Model pendidikan dan Model Intervensi Anak Gifted

Model pendidikan Anak Gifted dan Model Intervensi pada Berbagai Masalah Anak Gifted




1. Model pendidikan anak gifted  “Program Akselerasi”
Membahas mengenai dasar pendididkan bagi anak berbakat/gifted maka pembahasan akan dimulai pada penjelasan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Bab II Pasal 3 yang menyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Berkiblat dari Undang-undang tersebut maka pemerintah menyelenggarakan program akselerasi yang merupakan salah satu implementasi dari Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 5 ayat 4, yaitu  “Bahwa warga Negara yang memiliki kercerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus” (Hawadi, 2014). Senada dengan Somantri (2005) yang memaparkan bahwa salah satu model pendidikan yang bisa dikatakan efektif untuk diberikan kepada anak berbakat adalah model pendidikan percepatan belajar atau lebih umum disebut akselerasi.
Adapun definisi dari akselerasi adalah Colangelo (Hawadi, 2004) memaparkan bahwa istilah akselarasi menunjuk pada pelayanan yang diberikan (service delivery), dan kurikulum yang disampaikan (currikulum delivery). Sebagai model pelayanan, pengertian akselarasi termasuk juga taman kanak-kanak atau perguruan tinggi pada usia muda, meloncat kelas, dan mengikuti pelajaran tertentu pada kelas di atasnya. Sementara itu, sebagai model kurikulum, akselarasi berarti mempercepat bahan ajar dari yang seharusnya dikuasai oleh siswa saat itu. Dalam hal ini, akselarasi dapat dilakukan dalam kelas reguler, ruang sumber, ataupun kelas khusus dan bentuk akselarasi yang diambil bisa telescoping dan siswa dapat menyelesaikan dua tahun atau lebih kegiatan belajarnya menjadi satu tahun dengan cara self-paced studies, yaitu siswa mengatur kecepatan belajarnya sendiri.
Selanjutnya pelaksanaan program akselerasi tidak terlepas dari manfaat yang ditimbulkannya begitupun dengan kelemahan yang dapat menggoyahkan eksistensi program akselerasi di Inodonesia. Menurut Hawadi (2004) manfaat yang diperoleh anak berbakat pada program akselerasi adalah anak mampu melakukan proses belajar yang efisien, efektif, memperoleh penghargaan dalam proses belajarnya, pemanfaatan waktu untuk melakukan proses pengembangan diri, dan menempatkan siswa pada kelompok siswa yang memiliki kesetaraan dalam hal kapasitas intelektual. Sedangkan kelemahan program akselerasi adalah kemungkinan terdapat anak yang immature dalam hal sosial, fisik, dan emosional meskipun secara kognitif sangat berkembang pesat.
Pendapat lain dipaparkan dalam hasil penelitian yang dilakukan Colangelo (2010) yang menjelaskan bahwa intervensi pendidikan dengan percepatan akademik (akselerasi) adalah jelas efektif untuk siswa berkemampuan tinggi. Dukungan penelitian untuk percepatan akademik ini telah terakumulasi selama beberapa dekade secara kuat dan konsisten serta memungkinkan kita untuk percaya diri menyatakan bahwa keputusan percepatan direncanakan dengan hati-hati dan sukses. Program akselerasi yang diwujudkan dalam sebuah kelas kaselerasi merupakan intervensi yang efektif dalam domain akademik dan sosial-emosional bagi siswa yang memiliki kemampuan akademik yang sangat optimal. Sehingga masyarakat sering memandang bahwa anak yang bergabung dalam kelas akselerasi secara akademik lebih unggul dibandingkan anak kelas regular, begitupun dengan perkembangan aspek emosi dan sosial yang lebih matang dibandingkan siswa reguler.
