Teori Psikologi: Faktor dan Dampak Bullying

Teori Psikologi: Faktor dan Dampak Bullying



Maraknya beberapa kasus bullying dipicu oleh belum adanya kesamaan persepsi antara pihak sekolaj, orangtua, maupun masyarakat dalam melihat pentingnya permasalahan bullying serta penanganannya. Kondisi tersebut diperkuat lagi dengan belum adanya kebijakan secara menyeluruh dari pihak pemerintah dalam rangka menanganinya.
Ketika membahas mengenai bullying maka akan erat kaitannya dengan sekolah dimana menjadi salah satu tempat bullying menjamur. Adapun karakteristik sekolah yang mudah ditemukan kasus bullying adalah sebagai berikut:
1. Sekolah yang terdapat perilaku deskriminatif yang dilakukan kalangan guru dan siswa.
2. Sekolah yang memiliki pengawasan dan bimbingan etika. Biasanya pengawasan dan bimbingan etika di lakukan oleh guru dan satpam.
3. Sekolah dengan kesenjangan antara siswa kaya dan miskin.
4. Sekolah yang memiliki kedisiplinan yang sangat kaku atau yang terlalu lemah.
5. Sekolah yang memiliki peraturan tidak konsisten.

Karakteristik tersebut mencerminkan bahwa bullying adalah masalah penting yang dapat terjadi di setiap sekolah jika di sekolah tersebut tidak tercipta hubungan sosial yang  akrab  oleh  sekolah terhadap  komunitasnya, yakni murid,  staf,  masyarakat   sekitar, dan   orangtua   siswa. Oleh karena itu dapat diasumsikan bahwa bullying terjadi karena disebabkan antara lain:
1. Perbedaan kelas (senioritas), ekonomi, agama, gender, etnis.
2. Tradisi senioritas.
3. Keluarga yang tidak rukun.
4. Situasi sekolah yang tidak harmonis atau deskriminatif.
5. Karakter individu atau kelompok, seperti:
a. Dendam atau iri hati,
b. Adanya semangat ingin menguasai korban dengan kekuatan fisik dan daya tarik seksual, dan
c. Untuk meningkatkan popularitas pelaku di kalangan teman sepermainan (peer group).
6. Persepsi nilai yang salah atas perilaku korban.
Selain lingkungan atau tempat umum yang berpotensi sebagai tempat terjadinya perilaku bullying yaitu di halaman sekolah, di kamar mandi sekolah, di warung/kantin sekolah, dan sepanjang jalan.wilayah antara sekolah dan rumah (jalan, taman, bus, mal, dan pasar) (Astuti, 2008).


Dampak Bullying
SEJIWA (2008) memaparkan contoh gejala-gejala dampak bullying yang dialami oleh anak di sekolah:
1. Mengurung diri (school fobia),
2. Menangis,
3. Minta pindah sekolah,
4. Konsentrasi anak berkurang,
5. Prestasi belajar menurun,
6. Tidak mau bermain/bersosialisasi,
7. Suka membawa barang-barang tertentu (sesuai yang diminta oleh pelaku “bully”),
8. Anak jadi penakut,
9. Marah-marah/uring-uringan,
10. Gelisah,
11. Menagis,
12. Berbohong,
13. Melakukan perilaku bullying terhadap orang lain,
14. Memar/lebam-lebam,
15. Tidak bersemangat,
16. Menjadi pendiam,
17. Mudah sensitif,
18. Menjadi rendah diri,
19. Menyendiri,
20. Menjadi kasar dan dendam,
21. Ngompol,
22. Berkeringat dingin,
23. Tidak percaya diri,
24. Mudah cemas,
25. Cengeng (untuk yang masih kecil),
26. Mimpi buruk, dan
27. Mudah tersinggung.

Astuti (2008) juga memaparkan dampak yang dapat dijadikan gejala pada anak yang diindikasikan menjadi korban bullying, antara lain:
1. Anak malas pergi ke sekolah, sehingga sering tidak masuk sekolah atau terlambat ke sekolah.
2. Anak menunjukkan gejala kekhawatiran yang membuat anak sakit panas, mengigau, pusing, sakit perut, terutama di pagi hari menjelang berangkat sekolah,
3. Anak pulang sekolah dengan buku dan baju kotor atau barang-barang pribadi rusak dan hilang.
4. Anak terlihat tidak sabar dan sering meminta sejumlah uang.
5.Perilaku anak mencurigakan termasuk menelepon dengan rasa gusar atau cemas, berbisik, marah, dan menolak mengatakan apa pun jika ditanyai.
6. Anak terlihat cemas, sedih, mengancam bahkan ada upaya bunuh diri;
7. Anak mulai mengerjakan suatu hal yang tidak biasa dikerjakan atau aneh, seperti mencuri atau menyembunyikan sesuatu.


Sumber:
MODUL PELATIHAN
“ANTI BULLYING”

REZKI SUCI QAMARIA (2015)

No comments for "Teori Psikologi: Faktor dan Dampak Bullying"

Berlangganan via Email