Perkembangan Motorik Anak Usia 5 Tahun

Perkembangan Motorik Anak Usia 5 Tahun




Hurlock (1998) menjelaskan bahwa perkembangan motorik adalah perkembangan gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Perlu diketahui bahwa perkembangan motorik merupakan proses yang sejalan dengan bertambahnya usia secara bertahap dan berkesinambungan, di mana gerakan individu meningkat dari keadaan sederhana, tidak terampil dan terorganisir ke arah penguasaan keterampilan motorik yang kompleks dan terorganisir dengan baik.
Awal masa kanan-kanak merupakan masa yang ideal bagi anak untuk mempelajari kemampuan sensori motorik karena menurut Ahmadi (1991), anak usai 2 sampai 12 tahun penting untuk diperhatikan perkembangan pendidikan jasmani dan fungsi alat-alat inderanya. Oleh karena itu perkembangaan koordinasi sensori motorik perlu dikembangkan seoptimal mungkin pada masa kanak-kanak ini. Dr. Maria Montessori dalam Ahmadi (1991) juga menjelaskan umur 1 sampai 7 tahun merupakan masa penerimaan dan pengaturan rangsangan dari dunia luar melalui alat indera. Koordinasi sensori motorik sangat berkaitan erat dengan optimalisasi penerimaan dan pengaturan rangsangan tersebut.
Kenyataannya, setiap anak memiliki kemampuan dan perkembangan motorik yang berbeda-beda Hurlock (1980). Perbedaan tersebut terjadi karena adanya perbedaan kesiapan kematangan anak dan budaya yang dipengaruhi oleh jenis kelamin. Perbedaan-perbedaan tersebut menyebabkan adanya dalam keterampilan anak pada phase yang sama. Misalnya berdasarkan jenis kelamin, anak perempuan memiliki kemampuan motorik halus yang lebih baik daripada anak laki-laki. Misalnya anak laki-laki didorong untuk belajar bermain bola dan anak perempuan didorong untuk mempelajari keterampilan yang berhubungan dengan perawatan rumah tangga.
Hurlock (1980) membagi keterampilan umum pada anak menjadi dua kelompok yaitu keterampilan tangan dan keterampilan kaki. Keterampilan tangan, pada usia 5 tahun dan 6 tahun sebagian besar anak-anak sudah pandai melempar dan menangkap bola. Anak dapat menggunakan gunting, dapat membentuk tanah liat, membuat kue-kue dan menajhit. Anak juga sudah terampil menggunakan krayon, pensil, dan cat air untuk menulis, menggambar, dan mewarnai. Selain itu, keterampilan kaki pada anak usia 5 tahun dan 6 tahun ditunjukkan dengan kemampuan anak melompat dan berlari cepat. Anak juga sudah mampu memanjat, berjalan di atas dinding atau pagar, dan mampu bermain sepatu roda.
Desmita (2013) juga menjelaskan bahwa perkembangan fisik pada masa anak-anak ditandai dengan perkembangan keterampilan motorik, baik kasar maupun halus.  Keterampilan motorik halus pada anak usia 4,5-5,5 tahun meliputi keterampilan dalam menggunting, melipat kertas, menggambar orang, meniru angka dan huruf sederhana, dan membuat susunan yang kompleks dari kotak-kotak. Keterampilan motorik kasar ditandai dengan kemampuan anak menyeimbangkan badan di atas satu kaki, berlari jauh tanpa terjatuh, menangkap bola, dan dapat berenang dalam air yang dangkal.
Santrock (2002) menambahkan mengenai perkembangan keterampilan motorik kasar dan halus pada anak berusia 5 tahun. Keterampilan motorik kasar pada anak berusia 5 tahun ditandai dengan keberanian anak dalam mengambil resiko dari setiap perilakunya dibandingkan ketika anak berusia 4 tahun. Misalnya anak percaya diri melakukan ketangkasan yang mengerikan seperti memanjat suatu objek, berlari kencang, dan suke berlomba dnegan teman sebayanya. Selanjutnya keterampilan motorik halus pada usia 5 tahun mengalami peningkatan yang pesat. Tangan, lengan, dan tubuh bergerak bersama di bawah komando yang lebih baik dari mata. Anak usia lima tahun dianggap sudah mampu membangun sebuah menara yang kompleks dari bongkahan balik-balok.
Anak usia dini yang lazimnya disebut dengan masa keemasan (the golden years) yang merupakan masa di mana anak mulai peka/ sensitif untuk menerima berbagai rangsangan tidak terkecuali rangsangan motorik pada anak. Namun terkadang terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik anak tidak berbanding lurus dengan usia anak karena mengalami keterlambatan. Faktor tersebut adalah anak memiliki perkembangan jasmani yang berbeda dengan anak-anak yang lain, perbedaan gizi, dan perbedaan ras serta budaya juga cukup berperan dalam perkembangan anak. Selain itu, perbedaan lingkunga, perlakuan orangtua terhadap anak, dan kebiasaan hidup anak juga memicu perbedaan perkembangan motorik pada masing-masing anak (Lismadiana, 2013).
