Teori Psikologi: Efikasi Diri

Teori Psikologi: Efikasi Diri


Bandura (2001 dalam Feist & Feist, 2014) mendefinisikan efikasi diri adalah keyakinan individu dalam kemampuannya untuk melakukan suatu bentuk control terhadap keberfungsian individu itu sendiri dan kejadian dalam lingkungan. Keyakinan atas efikasi diri individu adalah landasan dari agen manusia. Manusia yang yakin bahwa mereka dapat melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk dapat mengubah kejadian di lingkungannya, akan lebih mungkin bertindak dan lebih mungkin untuk menjadi sukses daripada manusia yang mempunyai efikasi diri yang rendah. Menurut Alwisol (2004), efikasi diri adalah persepsi diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu. Persepsi dalam hal ini berhubungan dengan keyakinan individu bahwa diri mereka memiliki kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan. Sedangkan Yusuf dan Nurihsan (2008) menjelaskan bahwa self efikasi merupakan keyakinan diri terhadap kemampuan sendiri untuk menampilkan tingkah laku yang akan mengarahkan individu kepada hasil yang diharapkan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa efikasi diri adalah keyakinan diri yang dimiliki individu terhadap kemampuannya dalam mengahadapi dan menyelesaikan sebuah tuntutan di dalam lingkungan. Misalnya, keyakinan diri individu mengenai kemampuannya dalam mengerjakan sebuah tugas di kantor yang dibebankan kepadanya. Yusuf dan Nurihsan (2008) menjelaskan bahwa ketika individu memiliki efikasi diri yang tinggi maka individu tersebut memiliki rasa yakin bahwa dirinya mampu melakukan respon tertentu untuk memperoleh penguatan. Sebaliknya, apabila rendah maka individu tersebut akan cenderung merasa cemas dan merasa tidak mampu melakukan respon tersebut. Efikasi diri sesungguhnya bersifat klientif dan khas terhadap macam-macam situasi dan kondisi yang dihadapi individu.
Membahas mengenai efikasi diri Bandura (1997 dalam Feist & Feist, 2014) menjelaskan bahwa efikasi diri bukanlah ekspektasi hasil dari sebuah perilaku. Efikasi diri merujuk pada keyakinan diri individu bahwa dirinya memiliki kemampuan melakukan suatu perilaku. Ekspektasi hasil merujuk pada prediksi dari kemungkinan mengenai konsekuensi perilaku. Perlu juga diketahui bahwa hasil merupakan konsekuensi dari perilaku dan keberhasilan merupakan penyelesaian melakukan suatu perilaku atau tindakan.
Apabila individu memiliki efikasi diri yang tinggi dan rendah dengan kombinasi lingkungan yang responsif dan tidak responsif maka akan menghasilkan empat variabel prediktif (Bandura, 1997 dalam Feist & Feist, 2014). Individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi dengan kombinasi lingkungan yang responsif maka besar kemungkinan individu akan mencapai tujuannya. Individu yang memiliki efikasi diri yang rendah dengan kombinasi lingkungan yang responsive maka individu tersebut akan mengalami tekanan, kecemasan, bahkan depresi. Hal tersebut disebabkan oleh proses observasi yang dilakukan individu tersebut terhadap individu lain dilingkungannya yang mampu menyelesaikan sebuah tugas yang menurut dirinya sangat sulit. Ketika seseorang memiliki efikasi diri yang tinggi namun lingkannya tidak responsif maka individu tersebut meningkatkan usahanya untuk mengubah lingkungan. Terakhir, apabila individu yang memiliki efikasi rendah dikombinasikan dengan lingkungan yang tidak responsif maka besar kemungkinan individu tersebut merasa apatis, segan, dan tidak berdaya.
Efikasi diri juga tidak terlepas dari salah satu atau kombinasi empat sumber: (1) pengalaman menguasai sesuatu (mastery experiences), (2) social modeling, (3) persuasi sosial, dan (2) kondisi fisik dan emosional (Bandura, 1997 dalam Feist & Feist, 2014). Pengalaman menguasai sesuatu dalam hal ini berkaitan dengan pengalaman masa lalu individu. Kegagalan yang terjadi di masa lalu memiliki dampak pada tinggi rendahnya efikasi individu, khususnya pada individu yang memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap kesuksesan. Menurut Alwisol (2004), efikasi diri yang bersumber pada pengalaman ini bisa dipicu oleh beberapa hal. Pertama, semakin sulit sebuah tugas kemudian berhasil maka akan meningkatkan efikasi individu. Kedua, mengerjakan sebuah tugas secara mandiri akan lebih bisa meningkatkan efikasi diri dibandingkan bila mengerjakan tugas dengan bantuan orang lain. Ketiga, individu akan memiliki efikasi diri rendah karena sudah merasa berusaha sebaik mungkin namun tetap mengalami kegagalan. Terakhir, individu mengalami kegagalan dan kondisi emsoi yang kurang stabil akan sangat mempengaruhi efikasi dirinya jika dibandingkan apabila individu tersebut mengalami kegagalan dalam kondisi emosi yang stabil.
