Intervensi Modifikasi Perilaku: Efektivitas Extinction

Intervensi Modifikasi Perilaku:  Efektivitas Extinction untuk Mengurangi Target Perilaku



Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas pemberian extinction pada perilaku, yaitu:
1. Mengontrol reinforcer untuk perilaku yang ingin dikurangi
Faktor ini menyatakan bahwa bagaimana reinforcer dihadirkan oleh orang lain atau lingkungan fisik yang kemudian menghancurkan usaha saat mengaplikasikan extinction. Berdasarkan contoh kasus dari anak umur empat tahun, susi tumbuh menjadi anak dengan perilaku banyak merengek, khususnya pada situasi saat ia menginginkan sesuatu. Ibunya memutuskan untuk membiarkannya dengan harapan perilaku tersebut akan hilang. Pada suatu kesempatan, ibunya membiarkan perilaku tersebut sampai ia berhenti kemudian mengikuti periode singkat tanpa rengekan, menyediakan susi dengan barang yang ia inginkan. Sepertinya hal tersebut terlihat bagus sampai sore tiba, ketika ayahnya pulang. Ketika ibu berada didapur, susi mendekat dan dengan nada merengek meminta makanan ringan untuk dimakan sambil menonton TV. Walaupun ibu membiarkan susi, ayah masuk ke dapur dan mengatakan “ibu, tidakkah kau mendengar anakmu? Kemari susi, ayah akan mengambilkan makanan ringanmu.” Dapat dibayangkan efek apa yang akan terjadi pada susi kedepannya. Penguatan dihadirkan oleh orang lain atau lingkungan fisik dapat melepaskan usaha yang baik saat mengaplikasikan extinction. Hal tersebut seringkali sulit untuk meyakinkan yang lain dari hal ini jika mereka tidak familiar dengan prinsip penguatan positif dan extinction.
2. Extinction dari suatu perilaku dikombinasikan dengan penguatan positif untuk perilaku alternatif
Extinction dapat lebih efektif ketika dikombinasikan dengan positive reinforcement sebagai suatu alternatif perilaku. Kombinasi dari extinction dan positive reinforcement memungkinkan untuk menurunkan frekuensi munculnya perilaku yang tidak menyenangkan lebih cepat dibandingkan ketika hanya menggunakan extinction saja.
Perkiraan bahwa kita ingin mengkombinasikan antara extinction dari perilaku menangis anak yang tidak sesuai dengan penguatan positif untuk alternatif perilaku yang diinginkan. Hal ini seringkali tidak praktis untuk memberi penguatan pada anak setiap detiknya untuk melibatkannya dalam beberapa perilaku yang diinginkan pada bagian perilaku yang mengacaukan. Bagaimanapun untuk memulai dengan interval yang pendek dari perilaku yang diinginkan dan secara berangsur meningkat perilaku tersebut untuk lebih panjang lagi, dengan interval yang lebih bisa diatur. Contohnya, anak yang melibatkan perilaku menangis yang tidak pantas dapat dibiarkan sampai ia berhenti menangis pada periode 10 detik. Pada akhir interval 10 detik, ia mendapat penguatan berupa pujian.
Contoh berikutnya guru dapat membutuhkan periode yang berangsur-angsur lebih panjang dari ketenangan, 15 detik kemudian 25 detik, 1 menit,  sebelum menghadirkan penguatan. Hal ini penting bahwa peningkatan kebutuhan lebih berangsur-angsur. Sebaliknya, perilaku yang tidak diinginkan oleh anak tidak akan dikurangi dengan sangat cepat. Perhatian juga dilakukan bukan untuk menghadirkan penguatan dengan seketika setelah menangis berhenti ini akan memelihara untuk memberi penguatan pada perilaku menangis dengan demikian akan meningkatkan dibandingkan untuk menguranginya. Hal penting selama mengaplikasikan extinction adalah memastikan bahwa penguatan yang sembunyikan adalah satu yang sebenarnya mengutamakan perilaku yang tidak diinginkan anak. Kegagalan dalam melakukan hal ini tidak akan menjumpai definisi extinction dan perilaku yang tidak diinginkan oleh anak kemungkinan besar akan berkurang.
3. Pengaturan Tempat Ketika Extinction Dilakukan
Satu alasan untuk mengubah pengaturan extinction dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan bahwa orang lain akan menguatkan perilaku yang dicoba untuk dikurangi. Kemungkinan hal ini akan menjadi bodoh dengan contoh ibu yang berinisiatif untuk memadamkan perilaku tabiat marah anak  di pertokoan. Anak kemungkinan besar menampilkan perilaku dalam pertokoan seperti hal yang tidak menyenangkan bagi orang lain yang berbelanja dan pegawai toko, akan mengurangi kesempatan ibu untuk membawanya dengan efektif. Dengan kata lain hal ini penting untuk mempertimbangkan setting ketika extinction akan dilakukan dengan meminimalisir pengaruh dari penguatan alternatif pada perilaku yang tidak diinginkan anak yang akan dihilangkan dan memaksimalkan kesempatan dari orang yang melakukan modifikasi untuk tetap melakukan programnya.