Keberadaan program akselerasi sendiri mulai di uji coba sejak tahun 1999 dan mulai didukung oleh pemerintah secara penuh sejak tahun 2010 (Asosiasi Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa Nasional, 2011). Bagi sekolah yang menyelenggarakan program akselerasi maka akan diberikan dana penunjang khusus untuk keberlangsungan program tersebut. Namun, sejak akhir tahun 2014 terkuak wacana bahwa program akselerasi akan dihapuskan dan akan diganti dengan sistem kredit (SKS) dan wacana tersebut akhirnya terbukti dengan dihapuskannya seluruh kelas akselerasi yang ada di Indonesia pada tahun ajaran 2015-2016. Program akselerasi dihapuskan ditenggarai oleh beberapa alasan yaitu program akselerasi bentrok dengan kurikulum 2013 yang akan diterapkan pada tahun ajaran 2015-2016 nantinya, program akselerasi kurang melatih keterampilan sosial siswa karena bersifat eksklusif atau terdisintegrasi, dan banyaknya manipulasi data dari sekolah yang hanya tergiur dengan dana tambahan jika menerapkan program akselerasi di sekolahnya (misalnya manipulasi data skor IQ, minimal 130 untuk bergabung dalam kelas akselerasi) tanpa mempertimbangkan keefektifan pelaksanaan program akselerasi (Gatot, 2012).
Hawadi (2004) juga menawarkan beberapa model layanan pendidikan untuk anak berbakat kepada pemerintah, yaitu:
a. Akselerasi bidang studi, model akselerasi ini bisa hanya diberikan untuk satu mata pelajaran yang menonjol dan sangat dikuasai siswa;
b. Mentorship, layanana ini diberikan oleh sekolah jika di sekolah tersebut hanya terdapat satu siswa yang berbakat. Model pelayanan ini dikenal dengan mentorship atau self paced instruction;
c. Kelas super Saturday, merencanakan program setiap hari sabtu untuk anak berbakat yang bertujuan untuk menfasilitasi pengembangan potensi anak berbakat; dan
d. Sertifikasi bagi guru pengajar gifted, hal tersebut bertujuan untuk menjamin  dan menjaga kualitas layanan pendidikan untuk anak berbakat karena dikhawatirkan jikan kualitas guru tidak dipersiapkan dengan baik ditakutkan guru yang mengajar memiliki kemampuan intelektual di bawah dari siswa yang diajarinya.
2. Model pembelajaran “Terdifferensiasi”
Strategi pembelajaran yang efektif untuk anak berbakat dengan merancang model pembelajaran yang terdifferensiasi sehingga semua kebutuhan anak berbakat bisa terpenuhi (Amin, 2009). Pemaparan strategi pembelajaran terdiferensiasi yang dapat diterapkan pada anak berbakat berkaitan dengan kemampuan pengajar untuk melakukan modifikasi lima unsur dalam kegiatan pembelajaran (Mukti dan Sayakti, 2003 dalam Amin, 2009), yaitu:
a. Materi pelajaran
Guru bertanggung jawab untuk memastikan bahwa semua siswa mempelajari materi pelajaran dalam kurikulum yang harus dikuasai siswa. Namun guru tidak harus mengajarkan materi pelajaran tersebut pada semua siswa. Artinya siswa yang telah menguasai kompetensi atau bahan ajar tertentu boleh mengurangi waktu yang diperlukan untuk menguasai kompetensi dan bahan ajar itu. Mereka boleh meloncatinya. Materi pelajaran dapat dimodifikasi melalui berbagai kegiatan pembelajaran, yaitu:
1) Pemadatan materi pelajaran
Terdapat langkah untuk memadatkan materi pelajaran, yaitu, (a) tentukan tujuan pembelajaran pada materi yang akan diajarkan; (b) cari cara yang sesuai untuk mengevaluasi tujuan pembelajaran tersebut; (c) identifikasi siswa yang mungkin telah menguasai tujuan (atau dapat menguasainya dengan cepat); (d) evaluasi siswa-siswa tersebut untuk menentukan tingkat penguasaan; (e) kurangi waktu yang diperlukan siswa untuk mempelajari materi yang telah dikuasai; (f) berikan pelajaran pada sekelompok kecil atau siswa secara individu yang belum menguasai tujuan pembelajaran di atas, tetapi dapat menguasainya lebih cepat dari teman-teman lainnya; (g) dokumentasikan kegiatan belajar pengganti yang lebih menantang yang sesuai dengan minat siswa; (h) dokumentasikan proses pemadatan dan opsi pembelajaran.
