Teori Psikologi: Perilaku Kenakalan Remaja

Teori Psikologi: Perilaku Kenakalan Remaja




1. Definisi
Kartono (2008) mendefinisiskan perilaku kenakalan remaja adalah gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang. Penyimpangan perilaku dikonotasikan sebagai dengan berbagai serangan, pelanggaran, dan keganasan yang dilakukan oleh anak-anak muda di bawah usia 22 tahun. Perilaku kenakalan remaja merupakan produk dari kesehatan mental atau emosi yang sangat labil sebagai akibat dari pengkondisian lingkungan yang buruk bagi remaja.
Ahli lain, Cavan (Willis, 2005) menyebutkan bahwa kenakalan remaja mengarah pada bentuk perilaku yang timbul karena kegagalan remaja dalam memperoleh penghargaan dari masyarakat tempat tinggal mereka. Penghargaan yang umumnya diharapkan ialah tugas dan tanggung jawab seperti orang dewasa.  Hurlock (Willis, 2005) juga menambahkan mengenai definisi kenakalan remaja adalah bentuk perilaku yang ditimbulkan oleh individu karena memiliki nilai-nilai moral yang berbahaya dan beresiko. Sedangkan Willis (2005) sendiri menyimpulkan definisi kenakalan remaja adalah suatu tindakan sebagian remaja yang bertentangan dengan hukum, agama, dan norma-norma masyarakat sehingga akibatnya dapat merugikan orang lain, mengganggu ketentraman umum dan juga merusak dirinya sendiri. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kenakalan remaja adalah perilaku individu yang menyimpang secara agama, sosial, dan moral sehingga berakibat mengganggu dan merugikan orang lain dan diri pribadi.
2. Karakteristik
Perilaku remaja yang tergolong dalam kategori kenakalan remaja memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan anak-anak yang perilakunya tidak termasuk dalam kategori kenakalan remaja (Kartono, 2008). Perbedaan tersebut dapat dibedakan berdasarkan struktur intelektualnya, perbedaan fisik dan psikis, serta ciri karakteristik individual.
a. Perbedaan struktur individual
Umumnya intelegensi remaja yang yang perilakunya termasuk dalam kategori kenakalan remaja tidak berbeda dengan remaja normal lainnya, namun jelas terdapat fungsi-fungsi kognitif khusus yang berbeda. Menurut Wechsler (Kartono, 2008) anak dengan perilaku deliquensi memiliki nilai lebih tinggi pada kemampuan performance daripada kemampuan verbal.
b. Perbedaan fisik dan psikis
Remaja yang yang perilakunya termasuk dalam kategori kenakalan remaja sering diistilahkan “idiot secara moral”. Lombroso (Kartono, 2008) juga menjelaskan bahwa dibandingkan dengan remaja normal, 60% dari remaja tersebut memiliki bentuk tubuh mereka lebih “mesomorphs”, yaitu relative berotot, kekar, kuat dan relative agresif.  Lindner juga memaparkan bahwa secara fisiologis dan neurologis remaja tersebut kurang bereaksi terhadap stimulus kesakitan dan lebih kebal terhadap berbagai macam pukulan. Kekebalan tersebut tidak hanya secara fisik namun secara psikis pun kebal.
c. Ciri karakteristik individual
Berbicara mengenai karakteristik individual remaja dengan perilaku termasuk kenakalan remaja maka akan membahas secara detail konsep kepribadian remaja tersebut, seperti (Kartono, 2008):
1) Hampir semua remaja dengan perilaku deliquensi hanya berorientasi pada masa sekarang sehingga gaya hidup terkesan selalu bersenang-senang dan merasa puas dengan masa sekarang yang dialaminya. Remaja tersebut tidak berfikir untuk mempersiapkan bekal hidup untuk hari esok. Hal tersebut terlihat pada ketidakmampuan remaja dengan perilaku deliquensi membuat perencanaan untuk masa depannya.
2) Kebanyakan dari remaja dengan perilaku deliquensi mengalami gangguan secara emosional.
