Anak Berkebutuhan Khusus: Memahami kondisi Anak Gifted (Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa)

Anak Berkebutuhan Khusus: Memahami kondisi Anak Gifted
 (Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa)





Istilah gifted yang sekarang telah menjadi istilah umum pertama klien diperkenalkan oleh Guy Whipple dalam Monroe’s Encyplopedia of Education untuk menunjukkan keadaan anak-anak yang memiliki kemampuan supernormal (Passow dalam Sarwindah 2006). Menurut Hagen, istilah gifted  ditujukan untuk individu yang memiliki kemampuan  akademis yang tinggi. Suharmini (2007) juga memaparkan bahwa istilah gifted ditujukan pada individu yang memiliki skor inteligensi yang tinggi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa istilah gifted lebih ditujukan pada individu-individu yang memiliki kapasitas inteligensi yang tinggi.
Anak gifted sendiri tidak terlepas dari pengertian istilah gifted yang umum di paparkan. Pengertian anak gifted atau anak berbakat mengacu pada beberapa referensi. Menurut United State Office of Education yang disingkat USOE dalam Mangunsong (2009) menjelaskan bahwa anak berbakat adalah mereka yang diidentifikasikan oleh orang-orang professional memiliki kemampuan-kemampuan yang menonjol dan mampu menampilkan prestasi yang tinggi. Mereka membutuhkan program pendidikan yang terdifferensiasi dan/atau pelayanan di luar jangkauan program sekolah biasa agar dapat merealisasikan kontribusinya terhadap diri sendiri dan masyarakat. Kemampuan-kemampuan yang menonjol tersebut dapat berupa potensi maupun yang telah nyata, seperti kemampuan intelektual umum, kemampuan akademik khusus, kemampuan berfikir kreatif-produktif, kemampuan memimpin, kemampuan dalam salah satu bidang seni, dan kemampuan psikomotik (Munandar, 2009). Depdiknas (2001) juga merumuskan pengertian lain yang hampir sama, anak berbakat adalah anak-anak yang memiliki taraf inteligensi atau IQ diatas 140 dan oleh psikolog dan/atau guru diidentifikasikan sebagai peserta didik yang telah mencapai prestasi yang memuaskan, dan memiliki kemampuan intelektual umum yang berfungsi pada taraf cerdas, dan keterikatan terhadap tugas yang tergolong baik serta kreativitas yang memadai (Hawadi, 2004).
Pengertian lain ditawarkan oleh Renzulli dalam Mangunsong (2009) yang memaparkan bahwa keberbakatan pada inividu merupakan interaksi antara tiga cluster dasar dari manusia. Cluster pertama adalah kemampuan umum/spesifik yang dimiliki individu berada pada level di atas rata-rata. Cluster kedua tentang task commitment yang tinggi dan cluster tiga mengenai kreativitas tinggi yang dimiliki oleh individu. Secara khusus Munandar (2009) menjelaskan bahwa kemampuan umum/spesifik di atas rata-rata pada anak berbakat mengacu pada skor IQ dan pencapaian nilai-nilai akademik yang tinggi. Task commitment berbicara tentang pengikatan diri individu pada tugas sebagai bentuk dorongan individu untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun menghadapi bermacam-macam rintangan dan hambatan, dan menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya sehingga memperoleh hasil tugas yang memuaskan. kreatifitas yang tinggi sendiri digambarkan sebagai kemampuan umum yang dimiliki individu untuk menciptakan sesuatu yang baru sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkannya dalam memecahkan sebuah permasalahan. Kreatifitas juga erat kaitannya dengan kemampuan individu melihat hubungan-hubungan baru pada sebuah stimulus yang diperoleh dari lingkungan.  
Berikut gambaran interaksi ketiga cluster tersebut:










Gambar 1. Konsep Renzulli tentang Keberbakatan

Menurut Hawadi (2004) bahwa keberbakatan pada diri individu dapat ditegakkan jika individu tersebut memperoleh skor inteligensi 120 keatas. Sedangkan untuk skor kreativitasnya 110 keatas. Selain itu komitmen tugas pun terbukti memiliki kantititas dan kualitas yang optimal.
