Teori Psikologi: Managemen Waktu

Teori Psikologi: Managemen Waktu



Hamzah, Lucky, dan Joarder (2014) mengemukakan bahwa managemen waktu mengacu pada cara siswa mengelola waktunya untuk meraih prestasi dan kesuksesan akademis. Manajemen waktu juga disebut sebagai cara dimana seorang individu lebih efisien dalam menyelesaikan tugas dan tujuan, memiliki keseimbangan, fleksibilitas, dan kontrol atas waktu, serta mampu mengatur prioritas dan penjadwalan tugas. Meeuwisse, Born, dan Severiens (2013) mengemukakan bahwa manajemen waktu adalah perilaku yang bertujuan untuk mencapai efektifitas penggunaan waktu dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada tujuan yang ingin dicapai. Macan, dkk (1990) mengemukakan bahwa manajemen waktu adalah pengaturan diri dalam menggunakan waktu seefektif dan seefesien mungkin dalam melakukan perencanaan, penjadwalan, pengontrolan atas waktu, selalu membuat prioritas menurut kepentingannya serta keinginan untuk terorganisir yang terlihat dari perilaku, seperti mengatur tempat kerja dan menunda-nunda pekerjaan yang harus diselesaikan.
Claessens, Eerde, dan Rutte (2007) mengemukakan bahwa manajemen waktu adalah proses penentuan kebutuhan, menentukan tujuan untuk mencapai kebutuhan tersebut, serta memprioritaskan dan merencanakan tugas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Manajemen waktu merupakan teknik dalam mengelola waktu, sebuah teknik untuk penggunaan waktu yang efektif, khususnya menyediakan waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas yang dibutuhkan. Manajemen waktu juga bisa diartikan perencanaan dan penempatan waktu, dimana incividu dapat merasa bahwa waktu yang telah digunakan sudah terstruktur dan memiliki tujuan tertentu. Mercanlooglu (2010) mengemukakan bahwa manajemen waktu merupakan manajemen diri dengan fokus eksplisit pada waktu dalam memutuskan apa yang harus dilakukan, pada seberapa banyak waktu yang dialokasikan untuk kegiatan, tentang bagaimana kegiatan dapat dilakukan secara lebih efisien dan pada saat waktu yang tepat serta kegiatan tertentu serta difokuskan untuk pemecahan masalah.
Macan (1994) mengemukakan aspek-aspek manajemen waktu, sebagai berikut:
1. Setting goals and priorities
Kemampuan menyusun tujuan kegiatan dan membuat prioritas berdasarkan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan-tujuan atau arahan yang merupakan sebuah sasaran bagi seorang individu, untuk memberikan gambaran apa yang akan dilakukan atau apa yang menjadi aktivitas selanjutnya. Kemampuan ini ditunjukkan dalam bentuk kegiatan, misalnya menetapkan dan meninjau kembali tujuan jangka panjang ataupun jangka pendek, menetapkan prioritas kegiatan dan melaksanakannya, membuat dan mengevaluasi jadwal harian, menentukandeadline, memanfaatkan waktu menunggu dan membagi tugas menjadi bagian-bagian kecil agar mudah dikerjakan.Cox (2012) mengemukakan bahwa goal setting adalah salah satu strategi motivasi, dimana atlit atau pelatih harus menjadi “SMART”. “SMART” yang dimaksud adalah Specific goal yaitu sesuatu yang terfokus tepat pada tujuan yang ingin dicapai. Measurable goal adalah seseuatu yang dapat dihitung, dalam arti indiviu tau seberapa dekat posisinya sekarang dalam mencapai tujuan. Action-oriented goal yaitu sesuatu yang bisa dinilai dan satu-satunya acara untuk menilainya adalah dengan melakukan observasi terhadap perilaku sehari-hari. Realistic goal yaitu keyakinan bahwa tujuan yang ingin sudah ditetapkan harus tercapai. Selanjutnya, Timely goal yaitu menentukan berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tujuan tersebut.
Covey (2002) mengemukakan mengenai kuadran waktu yang tediri dua unsur yaitu penting dan mendesak. Penting adalah hal-hal yang paling penting bagi anda, kegiatan yang utama, yang berkontribusi terhadap tercapainya misi serta sasaran. Mendesak adalah hal-hal yang menekan, yang menuntut perhatian segera. Manajemen waktu sesuai skala prioritas di bagi menjadi empat kuadran :
Kuadran 1 : hal yang mendesak sekaligus penting.
Kuadran II : hal yang tidak mendesak tetapi penting.
