Konsep Healing dalam Pendekatan Konseling

 Pendekatan-pendekatan dalam Konseling
Part 2


PENGANTAR
Konseling memiliki makna yang luas dan beragam. Namun, apa saja makna konseling dan apa yang melatarbelakanginya, sering kali sulit untuk dipahami dan dicari dalam literatur. Sebab, banyak penulis lebih senang membahas tentang teori-teori konseling dan pendekatan-pendekatannya. Pembahasan berikut ini merupakan dikutip dari buku yang berjudul : Psychology Counseling: Perspectives and Functions, karya Gerald L. Stone tahun 1985, dimana kajian psikologi konseling dapat diurutkan pembahasannya yang meliputi : membimbing, menyembuhkan, memfasilitasi, memodifikasi, merestrukturisasi, mengembangkan, mempengaruhi, mengkomunikasikan, dan mengorganisasikan. Masing-masing dibahas berdasarkan perspektif latar belakang historis dan pendekatannya berdasar atas fungsi konseling.


B. Menyembuhkan (healing) / Pendekatan Psikodinamika
1. Latar Belakang Historis
Dalam psikologi konseling, perspektif modern tentang penyembuhan berakar dalam beberapa tradisi sejarah yang mendasari psikoterapi dinamik, khususnya tradisi spiritual dan ilmiah.
Dalam tradisi spiritual, penderitaan manusia disebabkan oleh kerasukan psiritual, sehingga bentuk-bentuk tritmennya dilakukan dengan meminjam dari masyarakat primitif, diantaranya adalah melalui : (1) exorcism atau pengusiran roh jahat, dan (2) pengobatan jiwa yang dilakukan melalui pengakuan dosa sebagaimana tradisi dalam komunitas protestan, suatu pertanda penting lain dari psikoterapi dinamik.

Dalam tradisi ilmiah ditandai dengan digunakannya metode hipnotisme sebagai metode penyembuhan, sedangkan dalam psikoterapi dinamik yang diawali dengan praktek-praktek penyembuhan terhadap pasien neruroses, yaitu penderita histeria dan neurathenia yang dipelopori oleh Freud, yang dalam konteks konseling kemudian diadaptasi dalam bentuk psikoterapi singkat (brief psychoterapy) dan konseling psikoanalitik.

2. Pendekatan
a. Orientasi
Walaupun penggunaaan psikodinamik dan psikoanalisis dapat dipertukarkan, tetapi keduanya berbeda. Secara konseptual, psikodinamik menrujuk kepada beberapa pendekatan psikologis yang berusaha untuk menjelaskan prilaku dalam istilah motif dan dorongan-dorongan (drives), sedangkan psikoanalisis hanya satu dari sistem tersebut.

Ajaran psikoanalisis Freud tidak lepas dari pengaruh Breuer dalam menangani penderita histeria melalui hipnosis, dengan membuat pasien mengalami kembali ingatan dan perasaan sakit yang dilupakan (diprepresi) dalam alam ketidaksadarannya. Namun karena sulit diterapkan, Freud mengembangkan metode langsung (interpretasi) melalui asosiasi bebas, interpretasi mimpi, dan transferen.

Dalam teorinya, Freud menggambarkan bahwa represi berhubungan dengan alam ketidaksadaran, sesuai pandangannya tentang topografi (alam ketidaksadaran, pra sadar, dan kesadaran). Ketika ia bicara tentang relasi antara dorongan-dorongan dunia dalam, ia memasukkan dorongan-dorongan pemeliharaan diri (self preservation), sex (eros), agresi (thanatos), dan lingkungan eksternal. Freud juga membedakan kehidupan mental dalam ego, super ego, dan id dan ketika ia membicarakan tentang regulasi kekuatan fisik, ia menjelaskannya melalui prinsip kepuasan/ketidakpuasan. Ketika ia bicara tentang perbedaan fungsi mental, ia mengunakan istilah proses primer dan sekunder. Ketika bicara tentang perkembangan ia menjellaskan melalui makna psikoseksual pada awal kehidupan dan proses sosialisasi. Ketika ia bicara tentang seksualitas, ia menngunakan konsep teori libido dan daerah erotogenetik, dan ketika bicara tentang neurosis ia menjelaskannya melalui kecemasan dan mekanisme pertahanan diri, dan yang lainnya.

Mann (1973) telah mendiskusikan beberapa konsep psikoanalisa dalam istilah umum psikoterapi singkat (brief psychotherapy). Ciri utama pendekatan ini : waktu dan tujuan terbatas. Tujuan ditekankan dalam istilah psikodinamik, melalui penjelasan dalam istilah-istilah yang mudah dihubungkan dengan perasaan dan pengalaman klien, sebagai refleksi empat konflik dasar, yaitu : ketergantungan vs kemandirian, aktif vs pasif, kepercayaan diri yang adekuat vs kepercayaan diri yang kurang, serta kesedihan yang terpecahkan. Pendekatan Mann tersebut telah diterapkan oleh para konselor dalam konseling, terutama untuk tujuan pengembangan. Melalui psikoterapi singkat tersebut, berarti bahwa fungsi konseling telah dijelaskan dalam istilah konsep-konsep psikoanalisa.

