Teori Psikologi: Identifikasi Anak Berbakat

Teori Psikologi: Identifikasi Anak Berbakat


Beberapa pendekatan yang digunakan dalam memahami keberbakatan telah menimbulkan masalah tersendiri dalam identifikasi anak berbakat, baik mengenai kriteria keberbakatan maupun teknik dan alat identifikasi. Identifikasi anak berbakat hendaknya diawali dengan memahami karakteristik keberbakatan sebagaimana diuraikan pada bagian terdahulu. Apabila karakteristik keberbakatan itu ditelaah kembali ternyata karakteristik tersebut erat sekali kaitannya dengan kemampuan intelektual. Oleh karena itu merupakan cara yang logis jika identifikasi anak berbakat diawali dengan pengujian kemampuan intelektual. Beberapa kemungkinan teknik identifikasi anak berbakat yang dilakukan di sekolah ialah (Somantri, 2007):
a. Penggunaan tes kecerdasan
Penggunaan tes kecerdasan untuk keperluan identifikasi keberbakatan dapat dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap penjaringan dan tahap seleksi. Tahap penjaringan dilakukan secara kelompok dengan menggunakan tes kelompok. Dari dua tahap ini diaharapkan dapat ditemukan anak yang diduga termasuk anak berbakat. Secara intelektual, anak yang dapat digolongkan ke dalam anak berbakat adalah mereka yang memiliki IQ 130 ke atas. Tahap berikutnya dilakukan seleksi, dan untuk keperluan seleksi ini digunakan tes individual agar memberikan hasil pengukuran yang lebih teliti, cermat, dan akurat. Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) adalah tes kecerdasan individual yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi keberbakatan. Masalah utama yang dihadapi dalam teknik ini adalah karena penggunaan tes kecerdasan hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu  yang keahlian dalam hal itu. Akibatnya penggunaan teknik ini memiliki keterbatasan.
b. Studi Kasus
Prestasi akademik dan perilaku-perilaku nonakademik, dapat dijadikan indicator dari keberbakatan seseorang. Dengan menggunakan kriteria semacam ini guru dapat melakukan observasi dan memperkirakan seseorang anak akan kemungkinannya sebagai anak berbakat. Cara ini tentunya lebih mungkin dan lebih terbuka untuk dilakukan dalam berbagai kondisi atau lingkungan sekolah.
Identifikasi anak berbakat dengan menggunakan teknik ini dilakukan dengan jalan menghimpun berbagai informasi tentang  anak dari berbagai sumber baik orang tua, guru, teman sebaya, atau pihak lain yang dianggap mengetahui tentang anak itu. Di dalam studi kasus semacam ini boleh jadi tidak digunakan tes kecerdasan melainkan lebih banyak digunakan wawancara, pengamatan, pencatatan, studi dokumentasi yang berkenaan dengan riwayat perkembangan anak. Masalah yang mungkin terjadi dalam teknik ini ialah validitas pengamatan dan penghimpunan informasi; sehingga pengamatan dan pencatatan informasi tidak dipengaruhi oleh bias-bias pribadi. Untuk itu studi kasus menghendaki pengamatan dan pencatatan yang berkelanjutan dan tidak berlangsung hanya sesaat.
Penyaringan dan identifikasi anak berbakat perlu memperhatikan factor-faktor yang mungkin menghambat perkembangan keberbakatan. Pada dasarnya keberbakatan akan ada di dalam berbagai kelompok masyarakat dan kebudayaan. Akan tetapi seringkali keberbakatan itu tidak muncul karena ada hambatan social.  Factor social budaya yang tidak kondusif untuk perkembangan keberbakatan akan menjadikan anak berbakat dalam status tidak beruntung (educationally disadvantaged); yaitu anak berbakat yang memiliki factor bahasa, keadaan kebudayaan, kehidupan ekonomi, lingkungan keluarga yang merugikan, mengalami hambatan pengembangan kemampuan intelektual dan kreativitasnya. Mengingat factor-faktor ini maka hasil tes tidak selalu mutlak dapat dijadikan tolak