Sesuai dengan pengertian keberbakatan yang multikriteria, maka ciri-ciri anak berbakat pun yang digunakan di Indonesia meliputi beberapa dimensi. Dimensi tersebut adalah dimensi belajar, dimensi kreatifitas, dimensi motivasi dan dimensi kepemimpinan. Keempat dimensi ciri-ciri anak berbakat tersebut disusun oleh kelompok kerja pendidikan anak berbakat (KKPAB) yang berada di bawah departemen pendidikan dan kebudayaan tahun 1985 (Sarwindah, 2006). Ciri-ciri dimensi belajar adalah mudah menangkap pelajaran. mudah mengingat kembali pelajaran yang diberikan dan memiliki perbendaharaan kata yang luas. Selain itu, individu juga memiliki penalaran tajam (berfikir logis, kritis memahami hubungan sebab akibat), daya konsentrasi baik (perhatian tidak mudah teralihkan), memiliki pengetahuan yang luas, gemar membaca, mampu mengungkapkan pikiran, perasaa atau pendapat secara lisa/tertulis dengan lancar dan jelas, serta mampu melakukan pengamatan dengan cermat. Dimensi belajar juga berkaitan dengan rasa ingin tahun individu yang besar terhadap hal-hal yang bersifat intelektual seperti suka melakukan percobaan sederhana dan mempelajari kamus. Kemampuan mengidentifikasi sebuah permasalahan, merumuskan hipotesa, lalu menguji hipotesa tersebut, dan sampai pada penarikan kesimpulan yang sahih juga merupakan cir-ciri dari dimensi belajar.
Adapun ciri-ciri dari dimensi tanggung jawab terhadap tugas adalah tekun menghadapi tugas, ulet (tidak lekas putus asa bila menghadapi kesulitan), mampu berprestasi sendiri tanpa dorongan orang lain, dan selalu ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan di dalam kelas.  Selain itu anak juga akan memperlihatkan perilaku yang selalu berusaha untuk berprestasi sebaik mungkin, menunjukkan minat yang besar terhadap bermacam-macam permasalahan dewasa, senang dan rajin belajar dengan penuh semangat. Perasaan cepat bosan dengan tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan  pendapatnya, dan menunda kebutuhan pemuasan kebutuhan sesaat untuk mencapai tujuan dikemudian hari merupakan ciri-ciri dimensi tanggung jawab individu terhadap tugas yang diberikan kepadanya (Sarwindah, 2006).
Ciri-ciri dimensi kreativitas adalah memiliki rasa ingin tahu mendalam, sering mengajukan pertanyaan yang berbobot (tidak asal bertanya), memberikan banyak gagasan terhadap sebuah permasalahan, dan mampi menyatakan pendapat dengan spontan dan tidak malu-malu. Individu juga terlihat memiliki rasa keadilan, menonjol dalam satu atau lebih bidang studi, mencari pemecahan masalah dari berbagai segi, mempunyai rasa humor, imajinasi, dan pemikiran yang original. Sedangkan ciri-ciri kepemimpinan adalah individu sering dipilih menjadi pemimpin atau ketua, disenangi oleh teman sekolah, dapat bekerjasama secara positif dan dapat mempengaruhi teman-teman atau orang lain. Selain itu, individu juga terlihat mempunyai inisiatif dalam melaksanakan tugas, mempunyai rasa tanggung jawab yang besar, memiliki kepercayaan diri yang kuat, mudah menyesuaikan diri terhadap situasi baru, aktif berperan serta dalam kegiatan sosial, senang membantu orang lain, menyukai situasi yang menantang dan berani mengambil resiko kegagalan (Sarwindah, 2006).