Wiyani (2014) juga memaparkan bahwa terdapat lima faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan motorik pada anak usia dini, yaitu:
1.    Faktor makanan, pada masa pertumbuhan anak usia dini pemberian makanan bergizi sangat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan fisik anak dan perkembangan motorik anak. Oleh karena itu sangat penting pemberian air susu ibu (ASI) pada anak yang berusia 0-2 tahun. Khasiat saupan ASI pada tahun-tahun awal kehidupan anak tidak bisa tergantikan oleh jenis makanan apapun.
2.    Faktor pemberian stimulus, seperti dengan mengajak anak untuk melakukan kegiatan bermain, khususnya kegiatan bermain yang melibatkan gerak fisik anak sangat mempengaruhi pertumbuhan motorik anak. Kegiatan bermain tersebut dikatakan juga kegiatan bermain fungsional, misalnya gerakan berlarian, melompat, merangkak, memanjat, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan tersebut jika diberikan dan dilakukan secara rutin atau berulang-ulang dapat meningkatkan kekuatan fisik anak, kelenturan otot, atau keterampilan motorik kasar anak yang secara langsung dapat berpengaruh pada perkembangan motorik anak.
3.    Keadaan fisik, pada usia 0-2 tahun perkembangan motorik kasar dan halus pada anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Mengingat seorang bayi yang tadinya tidak berdaya dan tidak mampu mengendalikan gerakannya dalam waktu 12 bulan mampu mengembangkan kemampuan motorik yang luar biasa. Kuncinya terletak pada kematangan fisik dan syaraf-syarafnya. Terpenting adalah kematangan fisik yang dimiliki oleh seorang anak juga penentu penguasaan kemampuan motorik anak berdasarkan tahap perkembangan usianya. Misalnya seorang anak berusia 2 bulan secara rutin diajar untuk berjalan, maka anak tersebut tidak akan mampu berjalan karena pada masa tersebut kematangan fisik anak belum optimal.
4.    Jenis kelamin, faktor ini juga tidak dapat diabaikan pengaruhnya dalam perkembangan motorik anak usia dini. Jika diperhatikan secara seksama, seorang anak perempuan lebih suka melakukan aktivitas yang melibatkan keterampilan motorik dan anak laki-laki cenderung lebih suka melakukan aktivitas yang melibatkan keterampilan motorik kasarnya.
5.    Faktor budaya, masyarakat yang patriarkhi juga ikut berpengaruh dalam perkembangan motorik anak.  Di mana budaya tersebut secara jelas membatasi aktivitas-aktivitas atau permainan yang umumnya dilakukan oleh anak laki-laki dan anak perempuan. Jenis permainan yang lazimnya pada anak laki-laki adalah bermain bola, bermain tembak-tembakan, dan bermain mobil-mobilan. Anak perempuan lazimnya bermain boneka dan bermain masak-masakan.
Adapun pengaruh perkembangan motorik pada diri anak yang dikemukakan oleh Hurlock (1998) adalah sebagai berikut:
1.    Melalui keterampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang karena memiliki beberapa keterampilan dalam bermain. Misalnya keterampilan bermain boneka, melempar, menangkap bola, dan memainkan alat-alat permainan yang lainnya.
2.    Melalui keterampilan motorik, anak dapat beranjak dari kondisi tidak berdaya ke kondisi yang independent.
3.    Melalui keterampilan motorik, anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Pada anak usia pra sekolah, lingkungan sekolah sudah mulai memperkenalkan dan melatih anak untuk bisa menulis, menggambar, melukis, dan baris berbaris. Keterampilan motorik yang berkembang dengan baik akan mendukung penyesuain anak pada tigas-tugas tersebut.
4.    Perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain dan bergaul dengan teman sebayanya, sedangkan anak yang mengalami hambatan motorik akan mengalami hambatan dalam pergaulannya bahkan akan dikucilkan oleh teman sebayanya atau terpinggirkan.
5.    Perkembangan motorik sangat penting pada perkembangan kepribadian anak. Apabila perkembangan motorik masa ini berkembang dengan baik, maka perkembangan berikutnya akan baik pula begitupun sebaliknya.


