus memberikan kesempatan kepada trainee untuk mengembangkan beberapa pendalaman substansi pengetahuan utama di luar disiplin psikologi, tetapi relevan terhadap intervensi oragnisasi, seperti dalam ilmu politik, bisnis, dan hukum.
Baca juga

No comments:

Post a Comment