Kuadran III : hal yang mendesak tetapi tidak penting
Kuadran IV : hal yang tidak mendesak dan tidak penting
Timpe (1987) mengemukakan bahwa salah satu strategi manajemen waktu adalah dengan menetapkan sasaran atau tujuan yang hendak di lakukan. Tujuan terdiri dari tujuan jangka pendek dan jangka panjang, dimana individu harus menetukan waktu yang akan dibagi pada setiap tujuan yang telah ditetapkan. Hal tersebut mencakup tujuan harian maupun tujuan sepanjang hidup. Selanjutnya, penetapan prioritas dilakukan setelah individu menetapkan tujuan yang ingin dicapai. Prioritas adalah mengurutkan tujuan yang telah ditetapkan berdasarkan derajat kepentingannya. Selanjutnya, individu harus memusatkan perhatian untuk mengerjakan hal yang paling dianggap penting baginya. Proses menentukan prioritas melibatkan perencaan, dimana perencaan dari tujuan harian menjadi efektif, ketika prioritas telah ditetapkan.
Lakein dan Douglas (1997) mengemukakan bahwa menetapkan prioritas didasarkan pada skala kepentingan. Cara menyusun prioritas yang umum digunakan adalah dengan “sistem prioritas ABC”. Tujuan atau sasaran yang diberi tanda A adalah aktivitas berprioritas tinggi, B merupakan aktivitas yang berprioritas sedang, dan C adalah aktivitas berprioritas rendah. Penyusunan prioritas tergantung pada kepentingan individu masing-masing.
2. Planning and scheduling
Kemampuan untuk membuat perencanaan kegiatan dan membuat jadwal. Kemampuan ini berupa aktivitas yang berkaitan dengan pengaturan waktu, yaitu membuat daftar hal-hal yang harus dikerjakan, membuat jadwal mingguan, menggunakan buku agenda atau sarana reminder yang lain. Perencanaan dan penjadwalan dilakukan setelah menyusun prioritas. Perencanaan dilakukan terlebih dahulu sebelum menyusun sebuah penjadwalan. Macan, dkk (1990) mengemukakan bahwa perencanaan berasal dari kata dasar rencana, yang berarti rancangan atau rangka sesuatu yang akan dikerjakan. Penjadwalan berasal dari kata dasar jadwal, yang berarti pembagian waktu berdasarkan rencana pengurutan urutan kerja atau daftar atau tabel kegiatan. Perencanaan biasanya dikenal dengan membuat jadwal harian yang disebut dengan “to do list”, yang berisi tentang sekumpul aktivitas yang harus dilaksanakan hari itu dan disertai oleh perkiraan waktu untuk pelaksanaanya.Dalam melakukan perencanaan dan penjadwalan, keduanya harus fleksibel agar tidak menimbulkan perasaan tertekan pada individu yang melaksanakannya.
Macan, dkk (1990) mengemukakan bahwa aspek penting lainnya dari perencanaan dan penjadwalan adalah waktu prima atau yang disebut dengan prime time. Prime time terdiri dari dua macam, yaitu waktu prima internal (internal prime time) dan waktu prima eksternal (external prime time). Internal prime time adalah waktu yang paling baik bagi individu untuk melakukan pekerjaan, dimana pada waktu tersebut individu dapat berkonsentrasi dengan baik. Para ahli menganjurkan untuk tidak melakukan rutinitas pada waktu tersebut. Selanjutnya, external prime time, yaitu waktu yang paling baik bagi individu untuk berinteraksi dengan orang lain, berkaitan dengan pekerjaan, pergaulan, atau sesama anggota keluarga.
Melalui pengelolaan waktu atau manajemen waktu, manusia berusaha untuk memanfaatkan waktu dengan baik. Salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari manajemen waktu adalah perencanaan. Le Bouef (2000) mengemukakan bahwa perencanaan adalah proses menentukan segala sesuatu yang harus dilakukan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Usaha meningkatkan efektifitas adalah permasalahan mengenai bagaimana individu harus merencanakan dan menetapkan tujuan.
3. Perceived control of time
Keyakinan individu untuk melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang tersusun. Keyakinan ini dapat diketahui dari kemampuan individu dalam mengendalikan waktu atau bagaimana individu menggunakan waktu yang ada, misalnya dapat melaksanakan jadwal kegiatan karena selalu tidak menunda-nunda, tidak terbelenggu dalam tugas-tugas, sehingga terdapat waktu untuk istirahat, dan mempu bersikap asertif kedapa orang lain, misalnya berkata, “tidak”. Sikap kontrol terhadap waktu mempunyai dua titik ekstrem. Titik pertama adalah titik ketika individu mempunyai kepercayaan yang tertinggi bahwa individu tersebut mampu mengendalikan segala sesuatu dalam kehidupannya. Sedangkan titik kedua adalah kemampuan untuk mengorganisir segala aktivitas melalui perencanaan dan pencapaian.