3) Remaja dengan perilaku deliquensi kurang bersosialisasi dalam masyarakat normal, sehingga kurang mengenal norma-norma kesusilaan, dan tidak bertanggung jawab secara sosial.
4) Remaja dengan perilaku deliquensi senang terlibat dalam kegiatan yang memiliki resiko dan bahaya yang tinggi.
5) Pada umumnya, remaja dengan perilaku deliquensi sangat impulsive dan suka menyerempet bahaya.
6) Remaja dengan perilaku deliquensi memiliki hati nurani yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
7) Remaja dengan perilaku deliquensi kurang disiplin dan memiliki kontrol diri yang kurang, sebab remaja deliquensi memang tidak pernah dituntun atau dididik untuk melakukan hal tersebut. Padahal penerapan kedisiplinan dan kontrol diri dari orang disekitarnya akan membuat remaja deliquensi menjadi liar dan ganas.
Pada beberapa kasus, anak yang terganggu secara emosional akan menjadi lupa daratan. Remaja dengan perilaku deliquensi akan menjadi tidak sadar atau setengah sadar, sehingga menjadi eksplosif meledak-ledak dan sangat agresif, kemudian akan bertindak tanpa berfikir panjang untuk melakukan berbagai macam perilaku melanggar norma atau menyimpang. Bahkan perilaku yang ditampilkan bisa mengancam kenyamanan dan keselamatan orang-orang di lingkungan sosialnya.
3.Faktor
Segala bentuk kenakalan remaja terbentuk atas dasar sebab-musabab yang sangat kompleks. Sebab kompleks tersebut tertuang dalam empat teori yang membahas mengenai faktor terjadinya perilaku kenakalan remaja.
Kartono (2008) menjelaskan empat teori tersebut secara rinci, yaitu:
a. Teori biologis
Perilaku remaja yang mengalami perilaku deliquensi dapat muncul karena faktor-faktor fisiologis dan struktur jasmaniah individu. Selain itu faktor pewarisan tipe-tipe perilaku negatif dari lingkungan remaja juga akan mempengaruhi perilakunya.
b. Teori psikogenesis
Teori ini menekankan faktor perilaku deliquensi pada remaja karena dipengaruhi oleh aspek psikologis atau kejiwaannya. Aspek tersebut adalah faktor inteligensi, ciri kepribadian, motivasi, sikap-sikap yang salah, fantasi, rasionalisasi, internalisasi diri yang keliru, konflik batin, emosi yang controversial, kecenderungan psikopatologis, dan lain-lainnya. Adapun masalah psikologis yang dialami remaja juga sangat berkaitan erat dengan keharmonisan keluarga dimana remaja tumbuh menjadi peribadi yang dewasa. Selain itu interaksi dengan teman sebaya remaja juga sangat mendukung kesehatan psikologis seorang remaja.
Remaja yang memiliki perilaku deliquensi umumnya memiliki inteligensi yang rendah dalam aspek verbal dan mengalami ketertinggalan pada pencapaian prestasi sekolah. Kondisi tersebut akhirnya membuat remaja memiliki wawasan yang kurang sehingga mudah terseret oleh ajakan atau pengaruh buruk dari lingkungan di sekitarnya. Terlihat anak remaja sering melakukan kebiasaan membolos di dekolah.
c. Teori sosigenesis
Para sosilong berpendapat penyebab tingkah laku deliquensi  pada remaja adalah murni sosiologis atau sosial-psikologis. Misalnya disebabkan oleh pengaruh struktur sosial yang deviatif, tekanan kelompok, peranan sosial atau oleh internalisasi simbolis yang keliru. Perlu diketahui bahwa dalam proses penentuan konsep diri yang terpenting ialah simbolisasi diri atau penamaan diri. Pada proses simbolisasi diri, remaja kadang mempersamakan dirinya dengan individu-individu yang memiliki perilaku yang menyimpang.