Wundt (Suharmini, 2007) memaparkan bahwa untuk deteksi dini terhadap anak-anak berbakat dapat diobservasi dari perilaku-perilaku yang nampak, tanda-tanda tersebut seperti perkembangan kognitif lebih cepat deibandingkan dengan anak pada umumnya. Selain itu anak terlihat memiliki pemikiran yang kritis dan mampu membaca serta menulis lebih awal. Hal tersebut dapat diobservasi di rumah. Anak mampu membaca dan majalah-majalah yang ada di rumah. Lewis dkk (Suharmini, 2007) mengemukakan bahwa terdapat dua hal yang menarik dalam menfungsikan intelektual pada diri anak yang berbakat, yaitu: 1) mampu belajar lebih banyak dan lebih cepat serta mampu mengungkapkan kembali informasi yang telah ada di memori jangka panjang dengan cepat, 2) gambaran informasi yang masuk dalam memori jangka pendek lebih cepat diserap, lebih kreatif, dan terintegrasi. Utami Munandar juga menambahkan bahwa anak berbakat memiliki kemampuan berfikir yang superior, berfikir abstrak, memahami makna, dan memahami hubungan sebuah informasi atau stimulus yang ada di lingkungan. Selain itu anak berbakat juga memperlihatkan hasrat ingin tahu yang besar, siap dan mudah untuk belajar, memiliki rentang minat yang luas, memiliki rentang perhatian yang luas, bertahan dalam memecahkan masalah, dan memiliki hasrat tinggi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Anak berbakat juga memiliki kemampuan menangkap informasi dengan baik dan cepat, memiiki kapasitas memori yang memadai, memiliki kemampuan berbahasa yang tinggi secara kuantitas dan kualitas, penalaran tajam, memiliki banyak gagasan baru, memiliki imajinasi yang luar biasa, mampu membaca cepat, senang belajar kamus, peta, dan ensiklopedia (Suhamini, 2007).
Ketika membahas mengenai sumber atau penyebab individu memiliki keberkatan ditentukan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain, faktor genetik dan biologis lainnya serta faktor lingkungan (Mangunsong, 2009). Penelitian dalam genetika perilaku menyatakan bahwa setiap jenis dari perkembangan perilaku dipengaruhi secara signifikan melalui gen atau keturunan. Walalupun begitu pengaruh lingkungan biologik. Adapun faktor biologik yang belum bersifat genetik, yang mempunyai andil dalam inteligensi adalah faktor gizi dan neurologik. Kekurangan nutrisi pada masa kecil dan gangguan neurologik yang terjadi dapat menyebabkan keterbelakan mental pada anak. Secara fisik, tinggi badan, daya tarik, dan kesehatan mampu mencerminkan salah satu bagian dari diri individu yang memiliki intelektual IQ yang tinggi.
Faktor selanjutnya adalah faktor lingkungan. keluarga, sekolah, teman sebaya, dan masyarakat jelas memiliki pengaruh dalam perkembangan dari keberbakatan. Perlu diketahui bahwa lingkungan yang memberikan stimulasi, kesempatan, harapan, tuntutan, dan imbalan pada diri individu akan mempengaruhi kinerja dan proses belajar pada diri individu. Mangunsong (2009) menjelaskan bahwa orangtua memiliki perlakuan yang berbeda pada anaknya, khususnya anak berbakat. Tidak jarang terdapat segelintir orangtua yang memandang negatif keberbakatan yang dimiliki oleh anaknya ditengah-tengah banyaknya orangtua yang memandang positif anaknya yang berbakat. Para ayah tampaknya lebih jarang melihat anak mereka sebagai anak berbakat dibandingkan para ibu. Perlu ditekankan bahwa rumah dan keluarga terdekat merupakan hal yang sangat berharga bagi sang anak, terutama ketika anak menjalani usia mudanya. Sebuah penelitian membuktikan bahwa anak yang mendapatkan dukungan penuh dari keluarga akan tumbuh mendai individu