Teori Psikologi: Karakteristik Anak Berbakat

Teori Psikologi: Karakteristik Anak Berbakat


Secara umum keberbakatan (giftedness) di definisikan sebagai kemampuan atau bakat yang sangat tinggi di satu atau lebih bidang (misalnya, dalam matematika, sains, menulis kreatif, seni, atau musik) sedemikian rupa sehingga siswa membutuhkan layanan pendidikan khusus agar dapat mengembangkan potensinya itu sepenuhnya. Dalam kebanyakan kasus keberbakatan kemungkinan merupakan hasil dari predisposisi genetic dan pengasuhan lingkungan. (Shavina & Ferrari, 2003; Simonton, 2001; winner, 2006 dalam Ormrod & Ellis, 2008). Sebagai mahluk sosial, anak berbakat mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat, pemikiran, sikap dan aktivitas anggota masyarakat yang lain. Dalam pergaulan inilah emosi mereka merasa sedih atau bahagia. Ditinjau dari budaya, anak berbakat mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang dipengaruhi tingkat kebudayaan di mana mereka memperoleh pengalaman budaya. Selain itu faktor agama akan memberikan dasar dan norma pribadi anak berbakat. Anak-anak berbakat secara alami memiliki karakteristik yang khas yang membedakannya dengan anak-anak normal. Karakteristik ini mencakup beberapa domain penting, termasuk di dalamnya: domain intelektual-koginitif, domain persepsi-emosi, domain motivasi dan nilai-nilai hidup, domain aktifitas, serta domain relasi sosial. Akan tetapi kelompok kami akan membatasi  pembahasan mengenai karakteristik dan aspek psikologis anak berbakat pada bagian intelektual-kognitif dan emosi.
Karakteristik Intelektual-Kognitif

Somantri (2007) mengemukakan beberapa kasus anak berbakat untuk memahami bagaimana perkembangan intelektual kognitifnya, yaitu:
1. KASUS IS
Berdasarkan pengukuran kecerdasan dengan menggunakan WAIS, kasus IS memiliki IQ 134, duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Dibandingkan dengan teman sebayanya, IS menunjukkan penguasaan kosa kata melebihi teman-teman, mampu membaca dalam usia muda, mampu belajar cepat, dan mengingat informasi, menunjukkan hasrat ingin tahu yang kuat, berkemampuan memusatkan perhatian lebih lama, mempunyai standar prestasi yang tinggi, menyukai pengalaman baru dan menantang, ampu berpikir abstrak, serta menarik kesimpulan dengan cepat.
Dalam bidang akademik di sekolah, IS menunjukkan kemampuan konsentrasi yang tinggi terhadap pelajaran tertentu, mampu memahami konsep., metode, dan beberapa istilah secara baik, serta tekun dan pantang menyerah dalam upaya mencapai prestasi yang lebih tinggi. Dia memiliki daya saing dan motivasi yang tinggi untuk berbuat sebaik-baiknya. Disamping itu IS menunjukkan kebiasaan untuk bertanya dan bertanya lagi, aktif berimajinasi, cakap berpikir dalam berbagai cara untuk memecahkan masalah, serta peka terhadap keindahan. Dia juga cenderung melakukan kegiatan menurut caranya sendiri, menghasilkan gagasan baru, kerja sendiri, dan bersikap tegas dalam menyatakan jawaban, sekalipun mengundang pertentangan. Tidak ada prestasi menonjol dalam bidang musik bahkan dia ceenderung kurang menyenangi musik, tetapi cukup mudah mengingat nada dan irama. Di dalam seni rupa dia memperoleh prestasi yang menonjol serta mampu mencurahkan perhatian yang lebih untuk menggambar atau melukis.
