Teori Psikologi: Kepercayaan Diri

Teori Psikologi: Kepercayaan Diri



Lauster (1992) mengemukakan bahwa kepercayaan diri berhubungan dengan kemampuan melakukan segala sesuatu dengan baik. Ketika individu dapat melakukan sesuatu dengan baik, maka individu tersebut secara otomatis akan merasa berhasil dan akan meyakini kemampuan yang dimiliki sebagai sebuah kelebihan yang patut dibanggakan sehingga akan tumbuhnya rasa percaya diri. Priyatna (2011) mengemukakan bahwa seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi akan lebih mudah mengendalikan dirinya dalam situasi yang menekan. Seseorang yang memiliki percaya diri yang tinggi juga akan lebih mudah memusatkan perhatiannya pada suatu hal tanpa merasa khawatir.
Sedangkan Aziz (dalam Kumara, 1988) mengemukakan ciri-ciri orang yang kurang percaya diri adalah merasa tidak aman, adanya rasa takut serta tidak bebas, ragu-ragu, lidah terasa terkunci di hadapan orang banyak, murung, pemalu, kurang berani, membuang-buang waktu dalam mengambil keputusan, ada perasaan rendah diri, pengecut serta merasa kurang cerdas, dan cenderung untuk menyalahkan suasana luar sebagai penyebab masalah yang dihadapinya. Rasa percaya diri sendiri didapatkan oleh seorang remaja dari interaksinya dengan lingkungan.
Surya (2007) mengemukakan bahwa gejala tidak percaya diri dapat berupa ketakutan, keresahan, khawatir, rasa tidak yakin yang diiringi dengan dada berdebar-debar kencang dan tubuh gemetar, yang lebih didorong oleh masalah kejiwaan dalam merespon rangsangan dari luar tubuhnya. Gejala-gejala rasa tidak percaya diri dapat menekan atau menghambat fungsi daya nalar sehingga remaja mengalami kesulitan untuk memusatkan konsentrasi pikiran, melemahkan motivasi, dan daya juang yang dapat menyebabkan remaja tidak mampu mengaktualisasikan kemampuannya.
Surya (2007) mengemukakan bahwa munculnya rasa tidak percaya diri pada remaja terkait erat dengan persepsi diri terhadap konsep dirinya sendiri. Bagaimana remaja berpikir dan menilai diri, serta mengukur kemungkinan dalam kesanggupan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan padanya. Tidak percaya diri berarti pernyataan ketidakmampuan seseorang untuk melaksanakan atau mengerjakan sesuatu. Remaja berfikir dan menilai negatif dirinya sendiri sehingga timbul perasaan tidak menyenangkan dan kecenderungan untuk menghindari apa yang akan dilakukannya.
Hasil penelitian yang dilakukan Andayani (1996) menunjukkan bahwa kepercayaan diri individu akan sangat dipengaruhi oleh masa perkembangan yang sedang dilaluinya, hal tersebut tergantung pada pengalaman interpersonalnya. Bila umpan balik yang didapat remaja positif maka akan terciptanya konsep diri yang positif dan kepercayaan diri akan meningkat, sebaliknya jika umpan balik yang sering diterimanya negatif, konsep dirinya menjadi negatif dan hal ini akan mempengaruhi kepercayaan dirinya.

Berdasarkan definisi serta gejala mengenai kepercayaan diri, Ghufron (2010) mengemukakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepercayaan diri, yakni:
1. Konsep diri
Konsep diri seseorang akan terbentuk dari hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya.
2. Harga diri
Konsep diri yang positif akan membentuk harga diri yang positif pula. Harga diri adalah penilaian yang dilakukan terhadap diri sendiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi harga diri seseorang maka akan semakin tinggi pula rasa percaya dirinya.
3. Pengalaman
Pengalaman dapat menjadi faktor pendongkrak sekaligus faktor penurun rasa percaya diri seseorang.
4. Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh pada rasa percaya diri seseorang. Jika seseorang memiliki tingkat pendidikan yang rendah, maka ia akan bergantung dan berada di bawah kekuasaan orang yang lebih pandai darinya. Sebaliknya tingkat pendidikan yang tinggi akan mendongkrak rasa percaya diri seseorang karena merasa dirinya lebih pandai dari pada orang lain.

No comments for "Teori Psikologi: Kepercayaan Diri"

Berlangganan via Email