Parenting: Pentingnya Membangun Komunikasi Positif dengan Anak

Parenting: Pentingnya Membangun Komunikasi Positif dengan Anak



Vygosky berpendapat bahwa kemampuan kognitif anak akan menjadi lebih baik melalui interaksi sosial. Interaksi sosial yang dimaksud adalah komunikasi. Komunikasi tidak hanya sebagai hubungan anak dengan lingkungan sosial tetapi juga berfungsi sebagai bimbingan atau bantuan orang dewasa terhadap tugas-tugas anak yang sulit diselesaikan dalam aktivitas sehari-hari. Fakta membuktikan bahwa anak pada usia 5-12 tahun memiliki intensitas komunikasi yang sangat penting, karena komunikasi pada usia tersebut akan mendukung pertumbuhan mental, pembentuk kepribadian dan perkembangan perilaku sang anak. Perlu disadari bahwa komunikasi antara lingkungan dan anak tidak terlepas dengan kemampuan bahasa baik secara aplikasi ataupun secara pemahaman yang dimiliki oleh anak. Kemampuan bahasa ini kelak akan membantu anak dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya serta berfungsi untuk membina hubungan sosial. Pengembangan bahasa untuk anak usia 4-6 tahun difokuskan pada keempat aspek bahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Pada aspek menyimak inilah orangtua perlu berhati-hati dalam berkomunikasi dengan sang anak karena sesungguhnya anak tidak hanya menangkap bahasa yang diterima dari komunikasi yang terjalin, namun anak juga melakukan proses menyimak dan memahami bahasa yang diterimanya. Oleh karena itu, perlu dipahami pola komunikasi yang tepat untuk anak agar komunikasi yang terjalin antara orangtua dan anak tidak hanya sebatas saling menyampaikan kata demi kata melainkan juga terjadi proses penyampaian nilai-nilai positif antara anak dan orangtua.
Bayangkan seandainya orangtua di sekitar kita sering melakukan komunikasi dengan anak seperti berikut:
 “Kakak JANGAN main api, nanti tangannya kebakar! NGEYEL ya... ibu bilangin JANGAN main api masih aja main api”
“Adek JANGAN main air, nanti masuk angin!”
“Hayow mas NAKAL bikin adiknya nangis!”
“Kok nilainya JELEK banget? Kamu gimana sih.. BODOH banget,
Enggak belajar ya?”
Kalimat-kalimat tersebut sudah menjadi hal yang lumrah dilontarkan oleh para orang tua ketika berbicara kepada anak-anaknya. Lalu apa yang terjadi pada anak setelah para orang tua melontarkan kalimat-kalimat tersebut? Para anak justru semakin menjadi tertantang untuk melakukan apa yang dilarang orang tuanya “tetap bermain api, tetap bermain air, dan tetap mengganggu adiknya”. Selain itu, orang tua yang kerap melontarkan kata-kata “Anak