Lakein dan Douglas (1997) mengemukakan bahwa kunci dari manajemen waktu adalah masalah pengendalian atau kontrol, yaitu kontrol atas waktu dan hidup. Kontrol tersebut dimaksudkan untuk mencari suatu keseimbangan untuk menyelesaikan beberapa hal dengan teratur namun tetap fleksibel.
4. Preference for organization
Kemampuan individu untuk mengorganisir setiapa aktivitas dan sarana pendukung, untuk menghemat waktu. Hal tersebut dapat diketahui melalui adanya keinginan individu untuk mengorganisir setiap aspek kehidupan yang melingkupinya dan tidak menagalami tumpang tindih antara satu kegiatan dengan kegiatan lain, seperti merapikan ruang belajar indiviu dan menata buku-buku agar mudah menyimpan serta menemukan sesuatu yang dibutuhkan, membuat arsip, serta menangani tugas dengan baik. Berkonsentrasi pada efisiensi waktu dan efektifitas kegiatan yang dilakukan, merupakan hal yang sangat penting agar kegaiatan-kegiatan yang dilakukan dapat berjalan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
Staub (1978) mengemukakan bahwa terdapat faktor-faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan yang mencerminkan perilaku manajemen waktu, yaitu:
1. Personal value dan norms
Nilai-nilai pribadi dan sosial yang diinternalisasikan oleh individu dalam proses sosialisasi. Norma personal adalah harapan seseorang bahwa dirinya akan berperilaku dengan cara tertentu, yang sesuai dengan keyakinan dirinya.
2. Self-again
Seseorang merencanakan sesuatu, mewujudkan rencana dan mengontrol rencana waktunya dengan baik karena adanya harapan untuk memperoleh atau menghindari sesuatu. Manajemen waktu diterapkan dengan harapan untuk menghindari kemungkinan mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai dengan target, penundaan keputusan, serta keterlambatan dam ketidakpuasan.
Hassanzabeh dan Ebadi (2007) mengemukakan mengenai keterampilan dan strategi manajemen waktu, sebagai berikut:
1. Menetapkan tujuan, baik tujuan personal, keluarga, maupun pekerjaan
2. Komitmen akan tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan kertas dan tetapkan prioritas kegiatan yang harus dilakukan terlebih dahulu.
3. Mengatur diri sendiri untuk membuat satu prioritas setiap harinya dan melakukan prioritas tersebut
4. Mengeliminasi satu kegiatan tidak penting yang dapat menghabiskan waktu setiap bulannya
5. Merencanakan kegiatan mingguan
6. Meriviu permulaan setiap harinya dan memastikan bahwa jam-jam pertama dalam hari tersebut telah produktif
7. Mencoba untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah dimulai
8. Menyediakan waktu untuk bertemu dengan orang lain diluar pekerjaan sehari-hari.
9. Menyediakan waktu untuk diri sendiri, dimana waktu tersebut digunakan untuk belajar maupun bersantai
Claessens, Eerde, dan Rutte (2007) mengemukakan bahwa pada beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa manajemen waktu berdampak pada beberapa variabel. Salah satunya adalah variabel proximal, seperti dapat memberikan estimasi secara akurat pada durasi waktu, menghabiskan waktu pada tugas-tugas yang memiliki prioritas lebih tinggi, dan kemampuan untuk mengatur kembali rencana hingga meningkatkan kemajuan yang telah diperoleh.Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Sevari dan Kandy (dalam Pehlivan, 2013) menunjukkan bahwa keterampilan manajemen waktu berdampak pada efikasi diri dan performa akademik individu. Pelatihan keterampilan manajemen waktu dapat meningkatkan performa akademik dan efikasi diri individu.
Macan, dkk (dalam Pehlivan, 2013) melakukan penelitian dengan menggunakan 165 siswa untuk mengisis kuesioner mengenai perilaku manajemen waktu, stres, dan penerimaan diri pada performa dan standar penilaian. Hasilnya menunjukkan bahwa perilaku manajemen waktu konsisten berhubungan dengan beberapa faktor. Siswa yang melakukan kontrol waktu secara signifikan memperoleh evaluasi performa akademik yang lebih baik, pekerjaan yang lebih baik, dan kepuasan hidup, berkurangnya keragu-raguan dan beban kerja yang berlebihan, serta berkurangnya dampak dari pekerjaan serta ketegangan.Misra dan Mckean (2000) melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa individu yang memiliki keterampilan manajemen waktu yang baik mengalami gejala stres yang rendah pada reaksi fisik dan psikologis. Siswa mengalami stres yang lebih tinggi dikarenakan adanya tekanan dan pemaksaan diri, yang bersumber pada manajemen waktu yang kurang baik.

No comments for "Teori Psikologi: Managemen Waktu"

Berlangganan via Email