MASALAH-MASALAH DAN DAMPAK KEBERBAKATAN
Keberbakatan bukannya sesuatu kondisi yang tidak memunculkan masalah, tetapi terkadang menimbulkan masalah, baik bagi individu sendiri, keluarga, masyarakat, maupun bagi penyelenggara pendidikan (Somantri, 2007).
1. Masalah dan Dampak Bagi Individu
Dalam uraian di atas telah juga terungkap kemungkinan berbagai perilaku bermasalah sebagai akibat dari keberbakatan. Jika disimpulkan kemungkinan masalah anak berbakat itu dapat dirumuskan dalam kecenderungan-kecenderungan berikut:
a) Kecepatan perkembangan kognitif yang tidak sesuai dengan perkembangan dan kekuatan fisik, sehingga terjadi kesenjangan di antara keduanya, dapat menimbulkan perasaan tidak adekuat pada diri anak. Perasaan semacam ini dapat mendorong anak tidak peduli terhadap kegiatan fisik kelompok sehingga dapat menimbulkan frustasi, kecewa, dan tidak puas terhadapa kehidupan kelompok sebaya.
b) Perkembangan kognitif anak berbakat yang lebih cepat dari teman sebaya akan menimbulkan kebosanan terhadap pengajaran regular, kesuliatn hubungan social dalam kelompok seusia, sulit berkomformitas dalam kelompok, frustasi karena harus “menunggu” kelompok. Kondisi seperti ini akan menimbulkan kesulitan penyesuaian diri pada anak berbakat.
c) Kemampuan anak berbkat untuk menyerap dan menghimpun informasi yang tidak diimbangi dengan perkembangan emosi dan kesadaran dapat menimbulkan ketidakstabilan perkembangan emosi. Kondisi perkembangan seperti ini akan membuat individu rawan terhadap kritik, bersikap sinis dan menentang, menentukan nilai sendiri dan tujuan yang mungkin tidak realistic.
d) Kematangan social dan kecakapan kepemimpinan yang tumbuh lebih awal pada anak berbakat dapat menimbulkan maslaah penyesuaian yang tidak memberi peluang untuk menampilkan kecakapannya itu, akan menumbuhkan perasaan tidak tertantang dan dapat mendorong individu untuk mengambil pemecahan maslaah melalui jalan pintas tanpa mempertimbangkan keterkaitan masalah satu dengan yang lainnya dalam kompleksitas kehidupan.
2. Masalah dan Dampak bagi Keluarga
Kecenderungan perilaku “aneh” yang muncul karena keberbakatan akan membawa dampak terhadap iklim dan perilaku keluarga. Orang tua yang tidak memahami dan menyadari akan potensi yang dimiliki anaknya bias jadi tidak peduli  dan tidak merespon perilaku anak tadi. Malah mungkin orang tua berupaya mengendalikan agar anaknya patuh dan mengikuti pola interaksi sebagaimana anak pada umumnya. Kecenderungan orang tua menghardik anaknya ketika anak itu melibatkan diri dalam urusan orang tua, dan memaksanya untuk bermain dengan teman seusianya merupakan perlakuan yang lazim terjadi dikalangan orang tua. Sudah barang tentu sikap dan perlakuan seperti ini akan menimbulkan ketidakberuntungan dalam keberbakatan (disadvantages) dan orang tua akan menjadi jengkel karena mengahadapi anaknya yang selalu berperilaku “aneh”.
Dalam menghadapi anak berbakat, orang rua harus menunjukkan sikap memahami, peduli terhadap pikiran dan perasaan anak, bersikap terbuka dan member peluang kepada anak untuk mengekspresikan dirinya. Orang tua mesti berperan sebagai guru bagi anak berbakat di dalam keluarga.
Beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua dalam membantu dan membimbing anak berbakat ialah:
1) Menciptakan komunikasi terbuka antara orang tua dengan anak, antara anak dengan anak disertai penuh kasih saying, dan menghindarkan sikap tekanan mental terhadap masalah anak.
2) Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk menghadapi dan memecahkan masalah. Hal ini peting untuk mendorong anak mengekspresikan diri secara kreatif, memperoleh pengertian-pengertian yang terkandung dalam suatu masalah, melakukan eksplorasi dan eksperimen.
3) Menyertakan anak dalam kegiatan orang tua sehingga anak memperoleh wawasan yang lebih luas dan mendalam.
4) Memperhatikan kebutuhan utama anak dan mengupayakan  untuk memenuhinya secara sadar.
5) Memberikan anak kepercayaan untuk melakukan sesuatu yang dipikirkan dan disenanginya.
6) Menghargai upaya dan hasil kerja anak dan ikuti perkembangannya, bila mungkin didorong untuk mencapai hasil kerja yang sempurna.
7) Membantu anak untuk mengembangkan, memahami, dan menyesuaikan kebutuhan-kebutuhannya.
8) Membantu anak menyususn skala prioritas kegiatan agar energy yang ada pada dirinya dapat termanfaatkan dan tersalurkan dengan sebaik-baiknya.
9) Menyediakan fasilitas dan sumber informasi yang dapat dimanfaatkan oleh anak untuk memenuhi hasrat ingin tahunya.
10) Membantu anak untuk memahami perbedaan individual melalui pembentukan pengertian.
11) Memperhatikan kebutuhan gizi dan kesehatan anak.
12) Menunjukkan rasa bahagia dalam hidup bersama dengan dia.
3. Masalah dan Dampak bagi Masyarakat
Masalah dan dampak keberbakatan bagi kehidupan masyarakat terletak dalam isu “bagaimana perlakuan terhadap anak berbakat diberikan” terutama layanan pendidikan yang mungkin diperolehnya. Apakah anak berbakat ini perlu diberi pendidikan khusus yang terpisah dari anak biasa, yang mungkin akan menimbulkan sikap elit dan eksklusif, atau diintegrasikan ke dalam system persekolahan biasa, yang mungkin akan menimbulkan masalah-masalah perkembangan bagi anak itu sendiri, merupakan isu social maupun politis. Masalah keberbakatan membawa dampak terhadap pengambilan kebijaksaan pendidikan.
4. Masalah dan Dampak bagi Penyelenggara Pendidikan
Pemahaman anak berbakat harus bertolak dari pandangan bahwa dia adalah seorang pribadi yang utuh dan selalu berada di dalam interaksinya dengan lingkungan. Perbedaan program pendidikan bagi anak berbakat bukan sekedar berbeda, tetapi secara kualitatif memang menghendaki perbedaan walaupun tidak berarti harus terpisah dari anak-anak biasa. Perbedaan secara kualitatif ini mutlak perlu karena anak berbakat memiliki karakteristik, kebutuhan dan permasalahn yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Sekalipun pengembangan program pendidikan untuk anak berbakat akan menyangkut berbagai pertimbangan aspek (meliputi aspek filosofis, tujuan pendidikan, isi kurikulum, dan proses belajar mengajar), namun keunikan karakteristik dan kebutuhan peserta didik harus menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan program pendidikan bagi anak berbakat.

No comments for "Teori Psikologi: Identifikasi Anak Berbakat"

Berlangganan via Email