Pendekatan-pendekatan dalam Konseling Part 1

 Pendekatan-pendekatan dalam Konseling
 Part 1


PENGANTAR
Konseling memiliki makna yang luas dan beragam. Namun, apa saja makna konseling dan apa yang melatarbelakanginya, sering kali sulit untuk dipahami dan dicari dalam literatur. Sebab, banyak penulis lebih senang membahas tentang teori-teori konseling dan pendekatan-pendekatannya. Pembahasan berikut ini merupakan dikutip dari buku yang berjudul : Psychology Counseling: Perspectives and Functions, karya Gerald L. Stone tahun 1985, dimana kajian psikologi konseling dapat diurutkan pembahasannya yang meliputi : membimbing, menyembuhkan, memfasilitasi, memodifikasi, merestrukturisasi, mengembangkan, mempengaruhi, mengkomunikasikan, dan mengorganisasikan. Masing-masing dibahas berdasarkan perspektif latar belakang historis dan pendekatannya berdasar atas fungsi konseling.


A. Memandu (guiding)
Memandu bukanlah paksaan, yang berarti mengabaikan perasaan atau terlalu mengendalikan pandangan-padangan individu. Tetapi lebih kepada merefleksikan secara pasif pandangan-pandangan individu. Dalam perspektif pendidikan, memandu berarti menyelesaikan suatu masalah yang ada dalam diri seseorang atau secara potensial ada dalam diri seseorang, melalui sumber-sumber eksternal. Tetapi bukan merupakan paksaan eksternal atau paksaan yang muncul karena ada penolakan konselor. Namun, lebih sebagai hasil yang dibuat melalui kontak dengan dunia dalam klien itu sendiri. Dengan demikian memandu bukan menghalangi kebutuhan pengajaran atau informasi, tetapi sumber-sumber eksternal tersebut merupakan bagian dari suatu pertukaran pandangan antara konselor dengan klien menuju kepada pemahaman bersama, resolusi masalah, dan mengejar keunggulan.


1. Latar Belakang Historis
Dalam sejarah manusia, beberapa orang telah memahami pentingnya kerja sama untuk melindungi kepentingan umum dan penyesuaian, dan sering direalisasikan dengan mencari petunjuk dan nasehat dari orang lain. Sampai akhir abad 19, nasehat tersebut diberikan dalam konteks religi. Namun, dalam akhir abad 19 terjadi dua gerakan di bidang kebudayaan dan ideologi. Kombinasi dua gerakan ini yang kemudian mendorong meluasnya dan sekularisasi fungsi bimbingan, sehingga bimbingan dikenal sebagai fenomena abad 20. Hal ini tidak lepas dengan terjadinya industrialisasi yang kemudian melahirkan berbagai perubahan sosial dan kebutuhan, seperti perubahan dalam hubungan kekeluargaan, munculnya pekerjaan baru dan perlunya pelatihan-pelatihan, kebutuhan untuk memahami adat istiadat dan keterampilan baru bagi kaum pendatang, dsb. Yang kemudian melahirkan reformasi di bidang ideologi, termasuk demokratisasi.

Kondisi di atas, kemudian berpengaruh terhadap perkembangan bimbingan. Seperti dimulai dengan pandangan Joh Dewey (1916) dengan filosofi pragmatisnya dan penekanan tentang peran sekolah sebagai penyiapan anak untuk berpartisipasi dalam masyarakat, Frank Parsons dengan gerakan bimbingannya di USA, yang dalam bukunya Choosing a vocation, ia menekankan bahwa ditinjau dari perspektif bimbingan, terdapat tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih pekerjaan, yaitu : satu dari beberapa pendekatan dalam perspektif bimbingan, yaitu : (1) pahami dengan jelas diri anda sendiri, bakat, kemampuan, minat, ambisi, sumber-sumber, dan keterbatasan, serta penyebabnya (2) pengetahuan yang diperlukan dan kondisi sukses, keuntungan dan kerugiannya dan ketidakcukupan, kompensasi, kesempatan, dan prospek dalam pekerjaan yang berbeda, dan (3) gunakan alasan yang benar dalam menghubungankan dua kelompok faktor tersebut.