2. KASUS DHS
Berdasarkan hasil tes WISC, tingkat kecerdasan DHS berada pada klasifikasi sangat superior dengan IQ 134. Dia duduk di kelas 4 sekolah dasar. DHS menunjukkan kemampuan penguasaan kosakata melebihi teman-temannya, mampu membaca pada usia lebih muda, menunjukkan minat baca lebih awal dari teman-temannya, menyukai bacaan orang dewasa termasuk bacaan yang berbahasa inggris, menunjukkan hasrat ingin tahu yang kuat, peduli terhadap urusan orang dewasa, serta memiliki kesenangan bermain dengan anak yang usianya lebih tua darinya.
Dalam bidang akademik di sekolah, DHS mampu memusatkan perhatian yang cukup lama terhadap mata pelajaran, mampu memahami konsep, metode, dan istilah dengan baik, cakap dalam menerapkan konsep tertentu, memiliki daya saing dan motivasi yang kuat, serta cepat dalam menguasai mata pelajaran. Di samping itu, DHS juga menunjukkan kecenderungan hasrat bertanya yang kuat, cakap berpikir  dalam memecahkan masalah dengan berbagai cara, aktif berimajinasi dan menghasilkan gagasan, berani menyatakan pendapat yang berbeda, berani mengambil resiko, dan peka terhadap keindahan. Tidak ada perilaku menonjol dalam bidang seni musik kecuali menunjukkan hasrat tinggi untuk memainklan alat musik dan mampu megingat nada dan irama; tetapi dia mampu mencurahkan waktu dan perhatian yang cukup lama untuk menggambar atau melukis.
3. KASUS RS
RS tergolong ke dalam kelompok yang memiliki tingkat kecerdasan superior tinggi. Berdasarakan hasil pengukuran dengan tes WISC, RS memiliki IQ 129. Seperti kasus IS dan DHS, kasus RS juga menunjukkan penguasaan kosa kata dan minat baca yang lebih dari teman-temannya, mampu membaca pada usia yang lebih muda, menyukai bacaan orang dewasa, mampu belajar cepat dan mengingat informasi, menunjukkan hasrat ingin tahu yang tinggi, rasa humor, menyukai pengalaman baru dan menantang, mampu berpikir abstrak dengan baik, mampu menarik kesimpulan dengan cepat, senang bermain dengan teman yang lebih tua, dan peduli terhadap urusan orang dewasa.
Dalam hal kemampuan akademik di sekolah, RS menunjukkan kemampuan memusatkan perhatian, mampu memahami konsep, metode, dan istilah dengan baik, tekun dan pantang menyerah dalam upaya mencapai prestasi yang baik, memiliki daya saing dan motivasi yang kuat. Perilaku kreatif yang ditunjukkan RS berupa aktif berimajinasi, cakap berpikir dalam berbagai cara, peka terhadap keindahan, melakukan sesuatu dengan caranya sendiri, mamp[u menghasilkan gagasan baru, berani menyatakan pendapat yang berbeda. Sementara itu tidak tampak hal-hal yang menonjol dalam bidang seni.
Para ahli dengan hasil penelitiannya (Thompson, Berger, Berry dalam Somantri, 2007) menunjukkan bahwa secara biologis memang ada perbedaan struktur otak antara anak berbakatdan anak normal. anak berbakat mampu memfungsikan dua belahan otak (otak kiri dan kanan) sebagai alat berpikir dan seluruh fungsi-fungsi lain (rasa, penginderaan, dan intuisi) secara terintegrasi sehingga mewujudkan perilaku kreatif. Memperhatikan ketiga kasus yang telah dipaparkan di atas dan didukung dengan penelitian lainnya, misalnya Hewit & Kitano (Sumantri, 2007) mengemukakan bahwa memang anak berbakat secara intelektual menunjukkan kemampuan berpikir analitis, integratif, dan evaluative, berorientasi pada pemecahan masalah, kemampuan verbal yang tinggi, serba ingin sempurna, memiliki cara lain dalam memahami dan mengolah informasi, memiliki fleksibilitas berpikir, berkemampuan melahirkan gagasan dan pemecahan orisinal, berorientasi evaluatif baik terhadap dirinya maupun orang lain, dan secara parsisten berperilaku terarah pada tujuan, menunjukkan motivasi dan kompetisi tinggi untuk berprestasi yang baik. Mereka yang tergolong anak berbakat mampu belajar cepat dan mudah, membicarakan apa yang dipelajarinya, emngajukan banyak pertanyaan, menaruh perhatian pada masalah kemanusiaan dan dunia sekitar pada usia yang lebih awal, menunjukkan kematangan berpikir melihat hubungan secara jelas, mengetahui dan mengapresiasikan hal-hal yang tidak disadari oleh teman sebayanya, senang berteman dengan orang yang lebih tua atau orang dewasa, dan seringkali memiliki rasa humor seperti orang dewasa.