Perilaku deliquensi pada remaja tidak hanya terletak pada lingkungan keluarga dan tetangga saja, akan tetapi dan terutama sekali, disebabkan oleh konteks kulturalnya. Sehingga perilaku menyimpang remaja sesungguhnya dibentuk dan dipupuk oleh lingkungan sekitarnya.
d. Teori subkultur
Menurut teori ini, sifat-sifat masyarakat tempat remaja tumbuh dan berkembang sangat mempengaruhi pembentukan perilaku sang remaja.  Sifat-sifat masyarakat tersebut adalah punya populasi yang sangat padat sehingga kontrol masyarakat kurang, status sosial-ekonomi masyarakat yang rendah sehingga acuh tak acuh dengan perkembangan remaja, kondisi fisik perkampungan yang buruh atau kumuh, dan terdapat banyak permasalahan keluarga atau keluarga broken home di tengah-tengah lingkungan masyarakat.

Selanjutnya, Willis (2005) juga memaparkan empat faktor yang menyebabkan individu melakukan perilaku deliquensi. faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Faktor-faktor yang ada di dalam diri remaja
Tidak dapat dipungkiri terdapat faktor yang memperngaruhi perlaku remaja karena faktor dirinya sendiri. Misalnya remaja yang mengalami birth injury atau kelaian kejiwaan seperti schizophrenia. Penyakit jiwa ini bisa dipengaruhi kondisi lingkungan keluarga yang keras dan penuh tekanan terhadap remaja.
Lemahnya pertahanan diri pada remaja juga sangat memegang peranan penting dalam membentuk perilaku remaja. Jika terdapat pengaruh negatif dari lingkungan berupa tontongan negatif, bujukan negatif seperti pecandu dan pengedar narkoba dan ajakan-ajakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan negatif, remaja sering tidak bisa menghindar dan mudah terpengaruh. Sehingga remaja pun tenggelam dalam aktivitas-aktivitas negatif yang membahayakan dirinya dan lingkungan di sekitarnya.
Sebab yang lain adalah banyaknya ditemukan kasus anak remaja yang kurang mampu bergaul  karena mengalami permasalahan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial. Ketidakmampuan remaja melakukan penyesuaian diri berdampak pada ketidakmampuan remaja memilih teman bergaul yang dampat membentuk perilaku positifnya. Biasanya remaja yang terbiasa dengan pola asuh yang kaku dank eat dari keluarga menyebabkan remaja juga kaku dalam bergaul, sehingga remaja juga kaku dalam bergaul. Pada akhirnya akan membuat remaja sulit dalam memilih teman yang tepat dan membawa pengaruh positif terhadap dirinya. Yang terjadi sebaliknya rema salah bergaul dengan para remaja yang tersesat. Remaja memilih untuk bergabung dengan remaja yang tersesat karena mendapat penghargaan dari kelompok remaja sesat itu, penghargaan yang belum pernah diperoleh di tempat lain. Selain itu, landasan keimanan dalam diri remaja yang rapuh juga akan membuat remaja kurang pertahanan diri dalam menolak hal-hal negatif dalam pergaulannya sehari-hari. Landasan keimanan ini sebenarnya berakar dari keluarga. Jika keluarga sendiri kurang memiliki dan mengajarkan remaja nilai-nilai agama, maka remaja sangat mudah terbawa arus pergaulan yang tidak sehat.
b. Faktor-faktor di rumah tangga
Kenakalan remaja tidak terlepas dari sikap orangtua atau keluarga kepada remaja itu sendiri. Sebab pertama adalah remaja kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Padahal kebutuhan kasih sayang adalah kebutuhan yang penting bagi setiap individu. Individu yang tidak terpenuhi kebutuhan kasih sayangnya akan mencari kebutuhan tersebut di luar dari lingkungan keluarga, seperti di dalam kelompok teman sebaya. Terkadang kelompok teman sebaya yang dipilih oleh remaja adalah kelompok yang memiliki perilaku negatif sehingga remaja akan mudah terpengaru dengan hal-hal negatif itu. Kelompok teman sebaya yng ditemui oleh remaja bisa berasal dari lingkungan sekolah ataupun di luar sekolah.