Pandangan Parson tersebut di bidang bimbingan tersebut semakin kokoh dengan lahirnya dua tradisi, yaitu tradisi psikometrik sebagai pengukuran ilmiah terhadap kemampuan individu, seperti tes inteligensi dari Binet dan koleganya, serta tradisi bimbingan vokasional, yang awalnya menekankan kepada pendidikan vokasional, terutama melalui informasi vokasional dan nasehat.

Sejak ditekankannya penilaian individu dan dieseminasi informasi vokasional oleh Parson di atas, menjadikan orang-orang mudah memahami mengapa orang menerima konseling sebagai suatu yang lebih bersifat direktif, testing oriented, dan informasi yang diberikan. Secara historis, karena waktu itu tes psikologis masing kurang dan kurangnya minat dalam hal tersebut, sehingga lebih banyak menekankan kepada infromasi pekrerjaan dari pada penilaian individual, dan sejak tahun 1930-an kaum psikolog, masuk kembali dalam lapangan tersebut dan menerapkan prosedur-prosedur ilmiah dan klinikal, yang dikenal dengan reformulasi psikologis dari bimbingan. Seperti Vitales yang menerapkan bimbingan sebagai metode psikologis baru dan teknik klinikal baru, kepedulian Patterson untuk menerapkan psikologi differential-nya dalam bidang vokasional, maupun konseling pendidikan dan vokasional, serta E.G. Williamson yang mengintegrasikan teknologi dari differential psikologi dan teknik-teknik klinikal, yang kemudian ditempatkan sebagai suatu dasar ilmiah dan redifinisi bimbingan vokasional sebagai konseling.

2. Pendekatan
a. Orientasi
Melalui keterampilan dalam pemecahan masalah, klien diharapkan mampu menerapkan metode ilmiah dalam belajar tentang dirinya sendiri dan masyarakatnya. Mampu memiliki pengalaman dan keterampilan berkaitan dengan masa depan dan berkontribusi terhadap pertumbuhannya sebagai maklhuk sosial. Sebagai suatu perspektif yang menekankan pada aspek problem solving sebagai proses konseling, terutama telah diterapkan berkenaan dengan pendidikan dan vokasional.

Dalam aplikasinya, penerapan model Parson dengan mengelaborasi trait dan factor sebagai upaya mencocokkan individu dan lingkungan melalui prosedur ilmiah dalam memperoleh informasi tentang perbedaan individu, sebagai pendekatan utama dalam perspektif bimbingan, telah menjelaskan tentang telah digunakannya metode tersebut sebagai metode utama dalam bimbingan yang berorientasi konseling. Menurut Williamson mengemukakan tentang 6 tahap metode konseling, yaitu : (1) analisis, (2) sintesis, (3) diagnosis, (4) prognosis, (5) konseling, dan (6) tindak lanjut.

b. Pembukaan
Dalam pengembangan relasi konseling, problem solving dilakukan oleh konselor dengan fokus untuk meningkatkan klien untuk belajar. Dalam konteks ini peran konselor adalh sebagai pendidik, tetapi bukan dalam pengertian memberikan jawaban-jawaban pada klien, seperti di kelas.

Pengajaran maupun konseling yang efektif, keduanya bergantung kepada hubungan personal antara guru dan siswa. Dalam relasi ini, belajar klien untuk meningkatkan perhatian terhadap informasi, kepercayaan diri, dan komitmen terhadap tugas-tugas konseling. Sebagai hubungan personal, konselor sebagai pendidik berperan untuk meningkatkan pemahaman diri dengan mengajarkan keterampilan dalam pembuatan keputusan, termasuk dalam memperoleh informasi yang valid, serta mengimplementasikannya strategi problem solving. Dengan kata lain, mengajarkan klien untuk belajar bagaimana menjadi seorang ilmuwan.

Dalam relasi konseling juga terdapat pengaruh interpersonal. Dengan keahliannya konselor dituntut untuk menggunakan pengaruhnya dalam memelihara hubungan baik, mereduksi kecemasan, dan memotivasi klien untuk berjuang mencapai keunggulan dengan menemukan alternatif pandangan klien guna mencapai kehidupan yang baik yang sepenuhnya dilakukan melalui penggunaan kemampuan yang dimilikinya. Penggunaan problem solving oleh konselor, juga berarti penggunaan metode ilmiah.