Treffinger (Sumantri, 2007) mengemukakan sejumlah karakteristik unik anak berbakat, yaitu:
1. Rasa ingin tahu yang tinggi (curiosity)
2. Berimajinasi (imagination)
3. Produktif (productivity)
4. Independen dalam berpikir dan menilai (independence in thought and judgment)
5. Mau mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan informasi dan mewujudkan ide-ide (extensive fund of information and ideas)
6. Memiliki ketekunan (persistence)
7. Bersikukuh dalam menyelesaikan masalah (commitment to solving problems)
8. Berkonsentrasi pada masa depan dan hal-hal yang belum diketahui, tidak hanya pada masa lalu, terpaku hari ini atau cepat puas pada hal-hal yang sudah diketahui.
Sementara Hoyle dan Wilks (Sumantri, 2007) mendeskripsikan bahwa anak berbakat menanmpilkan ciri-ciri perkembangan kognitif, yaitu:
1. Memiliki kemampuan berpikir superior, berpikir abstrak, menggeneralisir fakta, memahami makna, dan memahami hubungan.
2. Memiliki hasrat ingin tahu yang luas
3. Bersikap mudah untuk belajar
4. Memiliki rentang minat yang luas (bervariasi)
5. Memiliki rentang perhatian yang luas yang memungkinkan daya berkonsentrasi bertahan dalam pemecahan masalah dan berhasrat tinggi untuk menyelesaikannya
6. Memiliki kemampuan berbahasa tinggi, baik secara kuantitas maupun kualitas dibandingkan teman sebayanya.
7. Memiliki kecakapan bekerja efektif dan mandiri
8. Memiliki kesiapan belajar lebih awal (sebelum usia sekolah)
9. Menunjukkan kekuatan pengamatan yang tajam
10. Menunjukkan inisiatif dan originalitas pekerjaan intelektual
11. Mampu dan siap merespon secara tepat terhadap gagasan baru
12. Mampu mengingat secara tepat
13. Memiliki minat luas terhadap masalah manusia dan dunia
14. Memiliki imajinasi yang luar biasa
15. Mampu mengikuti petunjuk yang sulit secara mudah
16. Mampu membaca tepat
17. Memiliki berbagai hoby
18. Memiliki minat baca dalam berbagai bidang pengetahuan
19. Sering dan efektif dalam menggunakan perpustakaan
20. Menunjukkan kemampuan tinggi dalam matematika, terutama dalam memecahkan masalah.
Lebih lanjut Joni (2003) menyebutkan beberapa karakteristik kognitif dari anak berbakat, yaitu:
