Intervensi Psikologi: Proses Resiliensi pada Remaja

Intervensi Psikologi: Proses Resiliensi pada Remaja


Menurut Emmy E. Werner (2003), sejumlah ahli tingkah laku menggunakan istilah resiliensi untuk menggambarkan tiga fenomena: (1) perkembangan positif yang dihasilkan oleh anak yang hidup dalam konteks beresiko tinggi (high-risk), seperti anak yang hidup dalam kemiskinan kronis atau perlakuan kasar orang tua; (2) kompetensi yang dimungkinkan muncul di bawah tekanan yang berkepanjangan, seperti peristiwa-peristiwa di sekitar perceraian orang tua mereka; dan (3) kesembuhan dari trauma, seperti ketakutan dari peristiwa perang saudara dan kamp konsentrasi. Untuk dapat berkembang secara positif atau sembuh dari kondisi-kondisi stres, trauma dan penuh resiko tersebut, manusia membutuhkan keterampilan resiliensi, yang meliputi: (1) kecakapan untuk membentuk hubungan-hubungan (kompetensi sosial), (2) keterampilan memecahkan masalah (metakognitif), (3) keterampilan mengembangkan sense of identity (otonomi), dan (4) perencanaan dan pengharapan (pemahaman tentang tujuan dan masa depan) (Werner & Smith, 1992). Untuk lebih jelasnya pengertian tentang resiliensi ini, berikut dikutip beberapa definisi dari sejumlah ahli, di antaranya (Desmita, 2006) :
Resiliensi adalah “The abllity to persevere and adapt when thing go awry” (Reivich & Shatte, 2002).
“Resilience is the humail capacity to face, overcorne, be strengthened by, and even be transforrned by experiences of adversity “(Grotberg, 1999).
“Resiliency is the ability to bounce back successfully despite expo sure to severe risks. A resilient community is a community focused on the protective faktors that foster resiliency for its members: (1) car-• ing, (2) high expectations and purposeful support, and (3) ongoing opportunities for mainingful participation” (Benard, dalam Krovetz, 1999).
“Resilience can be defined as the capacity to spring back, rebound, successfully adapt in the face of adversity, and develop sosial, aca- demic, and vocational competence despite exposure to severe stress or simply to the stress that is inherent in todays world” (Werner, 2003).
“Resilience is a universal capacity which allows a person, group or community to prevent, minimize or overcome the damaging effects of adversity. Resilience may transform or make stronger the lives of those who are resilient. The resilient behavior may be in response to adversity in the form of maintenance or normal development despite the adversity, or a promoter of frowth beyond the present level of functioning. Further, resilience may be promoted not necessarily be- cause of adversity, but, indeed, may be developed in anticipation of inev itable adversities” (International Resilience Proj ect, dalam Grotber, 1997).
Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa resiliensi (daya lentur) adalah kemampuan atau kapasitas insani yang dimiliki seseorang, kelompok atau masyarakat yang memungkinkannya untuk menghadapi, mencegah, meminimalkan dan bahkan menghilangkan dampak-dampak yang merugikan dari kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan, atau bahkan mengubah kondisi kehidupan yang menyengsarakan menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi. Bagi mereka yang resilien, resiliensi membuat hidupnya menjadi lebih kuat. Artinya, resiliensi akan membuat seseorang berhasil menyesuaikan diri dalam berhadapan dengan kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan, perkembangan sosial, akademis, kompetensi vokasional, dan bahkan dengan tekanan hebat yang inheren dalam dunia sekarang sekalipun.
Resiliensi adalah suatu kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan setiap orang. Hal ini adalah karena kehidupan manusia senantiasa diwarnai oleh adversity (kondisi yang tidak menyenangkan). Adversity ini menantang kemampuan manusia untuk mengatasinya, untuk belajar darinya, dan bahkan untuk berubah karenanya. Resiliensi tidak hanya dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang, melainkan setiap orang, termasuk remaja, memiliki kapasitas untuk menjadi resilien. Jadi, setiap individu, termasuk remaja, pada dasarnya memiliki kemampuan untuk belajar menghadapi kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Remaja yang resilien dicirikan sebagai indivjdu yang memiliki kompetensi secara sosial, dengan keterampilan- keterampilan hidup seperti: pemecahan masalah, berpikiran kritis, kemampuan mengambil inisiatif, kesadaran akan tujuan dan prediksi masa depan yang positif b.agi dirinya sendiri. Mereka memiliki minat-minat khusus, tujuan-tujuan yang terarah, dan motivasi untuk berpretasi di sekolah dan dalam kehidupan (Henderson & Milstein, 2003 (dalam Desmita, 2006).
Menurut Grotberg (1991), kualitas resiliensi tidak sama pada setiap orang, sebab kualitas resiliensi seseorang sangat ditentukan oleh tingkat usia, taraf perkembangan, intensitas seseorang dalam menghadapi situasi-situasi yang tidak menyenangkan, serta seberapa besar dukungan sosial dalam pembentukan resiliensi seseorang tersebut. Untuk lebih jelasnya, dalam uraian berikut akan diketengahkan beberapa faktor penting yang menjadi sumber pembentukan resiliensi (Desmita, 2006).