2) Studi intradisipliner
Studi interdisipler merupakan studi yang melibatkan berbagai disiplin ilmu dalam rangka mengkaji atau memecahkan satu permasalahan atau satu topik. Oleh karena itu, guru mata pelajaran yang ingin memodifikasi tema atau topik tertentu dari materi pelajaran, dapat bekerja sama dengan guru mata pelajaran lain yang relevan. Guru membentuk team teaching dalam menjelaskan suatu topik tertentu. Dengan demikian para siswa akan mendapat wawasan yang komprehensif tentang topik yang dibahas. Memang ada satu kesulitan dalam membentuk team teaching tersebut, yaitu kekompakan sering menjadi kendala.
3) Kajian mendalam
Cara ini dilakukan oleh siswa berbakat bila mereka sudah siap dengan kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan, waktu dan energi yang dibutuhkan untuk tugas ini. Minat siswa pada suatu topik merupakan penentu utama dari kemauan untuk mengeksplorasi topik itu secara mendalam.
b. Proses
Belajar adalah membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Dengan kata lain suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil bila dalam diri invidu terbentuk pengetahuan, sikap, keterampilan atau kebiasaan baru yang secara kualitatif lebih baik dari sebelumnya. Proses pembelajaran yang ideal adalah pembelajaran yang di dalamnya terdapat interaksi multi arah antara guru dengan siswa secara individu, guru dengan siswa secara kelompok, siswa dengan siswa secara individu dan siswa dengan kelompoknya serta kelompok siswa dengan kelompok siswa yang lain.
Banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh guru untuk memodifikasi proses pengajaran dan pembelajaran, antara lain dengan:
1) Mengembangkan kecakapan berpikir.
Siswa berbakat perlu mengembangkan kecakapan berpikir analitis, sintesis, evaluasi, problem solving, organisasional, kritis dan kreatif. Guru dapat mengajarkan secara langsung kecakapan ini atau memadukannya dalam materi pelajaran. Kecakapan berpikir juga bisa dikembangkan melalui teknik bertanya. Menggunakan pendekatan student centered, yang menekankan perbedaan individual setiap anak, dan lebih terbuka (divergent) untuk memberikan kesempatan mobilitas yang tinggi pada anak. Selain itu, menerapkan pendekatan pembelajaran kompetitif seimbang dengan pendekatan pembelajaran kooperatif. Melalui pendekatan pembelajaran kompetitif anak dirangsang untuk berprestasi setinggi mungkin dengan cara berkompetisi secara sehat.
2) Hubungan dalam dan lintas disiplin
Hal ini dilakukan untuk memberikan pengalaman dan wawasan yang komprehensif dari berbagai disiplin yang relevan terhadap suatu topik tertentu. Dalam konteks ini, dimungkinkan seorang siswa itu hanya unggul pada suatu disiplin tertentu sedangkan siswa yang lain unggul pada disiplin lainnya, oleh karena itu mereka akan saling membutuhkan dan terjadilah kerjasama. Dengan demikian pendekatan pembelajaran yang dipergunakan adalah pendekatan pembelajaran kooperatif. Hal tersebut berarti bahwa dalam diri setiap anak dikembangkan jiwa kerjasama dan kebersamaan. Mereka diberi tugas dalam kelompok kemudian secara bersama mengerjakan tugas dan mendiskusikannya. Penekanannya adalah kerjasama dalam kelompok dan kerjasama dalam kelompok ini yang dinilai.
