Contoh Membuat Integrasi Data Kasus - Psikolog Sekolah

Latest

Monday, July 1, 2019

Contoh Membuat Integrasi Data Kasus

Contoh Membuat Integrasi Data Kasus
"Khusus pada Anak yang mengalami Slow Learner"







INTEGRASI DATA
A.    Kognitif
Secara intelektual Subjek memiliki kemampuan kognitif yang rendah dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya. Hal tersebut ditandai dengan hasil ujian tengah semester subjek yang mana semua mata pelajaran di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) kelas. Laporan nilai UTS subjek memperlihatkan rata-rata 45.14 dari nilai KKM 70.00. Hasil tersebut membuat subjek berada pada rangking 32 sdari 32 siswa. Adapun pencapaian akademik subjek saat SD dari kelas 1 sampai kelas 6 berdasarkan buku laporan hasil belajar, nilai rata-rata yang diperoleh subjek berkisar antara 59.2 sampai 76. Bahkan, subjek pernah tinggal kelas ketika subjek duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Ketika subjek pindah ke sekolah yang lain, subjek tetap memperlihatkan kemampuan intelektual yang berada di bawah dari kemampuan intelektual teman-teman kelas subjek.
Subjek juga mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran yang diberikan oleh guru. Kesulitan subjek memahami materi ditandai dengan kesulitan subjek memahami sebuah bacaan atau cerita dan kesulitan memahami instruksi mengenai tugas yang akan dikerjakan. Hal tersebut membuat subjek harus mendapatkan penjelasan materi atau tugas lebih dari dua kali. Kesulitan dalam memahami instruksi atau penjelasan mengenai tugas dari sang guru juga membuat subjek sulit untuk memulai dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Subjek selalu mengumpulkan tugas paling akhir dibanding teman-teman yang lain di kelas.


B.    Emosi
Subjek merasa sayang kepada kedua orangtuanya, namun subjek merasa sedih ketika kedua orangtuanya memutuskan untuk berpisah. Kesedihan tersebut disebabkan subjek merasa tidak memiliki orangtua yang utuh seperti teman yang lain. Kondisi kedua orangtua subjek yang berpisah membuat subjek merasakan kurang kasih sayang dan pendampingan saat belajar dari seorang ibu, karena sang ibu harus mencari nafkah demi subjek, nenek, dan kakak subjek.


C.    Sosial
Kemampuan sosial subjek dengan teman sebaya dapat digambarkan dengan keseharian subjek di dalam kelas yang selalu bersama dengan tiga orang temannya, dan ketika berada di luar kelas saat istirahat subjek juga terlihat selalu bersama dengan sekumpulan teman-teman laki-laki, baik teman yang berasal dari kelas yang sama maupun dari kelas yang berbeda. Di rumah subjek juga memperlihatkan kemampuan sosial dengan selalu bersama dua orang temannya di rumah. Di sisi lain, subjek memiliki hubungan yang tidak dekat dengan guru-guru karena perilaku subjek yang sering membuat keributan, seperti main dan berbicara di dalam kelas.

D.    Psikomotorik
Saat menulis subjek memperlihatkan kemampuan motoriknya dengan menulis setiap huruf dengan ukuran yang kecil dan saling berdekatan. Pada setiap kalimat yang ditulis subjek terdapat kata-kata yang tidak sempurna. Ada kata yang pada bagian akhir hurufnya tidak ada atau huruf bagian tengah pada kata tersebut yang hilang. Adapun cara subjek memegang ballpoint adalah dengan memiringkan posisi ballpoint dan menekuk ujung bawah ballpoint dengan jari telunjuk dan ibu jari subjek.

E.    Perilaku
Di rumah, subjek banyak menghabiskan waktunya di luar rumah dengan bermain bersama teman dan menonton televisi. Jika subjek disuruh oleh nenek dan kakak untuk belajar, subjek sangat sulit melakukan hal tersebut. Subjek lebih memilih untuk pergi keluar rumah bermain dan nonton televisi dibandingkan belajar di rumah.
Di sekolah, subjek menunjukkan perilaku suka main di kelas, suka berbicara di dalam kelas saat guru menjelaskan, makan di dalam kelas, dan subjek kurang memperhatikan penjelasan guru di kelas. Subjek tidak mampu fokus terhadap suatu penjelasan dalam rentang waktu yang lama. Saat diberikan tugas subjek mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas tersebut. Perilaku-perilaku subjek tersebut membuat sang guru selalu menegur subjek di kelas, namun respon subjek yang diam saat ditegur hanya bertahan selama guru melihat subjek, dan setelah guru berbalik badan, subjek kembali bermain atau berbicara dengan temannya.

G.    Konsep Diri
Secara akademik, subjek memiliki konsep diri yang baik karena subjek mampu memahami apa yang menjadi kelemahan-kelamahan diri subjek dan apa yang menjadi kelebihannya. Adapun kelemahan yang diakui oleh subjek adalah sulit mengerjakan soal matematika dengan rumus yang kompleks dan subjek merasa mudah saat dihadapkan dengan materi-materi pelajaran bahasa Jawa. Subjek juga sudah mampu menjelaskan cita-cita yang ingin dicapainya kelak. Sekarang subjek memiliki cita-cita ingin menjadi pembalap, bahkan sekarang subjek sudah mulai mencoba mengendarai motor di sawah dekat rumah subjek demi mewujudkan cita-citanya tersebut. Adapun konsep diri subjek secara sosial adalah merasa mudah bergaul dengan teman-teman di kelas, khususnya bersama dengan ketiga teman dekat subjek.

H.    Kemandirian
Kondisi sang ibu dan nenek yang harus bekerja di siang hari membuat subjek harus mampu mengurus diri seorang diri jika berada di rumah. Setiap pulang sekolah subjek selalu mengolah sendiri lauk yang akan dimakannya, seperti menggoreng tahu. Aktivitas tersebut hampir setiap hari dilakukan oleh subjek ketika pulang dari sekolah.
Setiap pagi ketika ingin berangkat ke sekolah, subjek diantar oleh sang ibu ke sekolah. Namun ketika pulang sekolah subjek akan pulang sendiri ke rumah berjalan kaki dengan jarak tempuh antara sekolah dan rumah subjek adalah 2 km.
Baca juga

No comments:

Post a Comment