Teori Psikologi: Proses Resiliensi Individu

Teori Psikologi: Proses Resiliensi Individu


Tugade dan Fredrickson (2004) menjelaskan bahwa kemampuan untuk melanjutkan hidup setelah ditimpa kemalangan atau setelah mengalami tekanan yang berat dikenal dengan istilah resiliensi. Menurut Reivich dan Shatte (2002), resiliensi adalah kapasitas untuk merespon secara sehat dan produktif ketika menghadapi kesulitan atau trauma, dimana hal itu penting untuk mengelola tekanan hidup sehari-hari. Resiliensi merupakan seperangkat pikiran yang memungkinkan untuk mencari pengalaman baru dan memandang kehidupan sebagai sebuah kemajuan. Resiliensi menghasilkan dan mempertahankan sikap positif untuk digali. Individu dengan resiliensi yang baik memahami bahwa kesalahan bukanlah akhir dari segalanya. Individu mengambil makna dari kesalahan dan menggunakan pengetahuan untuk meraih sesuatu yang lebih tinggi. Individu mengasah dirinya dan memecahkan persoalan dengan bijaksana, dan energik. Desmita (2005) juga menambahkan bahwa resiliensi adalah kondisi dimana individu berhasil menyesuaikan diri dalam berhadapan dengan kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan, perkembangan sosial, akademis, dan bahkan dengan tekanan hebat yang melekat dalam dunia sekarang sekalipun. Jadi, bisa disimpulkan bahwa resiliensi merupakan kemampuan atau kapasitas individu dalam mengatasi dan bangkit masalah yang dihadapinya dan akhirnya mampu menjalani kehidupannya secara optimal.
Resiliensi pada individu yang mengalami kecacatan pasca kecelakaan adalah kemampuan untuk menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan, bangkit dan menerima keadaan dirinya dan menjalankan kehidupannya dengan baik (Anggraeni, 2008).
Reivich dan Shatte (2002) merumuskan bahwa untuk dapat menjadi individu yang resiliensi diperlukan tujuh kemampuan. Kemampuan-kemampuan tersebut adalah emotional regulation, impuls control, optimism, causal analysis, emphathy, self-efficacy dan reaching out. Pertama, emotional regulation adalah kemampuan untuk bersikap dan berperilaku tenang dalam kondisi yang penuh dengan tekanan. Kedua, impulse control yaitu kemampuan individu untuk mengendalikan keinginan, dorongan, serta tekanan yang ada dalam dirinya. Ketiga, optimism merupakan energi yang berupa harapan-harapan individu terhadap masa depannya dan kemampuan untuk mengarahkan hidup sesuai yang diinginkan. Keempat, emphaty menggambarkan kemampuan individu dalam membaca memahami kondisi orang lain khusunya kondisi psikologis dan emosional individu. Kelima, causal analysis merupakan kemampuan individu secara akurat mengidentifikasi atau menemukan penyebab dari sebuah permaasalah yang dihadapi. Keenam, self-efficacy menggambarkan bahwa  keyakinan individu dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya dan kelak akan mencapai kesuksesan dan ketujuh, reaching out adalah kepekaan individu untuk melihat masalah sebagai tantangan dan beranggapan bahwa masalah tersebut bukan ancaman dalam mencapai sebuah keberhasilan hidup.
Grothberg (1995) mengemukakan ada tiga kemampuan atau tiga faktor yang membentuk resiliensi. Pada dukungan eksternal dan sumber-sumbernya, digunakan istilah I Have. Untuk kekuatan individu, dalam diri pribadi digunakan istilah I Am, sedangkan untuk kemampuan interpersonal digunakan istilah I Can.
Pertama, I Have merupakan bantuan dan sumber dari luar yang meningkatkan resiliensi. Faktor ini meliputi, mempercayai sebuah hubungan, struktur dan Aturan di rumah, memiliki model-model Peran sebagai sumber inspirasi, memiliki dorongan untuk menjadi mandiri, dan mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan dari lingkungan di sekitar.
Kedua, I Am merupakan sumber kekuatan yang berasal dari dalam diri sendiri. Kekuatan tersebut meliputi kemampuan mencintai dn kebutuhan untuk dicinta, memiliki empati, altruisem, bangga dengan diri sendiri, mandiri dan bertanggung jawab, memiliki harapan, keyakinan, dan kepercayaan dengan kemampuan dirinya sendiri.
Ketiga, I Can adalah kemampuan yang dimiliki individu untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran dalam berkomunikasi dengan orang lain, memecahkan masalah dalam berbagai seting kehidupan (akademis, pekerjaan, pribadi dan sosial) dan mengatur tingkah laku.

No comments for "Teori Psikologi: Proses Resiliensi Individu"

Berlangganan via Email