nakal dan anak bodoh” secara tidak langsung sudah mendoakan anak-anaknya menjadi anak nakal dan anak bodoh. Kata-kata tersebut dengan sendirinya akan menjadi LABEL/CAP bagi diri anak, sehingga anak berpikiran bahwa dirinya nakal dan bodoh. Lalu apa yang terjadi jika demikian?. Anak justru akan semakin nakal dan semakin malas untuk belajar, karena mereka merasa “kata Ibu saya, kata Bapak saya, saya anak nakal dan saya anak bodoh.”
Sungguh menjadi hal tragis ketika kondisi di atas terjadi. Oleh karena itu, cara komunikasi orang tua dan sang anak sangat perlu berhati-hati karena sesungguhnya sangat menjadi dilema tersendiri ketika sosok orang tua yang paling dekat dengan sang anak justru melakukan tindakan yang tanpa disadari telah menjerumuskan anak ke perilaku yang tidak diinginkan oleh lingkungan.
Pola komunikasi seperti yang telah dijelaskan adalah pola komunikasi negatif yang harus dihentikan prakteknya di kalangan orang tua demi kebaikan anak-anak. Lalu pola komunikasi seperti apa yang sebaiknya digunakan dalam berkomunikasi dengan anak-anak, berikut contoh kongkrit dari pola kalimat positif yang dapat diterapkan oleh para orang tua:
“Anak pintar, ayok berhenti main apinya lebih seru main mobil-mobilan sama Ibu yuk.”
“Anak sholeh ayok berhenti main airnya, lebih baik main boneka sama mama yuk.”
“Kakak baik, ayo adeknya disayang yaaa…”
“Anak pinter ayo belajar bareng Ibu, besok khan sekolah jadi biar tambah pinter lagi yuk.”
Pola komunikasi seperti itulah yang dinamakan pola komunikasi positif, dimana orang tua menunjukkan rasa sayang, dukungan, kepercayaan, optimis penuh percaya diri, tidak men-CAP/me-LABEL anak dengan hal yang negative. Apa manfaatnya dari komunikasi positif tersebut, anak menjadi tahu mana yang lebih baik dilakukan dan mana yang harus dihentikan, anak menjadi belajar untuk berperilaku yang dapat diterima oleh lingkungan dengan respon yang baik, anak menjadi percaya diri karena merasa dirinya mampu melakukan yang terbaik.
Terciptanya komunikasi positif antara orangtua dan anak akan memberikan dampak yang baik pula pada pencapaian hasil belajar sang anak. Perlu diketahui bahwa kemampuan intelektual yang dimiliki oleh sang anak akan optimal apabila lingkungan membangun interaksi yang menyenangkan kepada sang anak, khususnya interaksi kepada orangtua. Kendala-kendala yang dihadapi anak dalam proses belajar akan dengan mudah dikomunikasikan oleh anak kepada orangtua dan orangtua secara tidak langsung  dipercaya oleh sang anak untuk menyelesaikan kendala yang dihadapinya.

