Intellectual Disability

Intellectual Disability




Berbagai istilah untuk mendefinisikan tentang intellectual disability telah diusulkan, diadaptasi, dan diperdepatkan selama bertahun-tahun (Heward, 2013). Awalnya, individu yang mengalami defisit kognitif disebut dengan istilah idiot (berasal dari kata yuni “individu yang tidak dapat berfungsi di lingkungan sosialnya). Pada abad ke-19, label yang digunakan adalah imbecile atau dungu (berasal dari kata latin yang berarti lemah) menunjukkan tingkat yang lebih ringan dari intellectual disability. Istilah lain kemudian ditambahkan yaitu feebleminded dan simpleton yang merujuk pada intellectual disability ringan. Meskipun stigma tersebut pantas digunakan saat ini, masing-masing istilah tersebut masih digunakan oleh para profesional di bidang kedokteran, psikologi, dan pendidikan untuk melabel atau merujuk pada individu yang mengalami intellectual disability. Selama bertahun-tahun mental deficiency dan mental retardation kemudian diperkenalkan dan dianggap sebagai terminologi yang tepat (Heward, 2013).
Pada tahun 2007, American Association on Mental Retardation (AAMR), organisasi profesional terkemuka yang fokus pada penelitian, penanganan, dan intervensi mengenai intellectual disability, mengubah namanya menjadi American Association on Intellectual and Developmental Disabilities (AAIDD). Dalam prakteknya, istilah intellectual disability digunakan secara konsisten (Heward, 2013; Hallahan, Kauffman, & Pullen, 2012).
IDEA (Individuals with Disabilities Education ACT) mendefinisikan istilah intellectual disability adalah karakteristik individu yang memiliki fungsi intelektual umum signifikan berada di bawah rata-rata, disertai deficit perilaku adaptif, dan muncul selama periode perkembangan, yang akan berdampak negatif pada hasil pendidikan individu tersebut (Heward, 2013). Sedangkan AAIDD (American Association on Intellectual and Developmental Disabilities) mendefinisikan dan mengklasifikasikan intellectual disability berdasarkan pada karakteritik bahwa intellectual disability ditandai dengan keterbatasan yang signifikan pada kedua fungsi intelektual dan perilaku adaptif seperti kemampuan konseptual, sosial, dan praktis. Ketidakmampuan ini muncul sebelum usia 18 tahun (Heward, 2013; Hallahan, Kauffman, & Pullen, 2012; Gargiulo, 2010).
Hallahan, Kauffman, dan Pullen (2012); Gargiulo (2010) menambahkan bahwa tidak ada satupun definisi dari perilaku adapatif yang disepakati secara universal. Adapun definisi yang banyak digunakan oleh ahli mengatakan bahwa perilaku adaptif terdiri atas kecerdasan sosial dan kecerdasan praktis. Kecerdasan sosial melibatkan kemampuan memahami dan menafsirkan keadaan orang dan interaksi sosialnya, seperti mampu “membaca” ketika seseorang marah dan tidak mudah ditipu atau dimanipulasi. Kecerdasan praktis sendiri meliputi kemampuan untuk kegiatan sehari-hari, seperti seperti menyiapkan makanan, menggunakan sistem transportasi, membuat perubahan, menggunakan internet, dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan situasi pekerjaan tertentu.

No comments for "Intellectual Disability"

Berlangganan via Email