yang sukses diberbagai bidang. Ciri-ciri dukungan tersebut antara lain: 1) orangtua memiliki minat pribadi terhadap bakat yang dimiliki sang anak dan memberikan dukungan yang besat dalam masa perkembangan sang anak; 2) orangtua yang bisa menjadi role model atau panutan buat anaknya akan mengantarkan anaknya ke tangga kesuksesan; 3) anak senantiasa dilibatkan pada berbagai aktivitas yang dapat mengeksporasi bakat yang dimilikinya dan disertai dengan pemeberian hadiah (reward) jika sang anak menampilkan perilaku yang positif; 4) keluarga terlibat langsung dalam proses pembelajaran yang diikuti oleh sang anak seperti memberikan jadwal belajar atau latihan serta menyediakan pendamping yang tepat untuk anak; 5) anak senantiasa ditanamkan nilai-nilai positif yang mendukung bakat yang dimiliki oleh sang anak; 6) anak dilengkapi sarana dan prasarana yang menunjang bakatnya; 7) serta orangtua mendiring keikutsertaan anak mereka dalam berbagai acara sebagai sarana untuk mempertunjukkan kemampuan anak di depan khalayak umum. Jadi kesimpulannya bahwa anak-anak yang menyadari potensi yang dimilikinya perlu dikembangkan melalui keterlibatan dan rangsangan dari orangtua, pengarahan dorongan dan imbalan-imbalan untuk kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh sang anak (Hallahan & Kauffman, 1994 dalam Mangunsong, 2009).
Peran sekolah juga menjadi faktor penting bagi keberadaan anak berbakat.  Jika terdapat sekolah yang mampu mengidentifikasi anak yang berbakat, instruksi untuk siswa, model kurikulum yang tepat, pengukuhan (reward) dari hasil yang ditampilkan oleh anak akan membawa pengaruh yang baik bagi perkembangan anak berbakat. Apabila sekolah dapat menfasilitasi performa dari seluruh siswanya dimana seluruh siswanya mampu mencapai hasil yang maksimal, maka keberbakatan akan ditemukan hampir di seluruh siswa (Mangunsong, 2009).
Keberbakatan yang dimiliki oleh individu terkadang membuat anak tampak berbeda dengan anak lainnya. Sebagian anak dapat menerima perbedaan itu dengan positif sehingga mengantarkan mereka hidup dengan rasa bahagia, disukai oleh teman kelompoknya, memiliki emosi yang stabil, dan merasa puas dengan dirinya sendiri (self-suffecient). Kondisi tersebut juga membuat individu memiliki minat yang luas dan bervariasi serta dapat menerima diri mereka secara positif. Anak berbakat yang berasal dari tingkat sosial ekonomi menengah ke atas mendapatkan kesempatan mengembangkan diri mereke, mendapat kesempatan pendidikan yang tepat, dan kesempatan untuk menggali minat yang mereka miliki. Anak berbakat juga dering bersikap peka/tanggap terhadap perasaan diri sendiri dan orang lain, memiliki kepedulian yang tinggi mengenai hubungan interpersonal, pernyataan diri, dan isu moral. Anak berbakat juga seringkali menggunakan kemampuan kognitifnya dalam membantu orang lain seperti strategi yang sering digunakan oleh orang dewasa (Mangunsong, 2009).
Di sisi lain, terdapat pula anak berbakat yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan apa yang menjadi bakat mereka. Anak-anak tersebut kadang tidak didukung oleh kondisi lingkungan yang responsive terhadap kemampuan yang mereka miliki. Kondisi tersebut kadang akan membentuk perilaku anak berbakat yang begitu luar biasa buruknya. Anak berbakat memiliki peluang unruk menjadi pelaku bullying terhadap lingkungannya, atau menjadi korban bullying dari teman-temannya. Sehingga kadang anak yang berbakat memiliki kecenderungan menjauh dari kelompok teman sebaya sang anak (Hallahan & Kauffman dalam Mangunsong, 2009).