Sumber Pembentukan Resiliensi
Upaya mengatasi kondisi-kondisi adversity dan mengembangkan re- siliency remaja, sangat tergantung pada pemberdayaan tiga faktor dalam diri remaja, yang oleh Grotberg (1994) disebut sebagai tiga sumber dari resiliansi (three sources of resilience), yaitu I have (Aku punya), I am (Aku ini), I can (Aku dapat).
I have (Aku punya) merupakan sumber resiliensi yang berhu- bungan dengan pemaknaan remaja terhadap besarnya dukungan yang diberikan oleh lingkungan sosial terhadap dirinya. Sumber I have ini memiliki beberapa kualitas yang memberikan sumbangan bagi pembentukan resiliensi, yaitu:
1. Hubungan yang dilandasi oleh kepercayaan penuh;
2. Struktur dan peraturan di rumah;
3. Model-model peran;
4. Dorongan untuk mandiri (otonomi);
5. Akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, keamanan dan kesejahteraan.
I am (Aku ini) merupakan sumber resiliensi yang berkaitan dengan kekuatan pribadi yang dimiliki oleh remaja, yang terdiri dari perasaan, sikap dan keyakinan pribadi. Beberapa kualitas pribadi yang mempengaruhi I am ini adalah:
1. Disayang dan disukai oleh banyak orang;
2. Mencinta, empati, dan kepedulian pada orang lain;
3. Bangga dengan dirinya sendiri;
4. Bertanggung jawab terhadap perilaku sendiri dan menerima konsekuensinya;
5. Percaya diri, optimistik, dan penuh harap.
I can (Aku dapat) adalah sumber resiliensi yang berkaitan dengan apa saja yang dapat dilakukan oleh remaja sehubungan dengan keterampilan-keterampilan sosial dan interpersonal. Keterampilan-keterampilan ini meliputi:
1. Berkomunikasi;
2. Memecahkan masalah;
3. Mengelola perasaan dan impuls-impuls;
4. Mengukur temperamen sendiri dan orang lain;
5. Menjalin hubungan-hubungan yang saling mempercayai.