3) Studi mandiri
Sebagian siswa berbakat senang bekerja sendiri, mulai dari menentukan topik yang menjadi fokus pembelajaran, menentukan cara dan waktu penyelesaian, menentukan sumber pembelajaran, dan menentukan format hasil akhir dari pembelajarannya. Guru dapat memfasilitasi pembelajaran mandiri dengan cara mengelompokkan siswa berdasarkan minat yang sama. Bila seorang siswa benar-benar ingin lebih mendalami suatu topik, guru bisa menawarkan satu kontrak pembelajaran mandiri bagi siswa yang bersangkutan
c. Produk
Dalam memodifikasi produk atau hasil, guru dapat mendorong siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah dipelajari atau dikerjakan ke dalam beragam format yang mencerminkan pengetahuan maupun kemampuan untuk memanipulasi ide. Misalnya daripada meminta siswa untuk menambah jumlah halaman laporan dari suatu bab, guru bisa meminta siswa untuk mensintesis pengetahuan yang telah diperoleh. Guru juga bisa memberikan kesempatan kepada siswa berbakat untuk menginvestigasi masalah nyata yang terjadi disekitarnya dan mempresentasikan solusinya.
d. Lingkungan Belajar
Antara lingkungan dan individu terjalin sebuah proses interaksi yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. Individu seringkali terbentuk oleh lingkungan, begitu juga sebaliknya lingkungan dibentuk oleh individu (manusia). Perilaku individu dapat menyebabkan perubahan lingkungan baik bersifat positif ataupun negatif. Perubahan positif berarti menimbulkan perubahan ke arah perbaikan, penyempurnaan atau penambahan. Iklim belajar di kelas sebagai salah satu lingkungan bagi para siswa merupakan faktor yang mempengaruhi secara langsung pada gaya belajar dan minat siswa. Sikap guru sangat menentukan iklim di dalam kelas.
Lingkungan belajar yang sesuai adalah yang mengandung kebebasan memilih dalam satu disiplin, kesempatan untuk mempraktikkan kreativitas, interaksi kelompok, kemandirian dalam belajar, kompleksitas pemikiran. keterbukaan terhadap ide, mobilitas gerak, menerima opini, dan melakukan proses belajar hingga ke luar ruang kelas. Untuk itu guru harus mampu membuat pilihan-pilihan yang sesuai mulai dari apa yang akan diajarkan, bagaimana mengajarkannya, materi dan sumber daya apa yang perlu disediakan hingga bagaimana mengevaluasi pertumbuhan belajar siswa. Pemanfaatan lingkungan sekitar dalam proses pembelajaran dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, yakni dengan cara membawa siswa ke masyarakat.
e. Evaluasi
Memodifikasi evaluasi berarti menentukan suatu metode untuk mendokumentasikan penguasaan materi pelajaran pada siswa berbakat. Guru harus memastikan bahwa siswa berbakat memiliki kesempatan untuk mendemonstrasikan penguasaan materi pelajaran sebelumnya ketika akan mengajarkan pokok bahasan, topik atau unit baru mata pelajaran.
3. Model intervensi pada berbagai masalah anak gifted
a. Intervensi anak gifted yang berprestasi kurang (underachiever) dan anak gifted yang bermotivasi kurang
Menurut Wahab (2005b) peran keluarga dapat dioptimalkan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang dialami anak berbakat underachiever dalam mencapai hasil belajar yang optimal.

Berikut pemaparan beberapa strategi yang dapat ditempuh oleh pihak keluarga untuk meningkatkan prestasi sang anak:
1) Strategi Supportif
Anak-anak berbakat yang hidup dalam iklim keluarga yang saling menghargai, demokratis, dan saling memahami kebutuhan masing-masing anggota keluarga sangat mendukung dan memberikan umpan balik yang positif terhadap beberapa keterbatasan yang dimiliki oleh sang anak (Rimm, 1986 dalam Wahab, 2005b).
2) Strategi Instrinsik
Anak berbakat tidak akan bahagia dan merasa sempurna sampai dia menggunakan kemampuannya sampai pada tingkat yang optimal. Oleh karena itu harusnya orangtua melihat dan memahami kondisi sang anak sehingga dapat memberikan bantuan yang sesuai. Memberikan suatu lingkungan pendidikan yang menunjang pemenuhan kebutuhan belajar anak sangat menstimulasi kemampuan anak yang baik dalam proses belajarnya. Anak yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi dengan mudahnya akan menjadi redam, jika lingkungan pendidikan tidak menstimulasi; penempatan kelas dan pendekatan mengajar yang tidak tepat; anak mengalami guru yang tidak efektif; atau tugas yang secara konsisten terlalu sulit atau mudah bagi sang anak.
