Teori Psikologi: Humor dalam Psikologi

Teori Psikologi: Humor dalam Psikologi




Konsep humor berangkat dari asumsi dasar paradigma humanistik yaitu manusia memiliki potensi-potensi untuk mengembangkan potensinya (Alwisol, 2009). Pengembangan potensi dalam hal ini berkaitan dengan kemampuan individu mengelolah pikiran, perasaan, dan tingkahlaku sesuai yang diharapkan dengan memanfaatkan humor sebagai salah satu sumber energi positif. Jung (Schneider dkk, 2001) menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mendorong manusia untuk memiliki kemampuan melakukan aktualisasi diri adalah kemampuan selera humor yang tinggi. Kemampuan selera humor yang tinggi akan membantu individu melakukan pengelolahan emosi seperti stress yang dialami saat kerja dan kegagalan dalam melakukan interaksi interpersonal yang efektif.
Eksistensi humor dalam bidang psikologi bukan lagi hal yang baru. Hal tersebut terlihat pada perkembangan riset-riset ilmiah yang mengangkat variabel humor yang sudah menjamur dalam dunia akademik. Tidak sedikit penelitian yang mengangkat variabel humor menjadikan salah satu alternatif dalam melakukan intervensi secara psikologis. Adapun tema penelitian yang sering dikaji dalam psikologi, yaitu: intervensi homur untuk menurunkan tingkat kecemasan, stress, fobia, obsesive-compulsive individu (Bastaman, 2007).

Humor berasal dari kata umor yaitu you-moors artinya cairan-mengalir (Hartanti, 2008 dalam Fitriani & Hidayah, 2012). Menurut Driver, humor merupakan sifat dari sesuatu atau situasi kompleks yang menimbulkan keinginan untuk tertawa. Humor juga didefinisikan sebagai sesuatu yang lucu. Sesuatu yang bersifat humor adalah sesuatu yang dapat membuat tertawa (Hartanti, 2008 dalam Fitriani & Hidayah, 2012).
Humor merupakan ungkapan sementara yang memiliki kesan tidak serius atau main-main, namun sebenarnya memiliki tujuan tertentu (Noviati, 2011). Martin  (2001) mendefinisikan humor sebagai kebiasaan  individu  yang  berbeda pada  setiap  perilaku,  pengalaman, perasaan,  kesenangan,  sikap,  kemampuan  dalam menghubungkan hal-hal tertentu dengan kesenangan dan tertawa. Ross (1999) memaparkan definisi humor adalah sesuatu yang membuat individu tertawa atau tersenyum. Jadi, humor adalah suatu respon tertawa atau tersenyum pada suatu hal atau situasi tertentu yang membuat individu merasa senang.

Bastaman (2007) menjelaskan dalam bukunya bahwa humor tidak hanya sekedar menimbulkan rasa lucu dan akhirnya membuat individu tertawa, tetapi ternyata humor memiliki dampak positif bagi kesehatan mental individu. Terbukti 30 tahun yang lalu di Kota Cardiff Inggris telah diselenggarakan sebuah konferensi internasional tentang humor. Hasil konferensi tersebut mengakui bahwa humor memiliki potensi-potensi tertentu untuk digunakan individu dalam kehidupan sehari-hari. Potensi-potensi yang ada dalam humor, antara lain:
a. Melalui konsep humor para psikolog mampu membina hubungan baik antara klien dan ahli terapi dan mudah menjalin hubungan yang terbuka dan akrab dengan klien.
b. Menyalurkan dorongan-dorongan dasar (dorongan seks, marah, dorongan destruktif) dengan cara-cara yang dapat diterima masyarakat.
c. Meningkatkan kreatifitas dengan memahami semua masalah dari sudut pandang kelucuan.
Nilsen juga menambahkan fungsi humor dibagi menjadi empat, yaitu berfungsi secara fisiologis, psikologis, pendidikan, dan sosial (Safaria & Saputra, 2012). Berikut pemaparannya:
a. Fungsi sosial, humor berfungsi sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan individu dalam bersosialisasi. Humor mampu meningkatkan reaksi sosial yang positif dalam hubungan bersosialisasi dikarenakan humor merupakan media yang ringan dan menyenangkan dalam hubungan bermasyarakat.
b. Fungsi pendidikan, humor merupakan salah satu sarana pembelajaran. Sebagai contoh, ketika kuliah berlangsung dosen menyampaikan materi di dalam kelas, ketika dosen mampu memberikan selingan berupa humor-humor selama kuliah dapat memberikan suasana fresh bagi para mahasiswa sehingga mahasiswa menjadi tertarik dan fokus memperhatikan dosen mengajar.
c. Fungsi fisiologis, humor dapat mengalihkan susunan kimia internal seseorang dan membawa pengaruh yang sangat besar terhadap system kekebalan tubuh seseorang, peredaran darah, endokrin, dan juga system syaraf yang sangat berpengaruh positif terhadap kesehatan fisik maupun psikologis.
Mindess (Hartanti, 2002 dalam Fitriani & Hidayah, 2012) menambahkan bahwa fungsi humor yang terpenting adalah humor memiliki kekuatan untuk membebaskan diri dari banyak rintangan dan pembatasan dalam kehidupan sehari-hari. Humor dapat melepaskan individu dari berbagai tuntutan yang dialami dan dapat membebaskannya dari perasaan tidak mampu dalam melakukan aktifitas (Hartanti, 2002 dalam Fitriani & Hidayah, 2012).