Sebab kedua adalah lemahnya keadaan ekonomi orangtua di desa-desa telah menyebabkan orangtua tidak mampu mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Remaja yang tidak terpebuhi kebutuha-kebutuhannya akan mencari jalan pintas untuk membuhi kebutuhannya tersebut seperti mencuri. Terdapat kasus seorang remaja nekat bunuh diri hanya karena tidak memeroleh uang saku Rp. 3000- untuk membeli barang prakarya, tidak dibelikan peralatan sekolah, dilarang pacaran, dan sebagainya. Akibat tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut anak remaja merasa harga dirinya terganggu dan terabaikan sehingga memilih jalan untuk bunuh diri saja untuk mengakhiri tekanan yang dirasakannya.
Sebab ketiga adalah kehidupan keluarga yang tidak harmonis. Sebuah keluarga dikatakan harmonis apabila struktur keluarga itu utuh dan interaksi diantara anggota keluarga berjalan dengan baik. Artinyam hubungan psikologis diantara mereka cukup memuaskan oleh setiap anggota keluarga. Sebaliknya jika struktur keluarga berantakan (broken home) besar kemungkinan remaja akan terganggu kesejahteraan psikologisnya. Remaja akan merasa terabaikan dan kurang perhatian dari keluarganya, khususnya kedua orangtuanya.

c. Faktor-faktor di masyarakat
Masyarakat dapat pula menjadi penyebab bagi menjamurnya kenakalan remaja di tengah-tengah masyarakat. Sebab pertama adalah kurangnya pelaksanaan ajaran-ajaran agama secara konsisten. Padahal ajaran agama mengandung nilai-nilaki kehidupan tentang baik buruknya sebuh perilaku. Sebab yang kedua adalah masyarakat yang kurang memeroleh pendidikan. Keterbelakangan pendidikan orangtua berpengaruh kepada cara-cara orang tua mendidik anaknya. Orangtua kurang memahami perkembangan jiwa anak, kurang mampu mengarahkan sang anak kearah kedewasaan, dan kurang mampu menbantu sekolah untuk ikut mencerdasakan anak. Orangtua yang kurang berpendidikan juga sering membiarkan saja apa-apa keinginan anak-anaknya dan orangtua kurang mengarahkan ke arah pendidikan akhlak mulia, sehingga anak mudah terjerumus dalam kenakalan remaja.
Sebab ketiga adalah kurangnya pengawasan terhadap masyarakat. Pengawasan masyarakat terhadap remaja dimaksudkan untuk menghindarkan remaja pada perilaku yang kurang baik dan menumbuhkan perilaku yang positif bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Pengawasan yang baik bukan berarti mengekang kebebasan remaja, melainkan memberikan bimbingan kearah perkembangan yang wajar dengan berbagai usaha kegiatan pendidikan remaja di sekolah maupun di masyarakat. Sebab keempat adalah terdapatnya norma-norma baru di luar.  Norma-norma yang dianut oleh remaja dari rumah (keluarga) bertentangan dengan norma masyarakat  yang menyimpang dari norma keluarga. Misalnya di rumah remaja diajarkan sopan santun, akan tetapi di masyarakat banyak sekali ditemukan remaja yang berlaku kurang sopan, kasar, dan bahkan kejam terhadap sesamanya. Sehingga anak yang tidak membekali diri dengan pertahanan diri yang kuat akan mudah terpengaruh dengan nilai-nilai yang menyimpang tersebut.
d. Faktor-faktor yang berasal dari sekolah
Sekolah adalah wadah bagi anak untuk menuntut pendidikan setelah lingkungan keluarganya sendiri. Oleh karenan itu, peran sekolah sangat penting untuk membina anak menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab. Sekolah memiliki tanggung jawab untuk membentuk kepribadian peserta didik. Dalam hal ini peran guru sangat diperulukan sekali. Jika kepribadian guru buru, dapat dipastikan akan menular kepada anak didik.
