Intervensi: Strategi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus

Intervensi: Strategi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus




Strategi pembelajaran sering disebut dengan istilah strategi interaksional. Strategi pembelajaran selalu berkaitan dengan pemilihan  kegiatan belajar yang efektif dan efisien dalam memberikan pengalaman belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan instruksional yang ditetapkan. Strategi instruksional digunakan untuk mencapai suatu tujuan instruksional tertentu bagi seseorang atau sekelompok siswa, belum tentu tepat dan baik digunakan untuk mencapai tujuan instruksional pada seorang siswa atau sekelompok siswa dalam situasi dan  kondisi yang berbeda. Karena itu, pemilihan strategi instruksional perlau dimiliki oleh setiap guru, khususnya guru sekolah inklusi (Mangunsong, 2009).

Menurut Depdikbud (dalam Mangunsong, 2009) strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang dipilih oleh guru dalam proses belajar mengajar, yang dapat memberikan kemudahan atau fasilitas kepada siswa menuju kepada tercapainya tujuan instruksional tertentu yang telah ditetapkan. Ormrod (2008) mengemukakan bahwa semua aktivitas yang merupakan aspek-aspek penting dalam pengajaran yang afektif dan berdampak pada pembelajaran dan prestasi optimal siswa di kelas menjadi bagian dalam strategi instruksional dalam guru di kelas. Penentuan strategi instruksional harus tergantung pada sedikitnya tiga pertimbangan, yaitu: tujuan instruksional dari pelajaran, bentuk dan isi dari materi pelajaran, dan karakteristik serta kemampuan dari para siswanya. Hal yang perlu diperhatikan adalah bukan memilih strategi pengajaran tunggal yang terbaik tertapi lebih pada bagaimana berbagai strategi dapat kurang atau lebih tepat digunakan dalam konteks-konteks yang berbeda. Sehingga, strategi instruksional dapat dikatakan mencakup metode maupun teknik pengajaran (Mangunsong, 2009).

Berdasarkan definisi dari dari strategi pembelajaran diatas perlu ditempuh langkah-langkah secara sistematis. Cartwright dan Cartwright (dalam Mangunsong, 2009) menentukan langkah-langkah model pembelajaran sebagai berikut:
(1). Identifikasi atribut. Identifikasi atribut ini berkaitan dengan perilaku atau minat-minat tertentu bagi guru,
(2). Menentukan tujuan pengajaran. Memaparkan apa yang harus bisa dicapai anak setelah selesai mendapatkan satu pengalaman belajar. Ada 4 ranah dalam pengajaran., (1) keterampilan ranah gerak motorik bisa ditekankan pada siswa-siswa dengan ganguan fisik, kesehatan, cacat ganda dan cacat penglihatan. (2) kecakapan di ranah sosial bisa ditingkatkan untuk para siswa dengan gangguan emosional parah. (3) kecakapan diranah komunikasi perlu dikembangkan untuk anak-anak tuli-buta, gangguan bicara dan gangguan penglihatan. (4) kurikulum diranah kognitif ditekankan untuk anak-anak yang memiliki keterbelakangan mental dan mengalami gangguan belajar.
(3). Pemilhan strategi. Langkah ini dilakukan setelah langkah penetapan tujuan. Strategi-strategi ini adalah aktivitas-aktivitas yang dipilih oleh guru untuk menuntun anak mencapai tujuan yang ditetapkan.
(4). Pemilihan materi atau bahan. Pada langkah ini dilakukan pemilihan materi atau bahan-bahan yang sesuai untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan.
(5). Uji strategi dan materi. Untuk melihat apakah program pengajaran atau strategi pengajaran berhasil atau tidak.
(6). Evaluasi performansi. Melakukan pengamatan terhadap perilaku anak apakah sudah sesuai dengan perilaku yang dijabarkan dalam tujuan.

Kegiatan belajar-mengajar khususnya di sekolah inklusif hendaknya dirancang sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang kegiatan belajar mengajar pada kelas inklusif antara lain :
1. Merencanakan Kegiatan Belajar Mengajar. Guru harus merencanakan pengelolaan kelas, merencanakan pengelolaan kegiatan belajar mengajar dan merencanakan penggunaan sumber belajar.
2. Melaksanakan Kegiatan belajar Mengajar. Guru mengimplemetasikan metode, sumber belajar dan bahan latihan sesuai dengan kemampuan awal dan karakteristik siswa serta dengan tujuan pembelajaran. Selain itu, guru juga harus mendorong siswa untuk terlihat secara aktif ketika proses belajar mengajar sedang berlangsung.
3. Membina Hubungan Antarpribadi. Guru bersikap terbuka, toleran dan simpati terhadap siswa dan mengelola interaksi antarpribadi.
4. Melaksanakan Evaluasi. Melakukan penilaian selama kegiatan belajar mengajar berlangsung baik secara lisan tertulis maupun pengamatan dan melakukan feedback.


Mangunsong (2009) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran yang tepat dapat membantu siswa dalam mencapai pembelajaran dan prestasi optimal siswa dikelas. bagi guru dapat menuntun siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang tepat, membantu guru dalam mengatasi perilaku bermasalah dari siswa, dan membantu guru untuk menyesuaikan perilaku serta cara mengajar guru dengan kebutuhan siswa khususnya kebutuhan anak berkebutuhan khusus.

No comments for "Intervensi: Strategi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus"

Berlangganan via Email