Bertemunya faktor-faktor hubungan baik, pengaruh, dan keterampilan problem solving – merupakan layanan-layanan untuk membentuk hubungan konseling.

c. Konseptualisasi
Secara tradisional bimbingan konseling telah menekankan kepada fungsi konseptualisasi, yang merupakan aktivitas asesmen atau dalam istilah Williamson: diferential diagnosis. Dalam konseling trait dan factor, diagnosis tidak dilakukan melalui pendekatan medis tetapi lebih kepada tradisi problem solving, serta tidak hanya berdasar data hasil tes tetapi juga informasi klinikal seperti nilai-nilai pribadi dan strategi problem solving berdasarkan evaluasi diri dan observasinya terhadap orang lain dalam rangka memperoleh gambaran yang utuh dari klien.

Walaupun konselor trait dan faktor lebih dari tester, namun yang utama dalam pendekatan ini adalah menggunakan informasi perbandingan sosial dalam pengumpulan data, seperti penggunaan tes-tes minat vokasional, inventori kepribadian, dan sebagainya. Strategi perbandingan sosial tersebut menekankan pentingnya faktor-faktor sosial dan budaya dalam rangka membantu pemahaman diri klien yang lebih luas.

d. Intervensi
Dalam bimbingan dan konseling, wawancara pembuatan keputusan merupakan proses yang utama. Ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan informasi, mengevaluasi kemajuan, mengajarkan keterampilan problem solving, membicarakan masalahnya, atau memfasilitasi perkembangan potensinya. Termasuk dalam intervensi adalah membangun hubungan, pengaruh interpersonal, dan diagnosis. Hal utama lainya, adalah bagaimana membantu dalam evaluasi diri, meningkatkan keterampilan dalam pemahaman diri dan mengganti penilaian diri yang salah, atau misalnya dengan memunculkan kesadarannya, latihan asertif, dan sebagainya sehingga klien akhirnya dapat menjadi pribadi yang ilmuwan.


e. Evaluasi
Konseling trait dan faktor terus berlanjut dan diikuti dengan penelitian-penelitian dan ini merupakan fungsi penting dari konseling. Dalam riset tersebut, menekankan pentingnya variasi alamiah yang muncul diantara individu-individu dan kelompok-kelompok. Sedangkan dalam konteks edukasional-vakasional,variabel jamak, data perbandingan sosial, dan metodologi korelasional tampaknya merupakan unsur utama yang diteliti dalam pendekatan trait dan faktor.

f. Pengembangan profesional
Secara historis, Patterson dan yang lain telah banyak melakukan upaya untuk mengubah pelatihan bagi pekerja bimbingan ke dalam pelatihan psikolog dan transformasi ini telah mendatangkan beberapa konsekuensi, meliputi : (1) pergerseran fokus dari teknik ke filosofi dan penelitian. Filosofi ini telah mengarahkan kepada isu-isu tentang nilai serta hubungan antara metode dan tujuan; (2) refleksi kurikulum, terutama terhadap kebutuhan konselor terhadap desain penelitian, pengukuran, teori psikologis dan riset, filosofi keilmuan, dan psikologi vokasional; dan (3) pengembangan program terapan, seperti pembukaan program psikologi konseling dan jurusan psikologi dengan program umum teori, komparasi, bidang-bidang eksperimental. Termasuk kekhususan di bidang personel psikologi, psikologi vokasional, konseling vokasional dan edukasional, tes dan pengukuran, serta perbedaan dari program yang lain sepertipsikologi klinis yang menekankan kepada psikologi abnormal, psikodinamik, dan psikiatri.

Pada akhirnya disimpulkan bahwa dalam konteks memandu, fungsi konseling dalam fungsi Pembukaan dicirikan dengan adanya variabel-variabel relationship dan pengaruh sosial sebagai tambahan dalam aspek edukasional dan ilmiah, dalam fungsi konseptualisasi menekankan kepada penggunaan prosedur ilmiah guna memperoleh informasi sosial secara valid, dalam intervensi, konseling sama dengan pengajaran dengan fokus kepada keetrampilan problem solving, dan dalam pengembangan profesi, direkomenadsikan perlunya pendidikan ilmiah dalam psikologi dan pengalaman praktek.

No comments for " Pendekatan-pendekatan dalam Konseling Part 1"

Berlangganan via Email