Malone (1980 dalam Unal, 2014) memaparkan empat gaya humor, antara lain:
a. Afiliatif humor, yaitu humor yang bertujuan untuk menghibur orang dengan mengatakan hal  lucu, untuk menceritakan lelucon atau melakukan hal-hal lucu, untuk memfasilitasi hubungan, untuk mengurangi ketegangan interpersonal dan  untuk menempatkan suasana tenang pada kondisi tertentu. Vaillant  (1977 dalam Unal, 2014), menyatakan individu  yang menunjukkan perilaku humor disukai oleh individu lain dan biasanya dianggap sebagai bukan sosok yang menakutkan. Martin (2003) menambahkan bahwa dengan gaya humor individu dapat mengurangi ketegangan  interpersonal dan bantuan membangun hubungan (Unal, 2014).
b.Self-enhancing humor, yaitu jenis humor yang berkaitan dengan pandangan lucu individu terhadap kejadian hidup. Hal ini mengacu pada humor untuk meningkatkan diri dengan cara toleran dan kecenderungan untuk mempertahankan hal-hal lucu dalam hidup untuk menghibur diri dari perasaan marah dan perasaan tertekan dari berbagai hal. Martin dkk menyatakan  humor dapat mengatasi emosi negatif seperti depresi dan kecemasan serta lebih umum untuk neurotisisme, dan humor mampu menimbulkan emosi positif yang terkait dengan keterbukaan terhadap pengalaman, harga diri dan  kesejahteraan psikologis (Unal, 2014).
c. Agresif Humor, yaitu jenis humor negatif yang digunakan untuk mengontrol orang lain dengan merendahkan orang lain atau suatu hal atau  melalui ejekan. Halus dan  De Soucy menyatakan agresif humor digunakan untuk menunjukkan inferioritas kelompok terhadap  anggota kelompok yang melanggar norma-norma yang keluar atau yang melenceng. Sedangkan Martin dkk mengungkapkan humor yang positif berhubungan dengan neurotisisme dan khususnya permusuhan, kemarahan, dan agresi, dan humor yang  berhubungan negatif dengan hubungan kepuasan, keramahan, dan hati nurani (Unal, 2014).
d. Self-defeating, yaitu humor yang dirancang untuk menempatkan orang lain supaya nyaman dan tidak bersikap terlalu serius (misalnya, membuat gurauan atau candaan yang menyangkut kelebihan dan kekurangan diri). Martin dkk menyatakan bahwa meningkatkan  hubungan dengan orang lain dengan mengorbankan dan merugikan diri sendiri adalah pertahanan penyangkalan diri atau mekanisme yang cenderung menyembunyikan perasaan negatif diri dari masalah dengan humor (Unal, 2014).

No comments for "Teori Psikologi: Humor dalam Psikologi"

Berlangganan via Email