Intervensi: Social Skills Training untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial Anak

Intervensi: Social Skills Training untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial Anak





Gresham mendefinisikan social skills training (SST) sebagai sarana pembelajaran perilaku sosial yang membantu individu dalam berinteraksi secata efektif dengan orang lain dan tidak memperlihatkan perilaku penghindaran pada situasi sosial atau perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial. SST Mengajarkan keterampilan prososial kepada siswa yang memiliki masalah perilaku, seperti mengajarkan kemampuan mendengar yang baik, mengarahkan untuk berkontribusi pada diskusi kelas, dan mengabaikan gangguan yang ada di lingkungan. Sesungguhnya frekuensi perilaku prososial berbanding terbalik dengan frekuensi perilaku bermasalah individu. Ketika individu mampu mengatasi masalah perilakunya maka prestasi akademik individu memiliki potensi untuk meningkat (Scott, 2013).
Adapun tujuan utama SST adalah untuk mengajar siswa keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan pengalaman pendidikan mereka. Selain itu penggunaan SST pun mampu meningkatkan kualitas hubungan yang memuaskan siswa ke guru dan hubungan siswa ke teman sebaya, serta dapat pula meningkatkan kinerja akademik siswa (Mc Ginnis, 2012 dalam Scott, 2013). Elliott dan Gresham (Elliott, Malecki  & Demaray, 2001) sebelumnya juga memaparkan bahwa social skills training (SST) memiliki empat tujuan utama yaitu mempromosikan akuisisi keterampilan sosial (social skills acquisition deficits), meningkatkan kinerja keterampilan sosial (social skills performance deficits), mengurangi atau menghilangkan masalah perilaku yang menyertai keterampilan sosial yang rendah (interfering problems behavior), dan menfasilitasi generalisasi dan pemeliharaan keterampilan sosial pada individu. Elliott, Malecki, dan Demaray (2001) pun menyimpulkan bahwa beradasarkan ulasan literatur baik secara kualitatif dan kuantitatif memaparkan beberapa penelitian tentang pelatihan keterampilan sosial (social skills training) membuktikan pelatihan tersebut dapat meningkatkan perilaku sosial anak-anak.
Gresham, cook, dan Crews (2004) juga melakukan review literatur tentang SST pada anak yang telah atau beresiko memiliki gangguan emosi dan perilaku. Gangguan emosi dan perilaku dalam hal ini adalah kesulitan yang dialami oleh anak dalam membangun dan memelihara hubungan interpesonal yang memuaskan, menunjukkan perilaku prososial, dan penerimaan yang baik dari teman dan guru di sekolah. SST secara luas didefinisikan sebagai intervensi perilaku, kognitif, dan sosial yang diharapkan dapat melatih keterampilan sosial yang spesiifik dan/atau pengulangan pada keterampilan sosial yang rendah pada individu (Gresham, cook, & Crews, 2004). Kesimpulan dari review literatur Gresham, cook, dan Crews (2004) tersebut memaparkan bahwa SST telah efektif untuk menangani anak yang mengalami masalah emosi dan perilaku. Pada analisis validitas ekternal juga membuktikan bahwa SST telah efektif menangani masalah yang beragam seperti agresi, perilaku eksternal, perilaku internal, maupun perilaku antisosial. Walaupun sesungguhnya tidak terdapat banyak literatur yang membahas mengenai interpretasi hasil intervensi yang telah dilakukan tersebut.
Scott (2013) menjelaskan bahwa tidak ada prosedur tunggal yang ditemukan memiliki efektifitas yang konsisten dalam meningkatkan keterampilan sosial individu tetapi beberapa prosedur ditemukan efektif dibandingkan prosedur yang lain. Prosedur operant secara umum lebih efektif dibandingkan dengan prosedur social learning seperti modeling, behavioral rehearsal, dan feedback dalam meningkatkan perilaku interaksi secara sosial. Temuan lain juga menjelaskan bahwa modeling, behavioral rehearsal, dan feedback lebih efektif dibandingkan metode sosial kognitif untuk mengganti perilaku yang tidak sesuai dengan perilaku yang sesuai pada individu.
Gresham (Scott, 2013) melakukan review pada beberapa literatur social skills training (SST) pada anak yang mengalami ketidakmampuan intelektual dan perilaku. Dua puluh literatur yang direview tersebut memperlihatkan bahwa terdapat empat kategori yaitu manipulation of anticedent (peer initiations, pembelajaran atau permainan kooperatif), manipulation of consequences (penguatan kontingensi sosial, penguatan token, grup kontengensi, DRO), modeling, dan teknik coaching (behavioral rehearsal, performance feedback). Hasil review tersebut menjadi bukti yang kuat bahwa setiap teknik dalam prosedur SST efektif.
Berdasarkan kondisi klien yang mengalami social skills performance deficits dengan perilaku bermasalah secara internal yaitu klien suka menyendiri atau menarik diri dari teman-temannya maka klien akan diberikan intervensi dalam bentuk social skills training. Tujuannya adalah untuk meningkatkan social skills performance klien dalam kesehariannya di sekolah. Intervensi dalam bentuk social skills training yang dirancang akan  menggunakan metode operant. Pemilihan metode tersebut berdasarkan hasil review literatur yang dikemukakan oleh Elliott, Malecki, dan Demaray (2001) bahwa metode operant terbukti mampu memperkuat keterampilan sosial individu yang sudah ada. Dasar dari metode operant meliputi manipulasi kondisi lingkungan untuk menciptakan kesempatan interaksi sosial dengan mendorong (prompt) atau memberikan isyarat dan manipulasi konsekuensi bertujuan untuk memperkuat keterampilan sosial anak yang dinginkan (reinforcement) dan mengabaikan perilaku anak yang tidak dinginkan dibandingkan menghukumnya. Gresham dan Nagle (Scott, 2013) juga mengemukakan hal yang sama bahwa penggunaan prosedur manipulation of anticedent dan manipulation of consequences pada lingkungan individu mampu menghasilkan perubahan perilaku yang efektif siswa yang mengalami social skills performance deficit.

Sumber:

Cartledge, G & Milburn, J.F. (2005). Teaching social skills to children & youth: Innovative approaches (3rd edition). Massachussetts: Allyn & Bacon.
Elliot, S.N., Sheridan, S.M., & Gresham, F.M. (1988). Assessing and treating social skills deficits: A case study for the scientist-practitioner. Journal of School Psychologi, 27, 197-222.
Elliott, S.N., & Busse, R.T. (1991). Social skills assessment and intervention with children and adolescents: Guidelines for assessment and training procedures. Journal School Psychology International, 12, 63-83.
Elliott, S.N., Malecki, C.K., & Demaray, M.K. (2001).  New directions in social skills assessment and intervention for elementary and middle school studets. Journal Exceptionality, 9 (1&2), 19-32.
Gresham, F.M & Elliott, S.N. (1990). Social skills intervention guide. Circle Pines, MN: AGS Publishing.
Gresham, F.M., Cook, C.R., & Crews, S.D. (2004). Social skills training dor children and youth with emotional and behavioral disorders: Validity considerations and future directions. Jornal Behavioral Disorders, 30, 32-46.
Gresham, F.M., Watson, T.S., & Skinner, C.H. (2001). Fuctional behavioral assessment: Principles, procedures, and future directions. Journal School Psychology Review, 30 (2), 156-172.
Scott, E. (2013). Generalization of social skills training on distruptive classroon behavior. Tesis: Faculty of The Department of Psychology East Carolina University.

No comments for "Intervensi: Social Skills Training untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial Anak"

Berlangganan via Email