Kurangnya fasilitas pendidikan juga akan menyebabkan kurangnya penyaluran bakat dan keinginan siswa-siswa. Bakat dan keinginan siswa yang tidak terpenuhi tersebut akan disalurkan pada kegiatan-kegiatan yang bersifat negatif. Kekurangan fasilitas pendidikan yang lain seperti alat-alat pengajaran, alat-alat praktik, dan kesenian dan olahraga, juga dapat menajdi sumber gangguan pendidikan yang juga mengakibatkan terjadinya berbagai tingkahlaku negatif pada anak didik.
Di dalam mengatur anak didik juga perlu penanaman norma-norma positif yang sama bagi setiap guru dan norma tersebut harus dipastikan dimengerti oleh anak didik. Jika diantara guru terdapat perbedaan norma dalam cara mendidik sehingga tidak kompak dalam menentukan aturan dan teknik mengarahkan anak, hal tersebut yang akan menjadi sumber timbulnya kenakalan pada remaja. Terakhir, kurangnya tenaga pendidik juga akan membuat sekolah kewalahan dalam mengorganisir  proses pembelajaran di sekolah, sehingga kedisiplinan dalam proses belajar mengajar sulit diciptakan oleh sekolah.
Hadisuprapto (2008) menambahkan bahwa keharmonisan remaja dengan teman sebayanya di sekolah sangat membantu anak dalam menumbuhkan hubungan yang positif dan remaja lebih bisa menentukan teman yang baik untuk dijadikan teman bergaul. Berbeda halnya dengan remaja yang tidak diterima dan mengalami penolakan dari teman sebayanya. Remaja tersebut akan merasa terabaikan dan tidak mampu memilih teman bergaul yang baik sehingga kadang remaja terjebak dalam pergaulan bersama dengan teman-teman yang memiliki perilaku delikuensi.
4. Klasifikasi
Willis (2005) memaparkan bahwa pemerintah melalui bakolak 6/1971 menyimpulkan beberapa jenis kenakalan remaja. Misalnya pencurian, penipuan, perkelahian, perusakan, penganiayaan, perampokan, narkotika, pelanggaran susila, pelanggaran, pembunuhan, dan kejahatan lainnya. Kartono (2008) juga mengklasifikasikan beberapa wujud nyata dari perilaku kenakalan remaja (perilaku deliquensi), yaitu:
a. Kebut-kebutan di jalanan yang mengganggu keamanan lalu-lintas, dan membahayakan jiwa sendiri serta orang lain.
b. Perilaku ugal-ugalan, brandalan, urakan yang mengacaukan ketentraman sekitar.
c. Perkelahian antar gang, antar kelompok, antar sekolah, antar suku (tawuran), sehingga terkadang merenggut korban jiwa.
d. Membolos sekolah lalu bergelandangan sepanjang jalan atau bersembunyi di tempat-tempat terpencil sambil melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat atau bahkan menyimpang.
e. Kriminalitas anak, remaja dan orang dewasa antara lain berupa perbuatan mengancam, mengintimidasi, memeras, maling, mencuri, mencopet, merampas, menjambret, menyerang, merampok, menggarong, melakukan pembunuhan dengan jalan menyembelih korbannya, mencekik, meracun, tindak kekerasan dan pelanggaran lainnya.
f. Berpesta-pora sambil mabuk-mabukan, dan melakukan hubungan seks bebas sehingga mengganggu lingkungan.
g. Perkosaan, agresivitas seksual dan pembunuhan dengan motif sosial, atau di dorong oleh reaksi-reaksi kompensatoris dari perasaan inferior, menuntut pengakuan diri, depresi hebat, rasa kesunyian, emosi balas dendam, kekecewaan ditolak cintanya dan lain-lain.
h. Kecanduan dan ketagihan bahan narkotika yang bergandengan dengan tindakan kejahatan.
i. Perjudian dan bentuk-bentuk permainan lainnya dengan taruhan sehingga memancing timbulnya perilaku criminal.
j. Komersialisasi seks, dan pengguguran janin oleh gadis-gadis yang berperilaku deliquensi.

No comments for "Teori Psikologi: Perilaku Kenakalan Remaja"

Berlangganan via Email