1. Menunjukkan atau memiliki ide-ide yang orisinal, gagasan-gagasan yang tidak lazim, pikiran-pikiran kreatif.
2. Mampu menghubungkan ide-ide yang nampak tidak berkaitan menjadi suatu konsep yang utuh.
3. Menunjukkan kemampuan bernalar yang sangat tinggi.
4. Mampu menggeneralisir suatu masalah yang rumit menjadi suatu hal yang sederhana dan mudah dipahami.
5. Memiliki kecepatan yang sangat tinggi dalam memecahkan masalah.
6. Menunjukkan daya imajinasi yang luar biasa.
7. Memiliki perbendaharaan kosakata yang sangat kaya dan mampu mengartikulasikannya dengan baik.
8. Biasanya fasih dalam berkomunikasi lisan, senang bermain atau merangkai kata-kata.
9. Sangat cepat dalam memahami pembicaraan atau pelajaran yang diberikan.
10. Memiliki daya ingat jangka panjang (long term memory) yang kuat.
11. Mampu menangkap ide-ide abstrak dalam konsep matematika dan/atau sains.
12. Memiliki kemampuan membaca yang sangat cepat.
13. Banyak gagasan dan mampu menginspirasi orang lain.
14. Memikirkan sesuatu secara kompleks, abstrak, dan dalam.
15. Mampu memikirkan tentang beragam gagasan atau persoalan dalam waktu yang bersamaan dan cepat mengaitkan satu dengan yang lainnya.
Apabila kembali pada karakteristik kreativitas yang dikemukakan oleh Guilford, tampak bahwa karakteristik perkembangan kognitif anak berbakat menunjukkan: fleksibilitas, kemudahan bergagasan, pemunculan gagasan baru, kecakapan analisis, kecakapan sintesis dan evaluasi. Semua ciri perkembangan anak berbakat menunjukkan kemudahan yang dimilikinya dalam belajar. Namun semua ciri itu hendaknya tidak menjadikan kita berpikir bahwa anak berbakat akan selalu mudah untuk menjadi siswa terpandai di kelasnya. Apabila karakteristik tersebut tidak tersalurkan sebagaimana mestinya, tak mustahil muncul masalah-masalah perkembangan berupa: kebosanan terhadap pelajaran regular, kesul;itan hubungan sosial dalam kelompok seusia, dipandang sombong oleh teman sebayanya, sulit berkonformitas pada kelompok, frustasi karena harus menjadi “penunggu”, masalah-masalah sejenis yang pada dasarnya berkaitan dengan masalah penyesuaian diri. Perspektif dan kecermatan pengamatannya acapkali menimbulkan kebimbangan diri, sehingga sering anak berbakat tidak mampu bekerja rapi dan teratur.
Perkembangan kognitif anak berbakat juga disertai dengan perkembangan kemampuan intuitif yang akan mengarah pada pemunculan perilaku kreatif. Dari kasus yang ditampilkan diatas tampak bahwa anak berbakat menunjukkan perilaku kreatif seperti: selalu bertanya dan bertanya, melakukan sesuatu dengan caranya sendiri, lebih menyukai bekerja sendiri, aktif berimajinasi, cakap berpikir dalam berbagai cara untuk memecahkan masalah, cenderung merespon dengan jawaban yang tak diduga, tidak ragu menyatakan jawaban walaupun mengundang pertentangan, melakukan penjelajahan dan mengambil resiko, peka terhadap keindahan, mencurahkan perhatian dalam kegiatan menggambar, melukis dan kegiatan seni lainnya.
Kaitan intuisi dengan perilaku kreatif ialah bahwa fungsi intuisi ini berperan dalam pemunculan inisiatif, imajinasi, dan wawasan bertindak, yang mengarah pada perilaku kreatif. Keunikan intuisi anak berbakat ditandai dengan kecenderungan untuk: terlibat dan peduli terhadap pengetahuan intuitif dan fenomena-fenomena metafisik, terbuka pada pengalaman-pengalaman metafisis, dan menunjukkan perilaku kreatif dalam banyak hal. Dikarenakan anak berbakat memiliki karakteristik dan masalah di atas, maka kebutuhan program pendidikan dalam mengembangkan aspek kognitif, berkaitan dengan beberapa kebutuhan, yaitu; pengkajian informasi baru dan menantang, akses terhadap kurikulum dan kehidupan intelektual yang menantang, pengkajian berbagai mata ajaran, dan kepedulian, pemecahan masalah dalam berbagai cara, pemunculan dan pengkajian gagasan baru, dan kebutuhan sejenis yang menghendaki penyediaan pengalaman dan dukungan bagi proses percepatan pencapaian tingkat perkembangan kognitif yang lebih tinggi, kesempatan melakukan dialog bermnakna tentang fenomena, memahami energi dan kecakapan intuitif, pengembangan kegiatan kreatif secara berkelankjutan.
