Pendekatan-pendekatan dalam Konseling Part 7 - Psikolog Sekolah

Latest

Monday, July 1, 2019

Pendekatan-pendekatan dalam Konseling Part 7

Pendekatan-pendekatan dalam Konseling
Part 7
 
 
PENGANTAR
Konseling memiliki makna yang luas dan beragam. Namun, apa saja makna konseling dan apa yang melatarbelakanginya, sering kali sulit untuk dipahami dan dicari dalam literatur. Sebab, banyak penulis lebih senang membahas tentang teori-teori konseling dan pendekatan-pendekatannya. Pembahasan berikut ini merupakan dikutip dari buku yang berjudul : Psychology Counseling: Perspectives and Functions, karya Gerald L. Stone tahun 1985, dimana kajian psikologi konseling dapat diurutkan pembahasannya yang meliputi : membimbing, menyembuhkan, memfasilitasi, memodifikasi, merestrukturisasi, mengembangkan, mempengaruhi, mengkomunikasikan, dan mengorganisasikan. Masing-masing dibahas berdasarkan perspektif latar belakang historis dan pendekatannya berdasar atas fungsi konseling.


G. Mempengaruhi (influencing)
Proses interaksional seseorang (helper) dalam upaya merubah tindakan, sikap, dan perasaan orang lain (helppe) dapat diidentifikasi sebagai pengaruh sosial. Pengaruh sosial dalam konseling bukan berarti bahwa konselor membatasi klien pada prilaku yang tidak muncul sebelumnya, tetapi lebih kepada menawarkan kontrol baru yang dipandang lebih efektif dalam rangka mengatur prilaku klien yang jelek di masa lalu. Karena itu pertanyaannya lebih kepada oleh siapa, dengan metode apa, dan apa tujuannya. Pengaruh sosial juga bukan tidak membatasi pada orientasi khusus, tetapi lebih sebagai kerangka konseptual yang mungkin dapat diperhitungkan untuk menjamin kefektivan keragaman metode konseling dalam berbagai perspektif teoritik, dengan fokus kepada penonjolan interkasi manusia yang berkontribusi terhadap pengaruh sosial (bagaimana merubah) dari pada apa yang dikatakan terapis (apa yang berubah).

1. Latar Belakang Historis
Perkembangan perspektif pengaruh sosial dapat ditelusuri melalui beberapa tradisi, seperti : (1) tradisi Lewinian, yang memfokuskan kepada saling keterkaitan antara seseorang dengan lingkungan yang telah disebarluaskan oleh murid-murid Kurt Lewin, termasuk Festinger (disonan kognitif), Cartwright (kekuatan sosial), Kelly, Thibaut dan Schacter (atribusi), dan Beck (daya tarik/atraksi). (2) Tradisi Riset sikap yang dilakukan oleh Carl Hovland dan kelompoknya di universitas Yale, yang kebanyakan memfokuskan diri kepada komunikasi persuasif dan variabel-variabel yang berpengaruh (misal : sumber, pesan, penerima, dan saluran) dan konsekuensinya terhadap perubahan sikap. Termasuk didalamnya latar belakang psikologi sosial yang berasal dari Elliot Aronson dan Karl Weick, yang kembali menengaskan tentang pandangan tentang proses-proses yang mempengaruhi dalam konseling dan kaitannya dengan riset-riset ekesperimental dalam setting konseling.

2. Pendekatan
Dibandingkan dengan perspektif yang lain, perspektif ini mungkin hanya merupakan suatu elaborasi dalam konteks konseling.
a. Orientasi
Pengaruh sosial banyak dibahas dalam teori-teori konsistensi kognitif, diantaranya yang menonjol adalah teori Festinger tentang disonan atau ketidaksesuaian kognitif yang menyatakan bahwa sikap-sikap yang berhubungan yang dimiliki oleh individu cenderung diarahkan kepada konsistensi internal. Jika individu menerima informasi yang menghasilkan suatu sikap-sikap inkonsistensi, maka satu atau lebih sikap tersebut akan berubah dan meningkat ke konsistensi. Dengan demikian inkonsistensi kognitif sangat ditekankan, karena hal tersebut merupakan resolusi dalam mereduksi stres. Sedangkan Bem (1967) menyatakan bahwa konsistensi kognitif mungkin tidak akan merubah motivasi dalam keseluruhan, dan observasi diri terhadap sikap-sikap yang berlawanan akan mengarahkan kepada perubahan sikap. Beberapa ahli konseling mendorong konsistensi kognitif ini sebagai kerangka kerja untuk konseling. Dtambahkan pula bahwa subyektivitas klien merupakan hal penting dalam proses-proses pengaruh sosial.