3) Pressure versus encouragement
Bagi orangtua hal yang penting juga untuk diperhatikan adalah sikap mereka terhadap proses dan hasil belajar yang dilakukan oleh sang anak. Terkadang orangtua terlalu menekan proses dan hasil belajar sang anak tanpa mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan khusus yang dimiliki oleh sang anak dalam memenuhi kebutuhannya. Padahal yang dibutuhkan oleh sang anak adalah dorongan bukan tekanan. Dorongan yang dimaksud adalah usaha-usaha konkrit yang dilakukan oleh sang anak untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan mengatasi permasalahan yang dihadapinya.
Sedangkan intervensi yang dapat diberikan kepada anak yang bermotivasi kurang adalah dengan memberikan bimbingan konseling yang continue pada sang anak (2009). Sehingga anak merasa bahwa dirinya cukup diperhatikan dan diharapkan untuk melakukan proses belajar atau pengembangan potensi yang sesuai dengan potensi luar biasa yang dimilikinya. Pemberi konseling tidak hanya terpaku pada guru BK, melainkan keterlibatan orangtua dan teman sebaya juga sangat membantu untuk meningkatkan motivasi sang anak. Berbicara mengenai konseling, penelitian yang dilakukan oleh Kerr dan Erb (1991) juga secara khusus mengkaji efektivitas konseling karir pada anak berbakat dengan talenta tertentu agar memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Konseling karir dianggap penting mengingat bahwa tidak semua anak berbakat atau keluarga anak berbakat memahami kondisi keberbakatan yang dimiliki.
b. Intervensi anak gifted yang mengalami masalah sosial dan emosi
Penelitian yang dilakukan oleh Diezmann dan Watters (1997) memaparkan bahwa salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh individu-individu yang berada di sekitar anak berbakat adalah memodifikasi lingkungan anak berbakat tersebut. Modifikasi lingkungan dalam hal ini adalah bagaimana lingkungan anak berbakat didesain untuk sedemikian rupa sehingga bisa mendukung dan mengakomodasi pengembangan potensi yang dimiliki oleh sang anak. Hal senada juga dikemukakan oleh Blackett dan Webb lingkungan anak berbakat khususnya lingkungan keluarga dengan keberdaan orangtua yang menyadari dan memahami kondisi sang anak akan sangat berpengaruh positif bagi perkembangan emosi dan sosial anak berbakat. Orangtua yang selalu mengarahkan sang anak ke arah pengembangan potensi dan senantiasa memberikan kesadaran diri yang positif anak terhadap kerberbakatan yang dimilikinya. Ketika anak mendapatkan perlakuan sesuai dengan kemampuannya dan menyadari sepenuhnya bahwa dirinya memang berbeda dari teman sebayanya maka anak akan paham bagaimana cara berperilaku di dalam masyarakat. Masalah emosi dan sosial pada anak berbakat dianggap penting mengingat anak berbakat itu sendiri memiliki unsur dramatis yang bisa menghantarkan sang anak pada jurang permasalahan, seperti adanya perkembangan yang tidak sinkron, rangsangan dari lingkungan terlalu berlebihan, anak memiliki cara berfikir dan gaya belajar yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya.
c. Intervensi anak gifted yang mengalami masalah hambatan berbicara
Adapun langkah efektif yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk menangani hambatan berbicara anak yang mengalami masalah fonologi atau artikulasi, yaitu (Tiel, 2008):
1) Orangtua sebagai pelaku guru pertama dalam hidup sang anak diharapkan selalu menstimulasi kemampuan artikulasi anak dengan baik. Misalnya selalu membangun komunikasi verbal dengan anak sehingga anak senantiasa terbiasa menggunakan komunikasi verbal dan apabila terdapat kesalahan artikulasi, orangtu bisa langsung memberikan contoh yang tepat bagi sang anak,
2) Mendaftarkan sang anak untuk mengikuti speech therapy, dan
3) Orangtua dituntut untuk aktif bekerjasama dengan guru pendamping siswa di sekolah, sehingga orangtua juga terlibat aktif dalam penanganan masalah sang anak.