Keberadaan modeling sosial memiliki pengaruh yang tidak sekuat mastery experiences. Individu akan memiliki self efikasi yang tinggi apabila mengobservasi individu sebayanya meraih kesuksesan. Namun, apabila individu yang sebaya dengan dirinya mengalami kegagalan maka dirinya akan perlahan-lahan menurunkan efikasi dirinya. Alwisol (2004) menambahkan bahwa model sosial tidak akan memberikan pengaruh besar apabila individu mengamati model yang tidak setara dengan dirinya. Sehingga kehadiran model sosial yang diamati oleh individu yang setara dengan dirinya akan ikut menentukan tinggi rendahnya efikasi diri individu tersebut. Hal tersebut disebabkan karena invidu tersebut beranggapan bahwa yang lain tidak mampu maka besar kemungkinan diri saya pun tidak mampu. Syah (2013) juga menjelaskan bahwa model-model yang sangat berpengaruh pada diri individu adalah individu-individu dewasa atau teman sebaya yang dapat menyalurkan ganjaran dan hukuman. Perilaku manusia pun sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh interaksinya dengan lingkungan sekitarnya. Individu akan senantiasa melakukan proses belajar untuk berekasi atau merespon melalui pengamatan dan peniruan model yang ada di sekitarnya (Syah, 2013). Bandura (Monks, Knoers, & Haditomo, 2006) memaparkan bahwa harus ada empat persyaratan untuk dapat menirukan model dengan baik: 1) perhatian, artinya suatu model tidak akan bisa ditiru bila tidak diadakan pengamatan); 2) retensi atau disimpan dalam ingatan, artinya tingkah laku yang diamati harus bisa diingat kembali untuk bisa ditirukan ada atau dengan tidak adanya model yang ditiru tersebut; 3) reproduksi motoris, artinya untuk dapat menirukan dengan baik, individu harus memiliki kemampuan motorik yang memadai, dan 4) reinforcement dan motivasi, artinya individu yang menirukan harus melihat tingkahlaku itu sebagai tingkah laku yang terpuji dan bermotivasi untuk menirukannya. Apabila keempat persyaratan tersebut dimiliki oleh individu maka individu tersebut memiliki peluang untuk merubah perilaku yang sudah ada sebelumnya.
Efikasi diri juga dapat dikuatkan dan dilemahkan dengan persuasi sosial (Bandura, 1997 dalam Feist & Feist). Persuasi sosial akan mampu mempengaruhi efikasi individu apabila persuasi tersebut disampaikan oleh orang yang terpercaya.  Individu akan sangat mudah mempercayai perkatan individu lain yang memang ahli dibidang tersebu atau memiliki otoritas yang luas. Persuasi dapat meyakinkan individu untuk berusaha dalam suatu kegiatan dan apabila performa yang dilakukan sukses, baik pencapaian tersebut maupun penghargaan verbal yang mengikutinya kelak akan meingkatkan efikasi diri individu. Sumber terakhir dari efikasi diri adalah kondisi fisiologis dan emosiobal seseorang (Bandura, 1997 dalam Feist & Feist). Emosi yang kuat dan kurang stabil biasanya akan mengurangi performa individu. Saat individu merasa tertekan, cemas yang tinggi, dan stres yang tinggi maka kemungkinan individu tersebut mempunyai ekspektasi diri yang rendah. Misalnya, seorang aktor drama cemas dalam pertunjukan pertamanya dengan penonton yang banyak. Kecemasan yang berlebihan dimiliki oleh aktor tersebut pada akhirnya membuat aktor itu lupa beberapa teks dialog peran yang diperankannya. Hal tersebut disebabkan oleh kecemasan yang dimiliki oleh aktor tersebut berlebih dan secara tidak langsung menurunkan tingkat efikasi dirinya serta membuat dirinya lupa dengan teks dialognya.
Faktor yang membentuk tinggi rendahnya efikasi diri menurut Alwisol (2004) adalah kemampuan individu yang dituntut harus menyesuaiakan dengan situasi dan kondisi yang berbeda-beda. Kehadiran individu lain, khususnya individu yang dianggap sebagai ancaman atau saingan dapat mempengaruhi efikasi diri individu dan keadaan fisiologis serta emosional seperti kelelahan, kecemasan, apatis, dan murung akan membuat individu memiliki efikasi diri yang rendah.

No comments for "Teori Psikologi: Efikasi Diri"

Berlangganan via Email