Sumber:
Adriana, Dian. (2011). Tumbuh kembang dan terapi pada anak. Jakarta: Salemba Medika.
Ahmadi, A. (1991). Psikologi perkembangan. Jakarta: Rineka Cipta.
Allen, K.E & Marotz, L.R. (2010). Profil perkembangan anak: Prakelahiran hingga usia 12 tahun. Jakarta: PT Indeks.
Callender, S. A. (2008). Gross and fine motor activities for early childhood: Pre school children. Mississppi State: University Early Childhood Institute.
Departemen Kesehatan RI. (2012). Pedoman pelaksanaan: Stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang anak di tingkat pelayanan kesehatan dasar. Jakarta: Departemen kesehatan, Direktoran Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat.
Desmita. (2013). Psikologi perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hidayati, E. (2008). Hubungan pengetahuan ibu tentang perkembangan psikomotor anak usia 3-5 tahun di Desa Sarirejo Kec. Guntur Kab. Demak. Jurnal Keperawatan, 1(2):12-22.
Himpunan Psikologi Indonesia. (2010). Kode etik psikologi Indonesia. Jakarta: HIMPSI.
Hurlock, E.B. (1980a). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan, Edisi kelima. Jakarta: Erlangga.
Hurlock, E.B. (1998b). Perkembangan anak jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Jackman, H.L. (2001). Early education curriculum: A child’s connection to the world. Dallas: Delmar Thomson Learning.
Lismadiana. (2013). Peran perkembangan motorik pada anak usia Dini. Jurnal Ilmiah Keolahragaan, 2(3): 101-118.
Masduki, S., Wibowo, C.T., Alisjahbana, A.M., Wickens, R., Digke, G & Pakpahan, M.N. (2003). Deteksi dini tumbuh kembang balita. Bandung: Yayasan Surya Kanti.
Ormrod, J. E. (2009). Psikologi pendidikan: Membantu murid tumbuh dan berkembang, Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Prasetyono, D.S. (2007). Membedah psikologi bermain anak.  Yogyakarta: THINK.

Sain, S.N.H., Ismanto, A.Y & Babakal A. (2013). Pengaruh alat permainan edukatif terhadap aspek perkembangan pada anak pra sekolah di Wilayah Puskesmas Ondong Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Jurnal e-NERS (eNS), 1(1): 16-20.
Samsudin. (2008). Perkembangan motorik di Taman kanak-kanak. Jakarta: Litera Prenada Media Group.
Santrock, J.W. (2002a). Life-span development: Perkembangan masa hidup edisi kelima. Jakarta: Erlangga.
Santrock, J.W. (2012b). Life-span development: Perkembangan masa hidup edisi ketigabelas. Jakarta: Erlangga.
Setyaningsih, T. (2012). Efektivitas terapi kelompok terapeutik dan psikoedukasi keluarga pada anak dan orang tua terhadap peningkatan perkembangan  inisiatif anak usia pra sekolah di Kelurahan Baranang Siang Bogor Timur tahun 2012. Tesis: Tidak dipublikasikan. Program Magister Ilmu Keperawatan Kekhususan Keperawatan Jiwa. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Universiyas Indonesia.
Sulistyawati, A. (2014). Deteksi tumbuh kembang anak. Jakarta: Salemba Medika.
Supratiknya, A. (2008). Merancang program dan modul psikoedukasi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Suyantini, I. (2013). Peningkatan keterampilan gerak manipulatif melalui permainan bola beranting pada anak usia 5-6 tahun. Artikel Penelitian. Program Studi PG PAUD: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Tanjungpura, Pontianak.
Wiyani, N.A. (2014). Psikologi perkembangan anak usia dini: Panduan bagi orangtua dan pendidik PAUD dalam memahami serta mendidik anak usia dini. Yogyakarta: Gava Media.
Zellawati, A. (2011, September). Terapi bermain untuk mengatasi permasalahan pada anak. Majalah Ilmiah INFORMATIKA, Vol 2, No 3. 164-175.













No comments for "Perkembangan Motorik Anak Usia 5 Tahun"

Berlangganan via Email