Karakteristik Persepsi/Emosi
Karakteristik kemampuan kognitif tinggi pada anak berbakat dan kepekaannya terhadap dunia sekitar menjadikan anak berbakat memiliki akumulasi informasi yang banyak. Dengan fungsi kognitifnya, dia mampu mengolah informasi dan menumbuhkan kesadaran akan diri dan dunianya, sehingga menjadikan anak berbakat menunjukkan perkembangan emosi yang lebih matang dan stabil. Kesadaran yang tinggi ini akan disertai dengan perasaan berbeda dari yang lain, idealisme dan kesadaran akan keadilan yang tumbuh lebih awal, kepekaan terhadap ketidakkonsistenan perilaku dengan apa yang seharusnya, perkembangan pengendalian diri dan kepuasan internal terjadi lebih awal, dan tingkat pertimbangan moral yang lebih tinggi.
Di sisi lain, karakteristik kognitif yang tinggi belum tentu disertai dengan terjadinya perkembangan emosi yang tinggi pula. Anak berbakat sering kali menunjukkan harapan yang tinggi terhadap dirinya maupun orang lain, dan karena harapan ini tidak disertai dengan kesadaran diri, maka tidak jarang membawa menjadikan dirinya frustasi. Selain itu, karena kekuatan imajinasi yang luar biasa, anak berbakat mungkin menunjukkan perilaku yang sulit diterima oleh kelompoknya sehingga bisa menimbulkan cemoohan sesamanya atau tidak mendapat tanggapan serius dari orang lebih tua usianya karena dianggap berperilaku aneh, menyimpang, dan dianggap sebagai pembuat kekacauan. Hal tersebut membuat perkembangan emosi pada anak berbakat tidak stabil dan sulit menyesuaikan diri (Sumantri, 2007).

Lebih lanjut Joni (2003) menyebutkan beberapa karakteristik persepsi/emosi dari anak berbakat, yaitu:
1. Sangat peka perasaannya.
2. Menunjukkan gaya bercanda atau humor yang tidak lazim (sinis, tepat sasaran dalam menertawakan sesuatu hal tapi tanpa terasa dapat menyakiti perasaan orang lain).
3. Sangat perseptif dengan beragam bentuk emosi orang lain (peka dengan sesuatu yang tidak dirasakan oleh orang-orang lain).
4. Memiliki perasaan yang dalam atas sesuatu.
5. Peka dengan adanya perubahan kecil dalam lingkungan sekitar (suara, aroma, cahaya).
6. Pada umumnya introvert.
7. Memandang suatu persoalan dari berbagai macam sudut pandang.
8. Sangat terbuka dengan pengalaman atau hal-hal baru
9. Alaminya memiliki ketulusan hati yang lebih dalam dibanding anak lain.

Referensi:
Joni, T. R. 2003. Creativity : A. Review of Selected Literature. "Dalam kumpulan karangan ilmiah” (Online). (http://www.depdiknas.go.id., diakses tanggal 01 Oktober 2011).
Omrod, & Jeanne Ellis. 2008. Psikologi Pendidikan (edisi keenam). Jakarta: Erlangga.
Sumantri,T. S. 2007. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: Refika Aditama.


No comments for "Teori Psikologi: Karakteristik Anak Berbakat"

Berlangganan via Email