Interaksi antara Faktor I have, I am, dan I can
Resiliensi merupakan hasil kombinasi dari faktor-faktor I have, I am, dan I can. Untuk menjadi seorang yang resilien, tidak cukup hanya memiliki satu faktor saja, melainkan harus ditopang oleh faktor-faktor lain. Misalnya, seorang remaja mungkin dicintai (I have), tetapi jika ia tidak mempunyai kekuatan dalam dirinya (I am) atau tidak memiliki keterampilan-keterampilan interpersonal dan sosial (I can), rnaka ia tidak dapat menjadi resilien. Demikian juga, seorang remaja mungkin mempunyai harga diri (I am), tetapi jika ia tidak mengetahui bagaimana berkomunikasi dengan orang lain atau memecahkan masalah (I can) dan tidak ada orang yang membantunya (I have), maka ia tidak menjadi resilien.
Oleh sebab itu, untuk menumbuhkan resiliensi remaja, ketiga faktor tersebut harus saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi ketiga faktor tersebut sangat dipengaruhi oleh kualitas lingkungan sosial di mana remaja hidup. Setidaknya terdapat lima faktor yang sangat menentukan kualitas interaksi dari I have, I am, dan I can tersebut (Grotberg, 1999 (dalam Desmita, 2006)), yaitu:
Pertama, kepercayaan (trust), yakni faktor berhubungan dengan bagaimana lingkungan mengembangkan rasa percaya remaja. Perasaan percaya ini akan sangat menentukan seberapa jauh remaja memiliki kepercayaan terhadap orang lain mengenai hidupnya, kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-perasaannya, serta kepercayaan terhadap diri sendiri, terhadap kemampuan, tindakan dan masa depannya. Kepercayaan akan menjadi sumber pertama bagi pembentukan resiliensi pada remaja. Oleh karena itu, bila remaja diasuh dan dididik dengan perasaan penuh kasih sayang dan kemudian mampu mengembangkan relasi yang berlandaskan kepercayaan (I have), maka akan tumbuh pemahaman darinya bahwa ia dicintai dan dipercaya (I am). Kondisi demikian pada gilirannya akan menjadi dasar bagi remaja ketika ia berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya secara bebas (I can).
Kedua, otonomi (autonomy), yaitu faktor yang berkaitan dengan seberapa jauh remaja menyadari bahwa dirinya terpisah dan berbeda dari lingkungan sekitar sebagai kesatuan diri pribadi. Pemahaman bahwa dirinya juga merupakan sosok mandiri yang terpisah dan berbeda dari lingkungan sekitar, akan membentuk kekuatan-kekuatan tertentu pada remaja. Kekuatan tersebut akan sangat menentukan tindakan remaja ketika menghadapi masalah. Oleh sebab itu, apabila remaja berada dì lingkungan yang memberikan kesempatan padanya untuk menumbuhkan otonomi dirinya (I have), maka ia akan memiliki pemahaman bahwa dirinya adalah seorang yang mandiri, independen (I am). Kondisi demikian pada gilirannya akan menjadi dasar bagi dirinya untuk mampu memecahkan masalah dengan kekuatan dirinya sendiri (I can).
Ketiga, inisiatif (initiative), yaitu faktor ketiga pembentukan resiliensi yang berperan dalam penumbuhan minat remaja melakukan sesuatu yang baru. Inisiatif juga berperan dalam mempengaruhi remaja mengikuti berbagai macam aktivitas atau menjadi bagian dari suatu kelompok. Dengan inisiatif, remaja menghadapi kenyataan bahwa dunia adalah lingkungan dari berbagai macam aktivitas, di mana ia dapat mengambil bagian untuk berperan aktif dari setiap aktivitas yang ada. Ketika remaja berada pada lingkungan yang memberikan kesempatan mengikuti aktivitas (I have), maka remaja akan memiliki sikap optimis serta bertanggung jawab (I am). Kondisi ini pada gilirannya juga akan menumbuhkan perasaan mampu remaja untuk mengemukakan ide- ide kreatif, menjadi pemimpin (I can).
Keempat, industri (industry), yaitu faktor resiliensi yang berhubungan dengan pengembangan keterampilan-keterampilan berkaitan dengan aktivitas rumah, sekolah, dan sosialisasi. Melalui penguasaan keterampilan-keterampilan terebut, remaja akan mampu mencapai prestasi, baik di rumah, sekolah, maupun di lingkungan sosial. Dengan prestasi tersebut, akan menentukan penerimaan remaja di lingkungannya. Bila remaja berada di lingkungan yang memberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan, baik di rumah, sekolah maupun di lingkungan sosial (I have), maka remaja akan mengembangkan perasaan bangga terhadap prestasi-prestasi yang telah dan akan dicapainya (I am). Kondisi demikian pada gilirannya akan menumbuhkan perasaan mampu serta berupaya untuk memecahkan setiap persoalan, atau mencapai prestasi sesuai dengan kebutuhannya (I can).
Kelima, identitas (identity), yaitu faktor resiliensi yang berkaitan dengan pengembangan pemahaman remaja akan dirinya sendiri, baik kondisi fisik maupun psikologisnya. Identitas membantu remaja mendefinisikan dirinya dan mempengaruhi self- image-nya Identitas ini diperkuat melalui hubungan dengan faktor-faktor resiliensi lainnya. Apabila remaja memiliki lingkungan yang memberikan umpan balik berdasarkan kasih sayang, penghargaan atas prestasi dan kemampuan yang dimilikinya (I have), maka remaja akan menerima keadaan diri dan orang lain (I am). Kondisi demikian akan menumbuhkan perasaan mampu untuk mengendalikan, mengarahkan dan mengatur diri, serta menjadi dasar untuk menerima kritikan dari orang lain (I can).
Kelima faktor (kepercayaan, otonomi, inisiatif, industri, dan identitas) tersebut merupakan landasan utama bagi pengembangan resiliensi remaja.

No comments for "Intervensi Psikologi: Proses Resiliensi pada Remaja"

Berlangganan via Email