DAFTAR PUSTAKA
Amin. (2009). Pembelajaran Berdiferensiasi: Alternatif Pendekatan Pembelajaran bagi Anak Berbakat. Jurnal Edukasi,  1(1): 57 – 67.
Asosiasi Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa Nasional. (2011). Sejarah program akselerasi di Indonesia (Online). https://asosiasicibinasional.wordpress.com/2011/08/13/sejarah-program-akselerasi-di-indonesia/. Di akses tanggal 1 Agustus 2015.
Blackett, R & Webb, J. T. (2011). The social-emotional dimension of gifted: The SENG support model. The Australasian Journal of Gifted Education, 20(1): 1-14. http://www.thinkingahead.com.
Colangelo, dkk. (2010). Guidelines for developing an academic acceleration policy. Journal of Advanced Academics, 20(1), 180–203.
Diezmann, C. M., & Watters, J. J. (1997). Bright but bored: Optimising the environment for gifted children. Australian Journal of Early Childhood, 22(2), 17-21.
Gatot. (2014). Berbenturan dengan K13, mulai 2015 kelas akselerasi distop (Online). http://radarpena.com//read/2014/10/14/12151/6/2/Berbenturan-dengan-K13-Mulai-2015-Kelas-Akselerasi-Distop. Di akses tanggal 1 Agustus 2015.
Hawadi. (2004). Akselerasi, A-Z informasi program percepatan belajar dan anak berbakat intelektual. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Hoogeveen, L., Hell, J. G. V &Verhoeven, L. (2011). Social-emotional characteristics of gifted accelerated and non-accelerated students in the Netherlands. British Journal of Educational Psychology, 1(1): 1-21. DOI:10.1111/j.2044-8279.2011.02047.
Kerr, B & Erb, C. (1991). Career counseling with academically talented students: Effects of a value-based intervention. Journal of Counseling Psychology, 38(3): 309-314. Doi.org/10.1037/0022-0167.38.3.309.
Mangunsong, F. (2009). Psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khusus, Jilid dua. Depok: LPSP3.
Misero, P. S & Hawadi, L. F. (2012). Adjustment Problems dan Psychological Well-Being pada Siswa Akseleran (Studi Korelasional pada SMPN 19 Jakarta dan SMP Labschool Kebayoran Baru). Jurnal Psikologi Pitutur, 1(1): 68-80.
Munandar, U. (2009). Pengembangan kreatifitas anak berbakat. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Sarwindah, D. (2006). Diktat kuliah psikologi anak khusus. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945.
Shihab, I. A. (2012). Problems Affecting Gifted Children In Jordanian Schools. American Journal of Health Sciences, 3(4): 301-310. The Clute Institute http://www.cluteinstitute.com.
Somantri, S. (2005). Psikologi anak luar biasa. Bandung: Refika Aditama.
Student Support Services. (2000). Communication disorders (e-book). Durham District School Board: http://www.ed.gov.nl.ca/edu/k12/studentsupportservices/publications/CommunicationDisordersHandbook.pdf. Diakses tanggal 18 Juni 2015.
Suharmini, T. (2007). Psikologi anak berkebutuhan khusus. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Tiel, J.M.V. (2008). Anakku terlambat bicara. Jakarta: Prenada Media Group.
Wahab. R. (2005a). Mengenal anak berbakat akademik dan upaya mengidentifikasinya.. Prosiding Keberbakatan,  Psikologi Universitas Diponegoro.
Wahab. R. (2005b). Peranan orangtua dan pendidik dalam mengoptimalkan potensi anak berbakat akademik. Prosiding Keberbakatan,  Psikologi Universitas Diponegoro.

No comments for "Model pendidikan dan Model Intervensi Anak Gifted"

Berlangganan via Email