Intervensi Psikologi: Cara Mencegah dan Mengatasi Perilaku Agresi dan Perilaku Kekerasan

Intervensi Psikologi: Cara Mencegah dan Mengatasi Perilaku Agresi dan Perilaku Kekerasan



Perilaku agresi dan perilaku kekerasan adalah problem  utama manusia. Kejahatan individual dan kekerasan skala besar sama-sama membahayakan orang dan tatanan masyarakat pada umumnya. Semua masyarakat menghabiskan banyak  energi untuk mengontrol tendensi perilaku ini, adalah penting untuk memahami bagaimana cara mencegah dan mengatasi yang tidak diharapkan. Mari kita lihat beberapa teknik mencegah dan mengatasi perilaku tersebut antara lain:
1. Hukuman dan Pembalasan
Tampak bahwa ketakutan dan hukuman dan pembalasan dendam akan mencegah dan mengatasi perilaku tersebut. Kita berharap orang mempertimbangkan konsekuensi hukuman ini dan karenanya mereka menghindari perilaku tersebut. (Dengerink, schnedler, & Covey, 1978 Taylor, 2009).
2. Mengurangi Frustasi dan Serangan
Frustasi dan serangan adalah sumber utama dari kemarahan, karenanya, cara yang lebih efektif untuk mencegah dan mengatasi potensi terjadinya dua hal itu. Semua masyarakat berusaha mendapatkan nafkah hidup, seperti makanan, tempat tinggal, pakaian, dan keluarga. Disini di uapayakan mencegah gangguan kekerasan yang berasal dari kelompok yang frustasi kolektif dan biasanya dihadapi oleh pemerintahan dengan cara berusaha mengurangi rasa frustasi itu.
3. Belajar Menahan Diri.
Salah satu teknik mencegah dan mengatasi agresi dan kekerasan adalah belajar mengontrol sendiri. Sebagaimana orang belajar kapan agresi dan kekerasan diperbolehkan, mereka juga harus belajar kapan mencegah atau menahan agresi.

Perilaku Agresi dan perilaku kekerasan harus dicegah mengingat perilaku-perilaku tersebut dapat berdampak negatif pada diri individu:
Dampak Negatif dari Perilaku Agresi yaitu:
1. Kenyaman dan ketentraman dalam bermasyarakat akan terganggu,
2. Seringkali nyawa sebagai korban, dan
3. Hartapun menjadi hal yang lumrah dikorbankan sebagai akibat dari  perilaku tersebut (Syamsul Bachri Thalib, 2010).

Dampak negatif dari perilaku kekerasan yaitu:
1. Menumpulkan hati nurani:
Menghambat perkembangan moral anak,
Membuat anak melakukan kekerasan juga,
Meningkatkan perilaku kenakalan,
Membuat anak senang mengejek dan menindas yang lemah,
Merusak kesehatan jiwa anak,
Sering menghayal jadi tokoh jahat dalam TV,game,atau film,
Senang menonton tayangan tentang kekerasan, dan
Merusak hubungan antara orang tua dan anak.
2. Membuat anak terlibat perbuatan kriminal
a) Cenderung melestarikan sikap kekerasan kepada generasi berikutnya, dengan dalih disiplin, mendidik.
b) Memasuki bidang-bidang pekerjaan yang melibatkan perilaku kekerasan Mudah percaya atau termakan proopaganda seperti para pengikut hitler, milosevic,stalin.
c) Sikap patuh secara berlebihan kepada pemimpin (atasan), tetapi akan menindas yang lemah.
d) Sering tidak mengerti hubungan antara sikapnya yang keras terhadap pihak yang lemah, karena perasaan menderita akibat kekerasan ini tersimpan dalam alam bawah sadarnya.
3. Membuat anak gemar melakukan teror dan ancaman
Anak yang hatinya mengeras seperti batu, ibaratnya “bom” yang siap meledak apabila ada pemicunya. “ledakan bom” ini akan membawa kerusakan yang luar biasa. Jadi akar dari semua tindakan kekerasan dimasyarakat,seperti kriminalitas,konflik, dan perang adalah adanya tradisi kekerasan terhadap anak.
4. Anak rendah diri/minder
Ketika anak dicaci maki atau dipukul, maka pesan yang ditangkap anak adalah “kamu adalah anak yang tidak berharga,memalukan, sehingga aku muak dengan kamu”maka anak akan merasa ditolak oleh orang tuanya. Suatu saat anak akan terjebak rayuan yang menghilangkan perasaan rendah dirinya: gang remaja, terlibat perkelahian, ingin menjadi jagoan, kecanduan alkohol dan narkoba, ketidak stabilan emosi,mudah sedih,tidak mampu menghadapi tekanan, mudah tersinggung dan marah,selalu khawatir, was-was, penuh curiga, menarik diri dari pergaulan,tidak dapat bersifat hangat,tidak dapat mengekspresikan diri,dll.
5. Menimbulkan kelainan perilaku seksual
Pemukulan pada daerah “bokong” anak dapat menumbuhkan perasaan nikamat seksual secara dini. Mereka tidak dapat mengerti mengenai perasaan tersebut. Setelah dewasa mereka melakukan keaneha seksual ini biasanya mereka mencari pelacur. Selain itu anak korban pemukulan merasa dirinya tidak berharga, karena terbiasa merasa sakit karena pukulan, anak-anak ini akan mudah menyerahkan tubuhnya untuk diperlakukan secara tidak senonoh setelah dewasa, sehingga ia mudah menjadi korban phedhophyl.
6. Mengganggu pertumbuhan otak anak
Menurut DR.Bruce D perry, para kriminal dan pelaku kekerasan memang mempunyai batang otak dan otak tengah dominan, bagian otak ini disebut otak reptil, dimana sifat hewani berasal, sedangkan otak limbic (emosi/cinta) dan korteks(berpikir)lemah, dan pertumbuhan otak ini sangat dipengaruhi lingkungan. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran para orang tua dan guru untuk selalu menciptaka emosi positif bagi anak-anaknya. Ingat pada usia 5 th pertumbuhan otak mencapai 90%, 100 % pada usia 8 tahun.
7. Membuat prestasi belajar anak rendah
Anak yg sering mendapat kekerasan dirumah, biasanya senang melakukan keonaran dan cenderung berkumpul dengan teman-teman yang memiliki kesamaan.Hasil studi yg melibatkan 960 anak di USA menunjukkan IQ yg lebih rendah akibat pemukulan oleh OR-TU. Dengan cara berdiskusi dan menganalisa suatu masalah dengan anak, maka anak lebih banyak berpikir menjadi kritis dan pandai.

No comments for "Intervensi Psikologi: Cara Mencegah dan Mengatasi Perilaku Agresi dan Perilaku Kekerasan"

Berlangganan via Email