Somantri (2005) juga menemukan bahwa terdapat beberapa masalah yang dialami anak berbakat. Seperti masalah kesenjangan antara perkembangan kognitif dengan kekuatan fisik, perkembangan kognitif yang lebih cepat dibandingkan anak seusianya, kemampuan kognitif yang tidak diimbangi dengan perkembangan emosi dan kesadaran yang matang. Selain itu, masalah hubungan sosial pun sering dihadapi anak berbakat karena anak berbakat memiliki kematangan sosial dan kecakapan memimpin yang lebih awal . kondisi tersebut kadang membuat anak mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosialnya. Permasalahan-permasalahan tersebut sering diistilahkan dengan disinkronitas perkembangan pada anak berbakat (Tiel, 2007).
Membahas mengenai masalah sosial. Terdapat segelintir anak berbakat yang mengalami masalah sosial karena memiliki permasalahan komunikasi. Student Support Services (2000) dalam tulisannya yang berjudul Communication Disorders menjelaskan bahwa anak-anak yang berbakat tidak menutup kemungkinan di antara mereka mengalami masalah komunikasi. Masalah komunikasi tersebut dapat disebabkan oleh keterlambatan atau gangguan dalam berbicara dan / atau bahasa. Kondisi yang sama juga dikemukakan oleh Boer (Tiel, 2007) yang memaparkan bahwa sebagian anak berbakat mempunyai perkembangan bicara dan bahasa yang sangat pesat, tetapi sebagian lagi mengalami keterlambatan bicara. Misalnya seorang anak yang berbakat sebagai musisi dan mampu membaca dan menulis sebuah lagu tetapi gagap. Contoh lain adalah terdapat anak yang mengalami bakat yang luar biasa dalam bidang matematika namun mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan anak menggunakan bahasa ekspresif atau mengalami gangguan fonologi sehingga ketika berkomunikasi, apa yang dikatakannya sulit dipahami oleh lawan bicaranya.
Dunaway (2004) juga menambahkan bahwa gangguan fonologi pada anak dapat diidentifikasi ketika anak berusia antara 5 sampai 8 tahun. Gangguan fonologi atau artikulasi dapat terjadi bersama dengan keberbakatan yang dimiliki anak, gangguan bahasa dan pembelajaran, serta keterbelakangan mental yang dialami sang anak. Gangguan tersebut terjadi bisa disebabkan oleh gangguan pendengaran akibat infeksi atau alergi, masalah fungsional bibir, lidah, dan langit-langit mulut, atau kondisi medis lainnya seperti bibir sumbing dan cerebral palsy. Bahkan terdapat kasus anak yang penyebab ganguannya tidak diketahui. Silverman (Tiel, 2007) juga menjelaskan bahwa salah satu penyebab anak berbakat mengalami keterlambatan berbicara adalah perkembangan auditory processing. Biasanya perkembangan auditory processing terjadi karena terdapat gangguan pada alat pendengaran anak. Namun, disisi lain anak berbakat memperlihatkan perkembangan visual processing yang sangat berkembang dengan baik.
Kondisi-kondisi tersebut secara langsung mempengaruhi hubungan sosial anak dengan lingkungan sekitarnya setiap hari. Anak berbakat memiliki kesempatan yang besar untuk menunjukkan potensinya yang begitu besar. Oleh karena itu, kondisi anak berbakat yang disertai dengan masalah emosi, ketidakmampuan belajar, gangguan perilaku, gangguan konsentrasi, kesulitan motorik, dan keterlambatan atau gangguan berbicara dan berbahasa sudah menjadi permasalah pokok yang harus ditangani. Penanganan yang diberikan diharapkan mampu membuat sang anak lambat laun segera menyusul dan mengejar ketertinggalannya ketika diberikan penanganan yang efektif karena sesungguhnya anak berbakat memiliki perbendaharaan kata yang luas yang membantu anak untuk berbicara (Tiel, 2007).

No comments for "Anak Berkebutuhan Khusus: Memahami kondisi Anak Gifted (Cerdas Istimewa dan Berbakat Istimewa)"