b. Pembukaan
Pergerakan dari hipnosis ke asosiasi bebas, menjadikan terapis secara meningkat pasif. Sikap pasif ini penting pada awal perkembangan psikoanalisis, sebab hanya dengan pasif psikoterapi dapat dilakukan dengan tepat. Di lain pihak, muncul beberapa bentuk terapi dinamik, seperti pada psikoterapi singkat, yang menuntut peran aktif terapis, terutama pada fase awal. Seperti pada saat mendiskusikan rencana tritmen serta dalam asesmen dengan mendiskusikan problem mereka saat ini, masa lalunya, fantasi-fantasinya, dan rahasia-rahasia perasaannya. Dalam menegaskan waktu dan mengklarifikasi masalah, terapis juga secara aktif mendorong klien dengan pernyataan tulus dan asspek-aspek positif lain dari masa lalu klien dalam upaya memecahkan masalah-masalah dalam perkembangannya. Kondisi ini sekaligus akan menstimulasi harapan-harapan positif klien, sehingga dapat lebih berpartisipasi secara aktif. Dengan demikian, penggunaan metode singkat berdasar teori psikoanalisa memungkinkan terjadinya reaksi-reaksi pengalaman positif pada diri klien menuju terjadinya koreksi terhadap pengalaman-pengalamannya.

c. Konseptualisasi
Inti dari psikoterapi singkat adalah mengidentifikasi masalah utama klien. Terapis mendorong klien untuk berbicara, mengungkapkan konflik-konflik ketidaksadarannya, dan informasi lain yang terkait dengan konsep psikoanalisa untuk menentukan pikiran, perkembangan kepribadian, dan ekspresi dirinya. Salah satunya melalui metode asosiasi bebas. Dengan memberikan perhatian terhadap ekspresi perasaannya serta alasan-alasan klien dalam mencari bantuan, akan menjadikan perasaan dan fantasi-fantasinya dapat diperoleh. Sesudah informasi-informasi yang relavan diperoleh, tema dalam psikoanalisa selalu dimulai dengan mengkomunikasikan pengalaman masa lalu yang tersisa dan aktif di masa kini, sehingga dapat dikoreksi.

d. Intervensi
Dalam psikoterapi singkat, tiga sesi pertama dari empat sesi yang ada, peran terapis adalah mendorong dinamika pada diri klien, dan setelah itu perasaan-perasaan positif klien dan terbebas dari gejala-gejala, mulai memudar dan menghilang.

Penting bagi terapis adalah membawa perasaan-perasaan yang dialami pada masa awal kehidupan ke dalam alam kesadaran, sehingga klien dapat mulai merasakan dan mengetahuinya apa yang terjadi pada masa lalu dan membawanya ke dalam cara-cara saat ini yang lebih adaptif. Untuk mendorong pengekspresian pengalaman masa lalunya tersebut, terapis dapat menggunakan relasi therapeutik, serta metode asosiasi bebas dan interpretasi.

e. Evaluasi
Dalam perspektif penyembuhan, metode studi kasus telah memberikan makna utama bagi substansi proposisi teoritik. Metode ini termasuk pengumpulan sejumlah besar penjelasan materi dari seseorang dan penolakan deskripsi dehumanisasi. Selama psikoterapi, observasi terhadap pasien harus dicatat.

Salah satu ahli yang banyak melakukan evaluasi melalui studi kasus dalam psikoterapi adalah Marlan. Dalam strategi evaluasinya, Marlan menekankan kepada : (1) penggunakan pendekatan studi kasus, (2) fokus kepada pertimbangan klinis, dan (3) menggunakan teori psikoanalitik dalam menjelaskan variabel-variabel seleksi, metode, dan hasil-hasilnya.

f. Pengembangan profesional
Sekalipun metode pelatihan bagi praktisi psikoterapeutik bermacam-macam, namun kebanyakan setuju tentang pentingnya pengalaman therapeutik pribadi dan supervisi psikoterapeutik. Pengalaman therapeutik dianggap penting karena dipercayai bahwa trainee dapat mengapresiasi dan bekerja dengan dinamika dan proses ketidaksadaran dari orang lain, hanya kalau ia telah bekerja dengan dirinya sendiri, memiliki pengalaman terhadap konflik-konfliknya, terbebas dari prilaku-prilaku kekalahan diri (self-defeating), dan memiliki pengalaman dalam memecahkannya. Dengan demikian trainee harus menjadi ”klien” dan sebagai therapis bagi dirinya sendiri, sehingga ia akan memperoleh pemahaman baru metode terapeutik melalui identifikasinya kepada terapis, dalam menemukan ketidaksadaran mereka dan dalam memecahkan konflik-konflik mereka. Sedangkan supervisi therapeutik dimaksudkan untuk memahami kemungkinan terjadinya bias-bias dalam terapeutik dan dalam rangka menstimulasi proses-proses perubahan dalam relasi antara terapis dengan klien.

Pada akhirnya disimpulkan bahwa dalam penyembuhan, fungsi konseling dalam Pembukaan adalah pentingnyaa memperhatikan variabel-variabel relasional dan pengaruh-pengaruh sosial, dalam konseptualisasi perlunya asesmen dalam rangka amemahami konflik-konflik ketidaksadaran, dalam intervensi perlunya penggunaan psikoterapi individual, dalam evaluasi perlunya digunakan studi kasus sebagai bukti, dan dalam pengembangan profesional pentingnya pembelajaran pribadi melalui supervisi.

No comments for "Konsep Healing dalam Pendekatan Konseling"

Berlangganan via Email