4. Instruksi: Gunakan Peraturan
Walaupun hal ini tidak penting bahwa individu dapat berbicara tentang atau mengetahui extinction. Seorang suami saat tiba dirumah dari kantor setiap hari, terlalu sering mengeluh tentang lalu lintas yang lambat. Istrinya akan memberi instruksi untuk mengontrol extinction jika istrinya mengatakan seperti: “george, lalu lintas setiap hari sama saja, dan tidak ada bagusnya jika mengeluh tentang hal itu. Saya senang untuk berbicara denganmu tentang hal lain. Tapi setiap waktu kamu pulang kerumah dan terlalu sering mengeluh tentang lalu lintas, saya hanya akan membiarkannya”. Hal ini pasti menyebabkan george mengurangi keluhannya dengan cepat, walaupun ini mungkin membutuhkan sedikit uji coba. Tapi ingat prosedur ini lebih kompleks daripada extinction yang sederhana.
5. Extinction dapat lebih cepat setelah penguatan yang berkelanjutan
Ketika sebuah perilaku selalu diperkuat dan kemudian tidak pernah diperkuat, perilaku tersebut padam dengan wajar dan cepat. Ketika penguatan yang hanya sebentar saja mempertahankan sebuah perilaku, perilaku tersebut kemungkinan besar akan padam dengan lambat, walaupun fenomena ini cukup kompleks dan tergantung pada bagaimana mengukur  perilaku selama extinction. Perilaku yang padam dengan lambat dapat dikatakan kuat/tahan pada extinction (resistance to extinction). Ketika seorang anak menangis merengek hal ini kemungkinan besar membutuhkan waktu yang lama untuk extinction untuk mengurangi rengekannya dengan menyeluruh. Extinction seringkali lebih cepat setelah penguatan yang berkelanjutan daripada setelah extinction penguatan dalam respon yang hanya kadang-kadang. Jika kita mencoba untuk memadamkan perilaku dengan penguatan yang sebentar saja, kita harus mempersiapkan untuk perpanjangan.
6. Perilaku menjadi padam kemungkinan menjadi lebih buruk sebelum perilaku menjadi lebih baik
Selama extinction, perilaku dapat meningkat sebelum perilaku tersebut mulai berkurang. Hal tersebut kemungkinan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik. Pada peningkatan perilaku dalam merespon selama extinction biasanya menunjuk sebagai ledakan perilaku extinction. Seandainya anak dalam kelas tetap menaikkan tangan dan mengeluarkan suara pada jarinya untuk memperoleh perhatian guru. Jika guru memutuskan untuk tetap membiarkan bunyi pada jari dan kemudian memberikan exctintion (dengan maksud untuk mengabaikan bunyi jarinya), dia akan mengamati peningkatan dari bunyi jarinya selama beberapa menit dari extinction sebelum perilaku secara berangsur-angsur mulai menghilang. Dengan demikian ledakan extinction adalah sesuatu yang semua orang berusaha untuk mengaplikasikan prosedur extinction yang harus diketahui.
 7. Extinction mungkin menghasilkan perilaku agresi yang mengganggu program
Kesulitan lain dari extinction adalah bahwa prosedur yang mungkin menghasilkan perilaku agresi. Kemungkinan dari kita melakukan perbuatan memukul dan menendang penjual keliling kemudian mengambil uang miliknya. Dalam studi extinction dari perilaku melukai diri sendiri, agresi diamati dari sebagian kasus dalam extinction semata-mata intervensi. Bagaimanapun prevalensi agresi secara subtansial lebih rendah ketika extinction telah diimplementasikan sebagai bagian dari treatmen yang termasuk penguatan untuk alternatif perilaku yang diinginkan. Hal ini penting untuk meminimalisir agresi tidak hanya karena perilaku ini tidak diinginkan tapi juga karena hal ini juga sudah pasti menyerah terlalu cepat. Pilihan lain untuk mengadakan program extinction dalam setting yang mana jumlah tertentu agresi dapat ditoleransi. Jika orang tua memutuskan untuk mengaplikasikan extinction untuk mengurangi perilaku tantrum pada anak, contohnya mereka mungkin melakukannya dirumah setelah memindahkan kaca atau barang rapuh lainnya.
8. Perilaku yang telah dipadamkan kemungkinan muncul kembali setelah penundaan
Kesulitan extinction lainnya adalah bahwa perilaku yang hilang secara keseluruhan selama sesi extinction mungkin muncul kembali pada kesempatan berikutnya setelah beberapa waktu lewat. Kemunculan kembali dari perilaku yang padamkan ini mengikuti jeda waktu yang disebut spontaneous recovery. Secara khas, jumlah perilaku yang ditemukan kembali secara spontan sedikit daripada jumlah yang terjadi selama sesi extinction sebelumnya. Setelah beberapa tambahan sesi extinction, spontaneous recovery biasanya tidak menjadi masalah.

No comments for "Intervensi Modifikasi Perilaku: Efektivitas Extinction "

Berlangganan via Email