Pendekatan-pendekatan dalam Konseling Part 8 - Psikolog Sekolah

Latest

Monday, July 1, 2019

Pendekatan-pendekatan dalam Konseling Part 8

Pendekatan-pendekatan dalam Konseling
Part 8



PENGANTAR
Konseling memiliki makna yang luas dan beragam. Namun, apa saja makna konseling dan apa yang melatarbelakanginya, sering kali sulit untuk dipahami dan dicari dalam literatur. Sebab, banyak penulis lebih senang membahas tentang teori-teori konseling dan pendekatan-pendekatannya. Pembahasan berikut ini merupakan dikutip dari buku yang berjudul : Psychology Counseling: Perspectives and Functions, karya Gerald L. Stone tahun 1985, dimana kajian psikologi konseling dapat diurutkan pembahasannya yang meliputi : membimbing, menyembuhkan, memfasilitasi, memodifikasi, merestrukturisasi, mengembangkan, mempengaruhi, mengkomunikasikan, dan mengorganisasikan. Masing-masing dibahas berdasarkan perspektif latar belakang historis dan pendekatannya berdasar atas fungsi konseling.


H. Mengkomunikasikan (communicating)
Komunikasi ditunjukkan dengan adanya keterlibatan dalam seluruh perspektif. Dalam konseling dan psikoterapi tradisional, mengkomunikasikan dipahami sebagai mengklarifikasi, membuat nyata, membantu klien memahami masalahnya.

Dalam terapi keluarga, komunikasi dipandang dalam konteks yang lebih luas, sebagai hasil analog dan model baru. Komunikasi bukanlah sesuatu yang linier, dari konselor kepada klien, tetapi sebagai suatu sirkuler, yaitu diantara beberapa orang yang ada (keluarga dan konselor). Pandangan ini muncul sebagai perubahan dari kepribadian individu kepada konteks individu, dan dari konteks komunikasi kepada komunikasi tentang komunikasi (metakomunikasi). Dengan demikian, perspektif komunikasi muncul dari gerakan terapi keluarga, dan lebih berbeda dengan pendekatan-pendekatan lain dalam konseling, terutama dalam melihat prilaku, sebagaimana dijelaskan dalam riset-riset dalam relasi interpersonal dalam kelompok yang berlangsung secara terus menerus, dan sekaligus merepresentasikan adanya perubahan atau transisi dari psikologi dan psikiatri kepada ilmu pengetahuan sosial.

1. Latar Belakang Historis
Seperti pada profesi bantuan yang lain, terapi keluarga berkembang dalam rangka menjawab kebutuhan-kebutuhan sosial, seperti pada pera pekerja sosial, pendidikan kehidupan keluarga, bimbingan anak, dan pendidikan orang tua. Ditambahkan bahwa perspektif sosial mendapat sambutan populer di bidang ilmu kesehatan mental (kesehatan sosial) dan psikiatri, terutama setelah perang kedua seiring dengan banyaknya permasalahan sekitar keluarga.

Terapi keluarga dimulai pada awal tahun 1950-an, ketika kelompok Palo Alto (Bateson, dkk.) dengan teori komunikasi-keluarga memberikan suatu gambaran yang luas dan cemerlang tentang sejarah dan dasar-dasar konseptual tentang terapi keluarga. Dalam asumsinya, seluruh prilaku manusia dipandang sebagai komunikasi, dan kehidupan manusia dilihat sebagai suatu sistem dan bagian dari sistem yang lebih luas. Dalam teorinya ia juga mengajukan suatu pemahaman tentang komunikasi paradoksial sebagai komunikasi pada tingkat logikka yang berbeda atau logika model. Dijelaskan bahwa terdapat perbedaan antara pernyataan paradoksial (saya bohong) dan kualifikasi isi atau meta komunikasi (saya harap anda percaya dengan apa yang saya katakan). Ketika meta pernyataan dibuat dengan jelas, paradox ditransformasikan kedalam kontradiksi diantara tingkatan-tingkatan logika.

Pada awalnya, model logika tersebut diterapkan oleh kelompok Alto Plato dalam berbagai situasi (hunor dan film-film populer), kemudian bersama-sama dengan Jackson mulai menerapkannya dalam riset terhadap masalah-masalah klinis, yang hasil kertas kerjanya kemudian banyak didiskusikan dalam psikiatri. Kertas kerja tersebut dengan fokus kepada distorsi komunikasi dalam kleuarga, melalui teori ikatan ganda (doble-bind theory), yaitu bahwa komunikasi yang terdistorsi tercipta sebagai hasil dari respon terhadap pesan-pesan yang kontradiksi. Toeri ini kemudian banyak dijadikan dasar dalam penelitian-penelitian di bidang komunikasi, sistem keluarga, dan sistem sosial yang lebih luas.