b. Pembukaan
Pada fase ini konselor perlu tampil asli dan hangat, memiliki minat tulus melalui komunikasi reflektif dan empatik sehingga mampu membukan tindakan, pandangan, dan perasaan klien bahwa konselor adalah seoarng yang ahli, atraktif, dan dapat dipercaya, sehingga secara meningkat klien dapat terlibat. Penerimaan konselor sebagai kekuatan penuh, berarti menempatkan konselor sebagai pengaruh sosial. Ini dapat diwalai dengan mengontrol wawancara sehingga klien dapat berpikir bagaimana menjadi klien, mengeksplorasi masalah dengan kmenaruh minat dan perhatian secara pribadi. Dalam mengeksplorasi tersebut konselor meningkatkatkan pengaruh sosialnya dnegan menyusun kondisi-kondisi yang mempengaruhi, seperti keahlian, kompetensi, keatraktifan (penyingkapan diri dan empati yang akurat), dan layak dipercaya. Dengan kata lain pada awal konseling, klien dianggap memiliki peran ketergantungan, dan konselor adalah mengontrolnya.

c. Konseptualisasi
Dalam perspektif pengaruh sosial, dulu asesmen menempatkan pentingnya identifikasi faktor penyebab, terutama penyebab utama dan ada dalam diri klien atau dengan mengelaborasi dinamika intrapsikis klien dan sebab-sebab yang linier. Namun seiring dengan perkembangan teori sistem- keluaraga, kini lebih menekankan kepada aspek interaksional dan sebab-sebab sirkuler.

d. Intervensi
Fase Pembukaan dan konseptualisasi adalah pendahuluan untuk fase perubahan, dimana konselor memaksimalkan pengaruhnya kepada prilaku dan kognitif klien. Inti perubahan adalah modifikasi prilaku. Dalam model perubahan sikap, intervensi adalah mengkonseptualisasikan pemenuhan terhadap tujuan-tujuan klien melalui penciptaan dan resolusi dari inkonsisten kognitif, dengan ketidaksesuaian (discrepancy) sebagai bahan utamanya. Intervensi terhadap ketidaksesuaian (misal pemahaman terhadap ide-ide irasional atau defen psiologisnya) merupakan umpan balik, dengan maksud agar klien menyadari ketidaksesuaian antara pola-pola interaksi yang ditampilkan dengan yang diharapkannya.

Dalam intervensi, interpretasi merupakan hal penting. Interpretasi adalah suatu kerangka alternatif, pilihan, atau sistem bahasa yang secara bermakna dapat digunakan untuk merubah masalah-masalah klien. Karena itu, dengan ucapan-ucapan konselor yang positif dalam mengevaluasi klien dapat merubah persepsi dan pengalamannya, dapat mengarahkan kepada klien untuk memproses informasi secara berbeda, sehingga keterlibatannya semakin meningkat. Caranya dapat dengan menggunakan paradok atau komunikasi kontradiktif. Setelah diperoleh interpretasi yang benar, selanjutnya adalah mengarahkan klien kepada prilaku yang diharapkan dengan menuntut klien untuk melakukan sesuatu.

e. Evaluasi
Riset pengaruh sosial, paling banyak dilakukan oleh Strong dengan metode-metode yang analog dengan metode penelitian pada umumnya, dengan fokus kepada peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi persepsi klien terhadap konselor, khususnya terhadap keahlian, keatraktifan, dan kepercayaannya. Salah satu hasilnya bahwa persepsi terhadap keahlian dan keatraktifan dapat ditingkatkan dengan menggunakan isyarat-isyarat (fakta-fakta obyektif dalam pendidikan) dan prilaku (komunikasi terapeutik dan pengungkapan diri) yang tepat.

Dalam satu contoh penelitian, diajukan hipotesis bahwa intervensi ketidsaksesuain yang disajikan dengan membangun relasi terapeutik dan rekonseptualisasi materi klien dapat meningkatkan kontrol diri klien. Intervensi ketidaksesuaian kemudian dilakukan melalui tiga tingkatan, yaitu : (1) mendengarkan - ketidak sesuain rendah, (2) interpretasi kongruen – menyimpulkan materi klien melalui kata-kata konselor, dan (3) interpretasi ketidaksesuain – menyampaikan suatu kerangka alternatif terhadap sebab-sebab – diskrepancy proporsional. Hasilnya menunjukkan bahwa ketiga tritmen tersebut mampu meningkatkan relasi konseling.

f. Pengembangan profesional
Sangat sedikit tulisan yang membahsa pengembangan profesional dalam perspektif pengaruh sosial. Beberapa penulis (misal Hepner dan Handley, 1981) berpendapat bahwa proses pelatihan adalah setara dengan proses konseling : Pertama, supervisor dapat meningkatkan pengaruhnya terhadap peserta pelatihan melaui peningkatan persepsinya terhadap keahlian, keatraktifan, dan kepercayaannya tehadap supervisor. Kedua, supervisor menggunakan pengaruhnya untuk memenuhi perubahan-perubahan yang diinginkan peserta pelatihan. Misalnya dengan mendorong untuk mempelajari materi-materi atau berlatih kembali tentang pola-pola tindakan tertentu.
Baca juga

No comments:

Post a Comment