Adapun teknik-teknik dalam berkomunikasi dengan anak yang dapat dijadikan referensi oleh orangtua, yaitu:
1. Memperdalam percakapan
Teknik ini dapat diterapkan pada anak usia 6 – 12 tahun. Cara ini dapat membuat anak merasa dekat dengan orangtuanya. Misalnya, jika anak mengatakan, “aku suka Raihan” orangtua dapat meresponnya dengan berkata, “coba, katakan pada Ayah/Ibu hal-hal yang membuat kamu suka Raihan”.
2. Lelucon
Lelucon adalah teknik yang dapat menyelamatkan orangtua dari kemungkinan marah dan dapat diterapkan untuk semua umur. Lelucon dapat membantu orangtua mengeluarkan segala ketegangan sepanjang hari ataupun ketegangan yang dialaminya bersama anak.
3. Menggambarkan
Teknik dapat diterapkan pada anak semua umur. Cara ini digunakan dengan mengambarkan masalah yang dimiliki orangtua, tanpa menyalahkan atau menyerang anak. Untuk mencapai tujuan orangtua harus dapat menerima kenyataan bahwa orangtualah yang memiliki masalah, bukan anak. Misalnya bagi anak, kamar yang berantakan atau rambut yang tidak disisir bukan masalah buat mereka, namun merupakan masalah bagi orangtua.
Teknik ini juga bisa mengajarkan anak bertanggung jawab terhadap solusinya. Daripada berteriak pada anak, contohnya, orangtua dapat menggambarkan masalah pada anak. Kalimat “Ibu melihat ada handuk basah di kamar mandi” pesannya sama dengan teguran “sudah berapa kali Ibu bilang bahwa kamu tidak boleh meninggalkan handuk basah di kamar mandi”.
Orantua juga dapat mengambarkan masalah yang membutuhkan pemecahan dengan mengunakan satu kata. Dengan mengatakan “handuk basah” anak akan mengerti bahwa yang dimaksud orangtuanya adalah ia harus mengambil dan menjemur handuk basah di tempatnya.
4. Pesan “saya”
Pesan “saya” atau “I messages” adalah salah satu cara berkomunikasi yang sangat berpengaruh terhadap lancarnya komunikasi orangtua dan anak. Teknik ini akan membuat anak merasa dihargai orangtua dan merasa terlibat dengan perasaan atau keinginan orangtua. Sayangnya, kebanyakan orangtua lebih suka mengunakan kata “kamu” daripada “saya”. Misalnya “kamu kok susah sekali dikasih tau, sudah berapa kali Ibu bilang, kulit pisang itu dibuang dimana?” Padahal kata “kamu” akan mengeluarkan reaksi defensif dari anak berupa aksi melawan. Reaksi ini lebih jelas terlihat pada remaja.
Karenanya, jauh lebih menguntungkan bila orangtua membiasakan diri mengunakan kata “saya” diawal kalimat, khususnya ketika meminta anak melakukan perbuatan yang dikehendaki orangtua. Salah satu contoh pesan “saya” adalah Ibu/Ayah marah kalau kulit pisang dibuang ditengah jalan karena kulit pisang itu akan membuat orang yang menginjaknya terpeleset dan jatuh.
Pesan “saya” menghubungkan perasaaan kepada konsekuensi, bukannya pribadi anak. Hal ini juga akan mengkomunikasikan nilai dan perhatian orangtua terhadap anaknya. Salah satu contoh dari pesan “saya” untuk anak yang lebih tua dapat berupa kekhawatiran sebagai berikut: “Ibu khawatir kalau abang pulang terlambat dan tidak memberitahu Ibu karena Ibu takut sesuatu terjadi pada diri abang”.
5. Pernyataan terbuka
Teknik komunikasi dengan pernyataan terbuka (open ended question) adalah cara lain dari alat yang dapat membuat anak terangsang untuk berbicara dengan orangtua. Pertanyaan terbuka membuat anak harus menjawab lebih dari satu kata. Sebaliknya pertanyaan yang hanya membutuhkan satu kata sebagai pertanyaan adalah pertanyaan tertutup. Contoh “berapa umur kamu” atau “kamu sekarang kelas berapa?” dengan satu kata saja kedua pertanyaan tersebut sudah terjawab.
Untuk melatih anak memperluas percakapan, gunakanlah pertanyaan terbuka seperti “apa saja yang kamu sukai hari ini di sekolah?” atau “apa yang terjadi dengan tes membaca alquran hari ini?” Memang mungkin terjadi anak akan menjawab “tidak terjadi apa-apa”. Apabila hal itu terjadi ada dua pendekatan yang dapat dilakukan. Pertama, tinggalkan anak sendiri karena anak belum siap untuk membicarakan apa yang dialaminya hari itu. kedua, gunakan teknik lain seperti memperdalam pertanyaan pertanyaan dan refleksi. Beberapa anak memiliki kesukaran dalam mengekspresikan pikiran dan perasaaannya. Mengunakan teknik yang bervariasi secara bersamaan diketahui lebih efisien dan membantu memperlancar komunikasi.
Umumnya anak yang lebih tua memliki kemampuan berkomunikasi yang lebih baik daripada anak yang lebih muda. Namun, orangtua dapat mengunakan teknik ini pada anak pra-sekolah dalam rangka membangun kemapuan berbahasa anak. Kenyataanya, kemapuan komunikasi dapat menurunkan agresifitas anak, seperti saling memukul yang merupakan salah satu tanda reaksi dari frustasi. Pertanyaan terbuka juga mengajarkan anak untuk belajar mendapatkan apa yang diinginkannya.

No comments for "Parenting: Pentingnya Membangun Komunikasi Positif dengan Anak"

Berlangganan via Email