2. Pendekatan
a. Orientasi
Dasar-dasar teori komunikasi adalah pendapat bahwa komunikasi dijelaskan dalam sifat-sifatnya sebagai suatu relasi, dimana individu berinterelasi melalui komunikasi, yang selanjutnya. Selain itu, komunikasi sendiri memiliki tingkatan makna yang berbeda.
Salah satu konsep fundamental lainnya adalah dari Haley yang menekankan tentang kekuatan peran dalam hubungan, terutama dalam kaitannya dengan keberfungsian keluarga sebagai organisasi.

b. Pembukaan
Tidak seperti dalam psikologi individual, konseling keluarga tidak secara khusus melibatkan individu tunggal, tetapi seluruh bagian dari sistem, dengan demikian masalah selalu dikonseptualisasikan sebagai hasil dari keterlibatan dari dua orang atau lebih. Adapun, strategi untuk memperoleh kekuatan dalam relasi terapeutik adalah melalui : (1) penggunaan tugas-tugas paradoksial (paradoxial tasks) dimana pada fase Pembukaan ssecara tidak langsung sudah mencerminakn perubahan, tetapi terapis mungkin tidak bertanya terhadap perubahan. Jika klien tidak mematuhan perubahan-perubahan, dapat mengijinkan orang lain untuk mengontrolnya atau dengan membuat aturan-aturan, namun bila ia mematuhi, maka berarti ia telah mereduksi simphtom-simphtomnya dan mungkin sudah memperoleh kembali kontrol terhadap dirinya sendiri, (2) interpretasi positif, dengan meredifinisikan prilaku simphtomatik keluarganya sehingga dapat dipahami.

c. Konseptualisasi
Problem individual adalah problem sistem atau lebih sebagai ketidakberfungsian organisasi keluarga dari pada disorganisasi kepribadian. Dengan demikian gejala individual dipandang sebagai respon penyesuaian dari pada irrasional atau maladaptif. Untuk memperoleh informasi, wawancara merupakan prosedur utamanya, dan dalam identifikasi untuk perubahan terdapat empat tahapan. Pada tahapan sosial, konselor mengobservasi interaksi keluarga dan meminta seluruh anggota keluarga untuk berpartisipasi. Dalam tahapan problem, konselor menanyakan kepada masing-masing anggota keluarga tentang masalahnya. Dalam tahap interaksi, konselor menstimulasi interaksi keluarga melalui tindakan-tindakan terapeutik, dan pada tahapan setting – tujuan, yaitu pencapaian keluarga ditanya tentang perubahan-perubahan yang diinginkan, namun tidak seperti dalam konteks behavioral yang melalui kontrak terapeutik.

d. Intervensi
Dalam pandangan sistem, fokus intervensi adalah perubahan-perubahan dalam struktur keluarga dan pola-pola interaksinya, dari pada perubahan persepsi, perasaan, atau prilaku seseorang. Strategi konselor dapat diorientasikan secara behavioral, menyeleksi metode yang akan dikerjakan, fokus kepada gejala-gejala, memberikan perhatian kepada dinamika keluarga, kesadaran, dan pemahaman. Karena masalah muncul saat ini dan dipelihara oleh prilaku dalam sistem keluarga saat ini, maka untuk merubah diperlukan intervensi terhadap proses keluarga secara terus menerus, dari pada melalui interpretasi peristiwa-peristiwa yang lalu. Adapun tekniknya dapat melalui : (1) hipnotis dan membingkai kembali, (2) paradoks, pengarahan langsung, dan tugas-tugas, serta (3) menstrukturkan kembali kekacauan yang terjadi.

e. Evaluasi
Dalam riset-riset konseling keluarga hendaknya mengggunakan sistem yang berbasis ideologidan teori-teori komunikasi interaksional, sehingga dapat diketahui perspektif interaksinya dan pengaruh-pengaruh timbal baliknya, yaitu bagaimana prilaku dari masing-masing orang berpengaruh dan bagaimana pengaruh prilaku seseorang terhadap masing-masing orang lain. Misal, yang telah dilakukan adalah melalui peneltian tentang pola-pola interaksi keluarga (Haley, 1964) atau melalui penerapan komunikasi transaksional sistem sandi dalam proses konseling (Lichtenberg dan Barke, 1981).

f. Pengembangan profesional
Dalam pengembangan profesional, salah satu cara yang ditawarkan oleh Haley (1976) dalam mengadopsi model interaksional adalah melalui belajar sambil melakukan (learning by doing). Artinya disamping dengan membaca sesi-sesi terapi keluarga, melihat pengajaran melalui videotape dan mendiskusikannya, mengikuti kuliah-kuliah dalam terapi keluarga, menulis naskah-naskah, juga diikuti dengan praktek langsung dibawah pengawasan supervisor.
Baca juga

No comments:

Post a Comment