Model Pembelajaran Bagi Siswa yang Mengalami Slow Learner

Model Pembelajaran Bagi Siswa yang Mengalami Slow Learner

Oleh sebab itu metode pembelajaran yang di gunakan untuk anak Slow Learner jelas berbeda dengan anak normal. Di jelaskan bahwa sejumlah strategi umum yang digunakan untuk intervensi  anak yang mengalami slow learner antara lain instruksi aktif dan konkret, advanced organizational strategy,  increased instructional efficiency,dan motivational strategies (Shaw, 2010 hal.13).

Deskripsi dari strategi dalam pengajaran dan pembelajaran untuk anak dengan slow learner adalah sebagai berikut:

1. Concrete Instruction . Anak yang mengalami slow learner mengalami kesulitan untuk instruksi berkonsep abstrak. Mereka akan lebih efektif dan belajar lebih baik dengan instruksi berpendekatan: “lihatlah, rasakanlah, sentuhlah, dan lakukanlah” (Shaw, 2010 hal. 14).

2. Generalization. Siswa dengan kecerdasan terbatas (Borderline intelligence) dapat belajar dan berlatih strategi belajar atau peraturan seperti yang telah diajarkan kepadanya, akan tetapi mereka sangat sulit untuk mengetahui kapan, dimana, dan bagaimana peraturan tersebut diaplikasikan (Shaw, Social 2010 hal. 14).

3. Organizing Instruction. Membandingkan informasi-informasi yang dipelajari dengan variasi situasi-situasi baru dengan  meningkatkan generalisasi serta informasi baru kepada informasi sebelumnya, membutuhkan pengetahuan akan meningkatkan penolakan secara fungsional.   Oleh karena itu akan mudah bagi anak yang mengalami slow learner jika menjelaskan materi yang sudah mereka kuasai sebelumnya untuk mempermudah penjelasan materi baru.

4. Increasing Instructional Efficiency.  Anak dengan kecerdaasan terbatas (Borderline Intelligence) belajar lebih lambat dibandingkan dengan teman-teman seusianya yang berkecerdasan rata-rata.  Anak Borderline Intelligence lebih mudah belajar setiap fakta-fakta yang terbatas dibandingkan temannya karena mereka memiliki kekuatan untuk rote memorization.  Mereka lebih membutuhkan banyak fakta-fakta terbatas untuk memahami sebuah konsep.  Dengan membuat intruksi yang lebih efisien, maka akan memperkecil jurang antara slow learner dan teman seusianya yang berkecerdasan rata-rata.  Untuk memudahkannya dibuatlah instruksi yang terorganisasi dengan baik, seperti  instruksi dengan bantuan komputer (Shaw, 2010 hal. 15).  Tipe lingkungan ini memungkinkan slow learner  untuk belajar fakta-fakta terpisah dalam mempelajari generalisasi sehingga mampu mengatasi keterbatasan yang mereka alami.

5. Academic Motivation.  Dukungan motivasi akademik adalah penting untuk membangun resiliensi akademis darislow learner. Menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman di dunia nyata membantu mereka melihat keuntungan dari pembelajaran sehingga sangat signifikan sebagai motivator (Shaw, 2010 hal. 15).

6. Social and Economic Needs.  Anak dengan slow learner sering kali berjuang dengan kegagalan yang kronis, mereka dapat membangun self-concept yang rendah dan memutuskan diri dari lingkungan sekolah.  Hal ini penting untuk mengidentifikasi dan mendorong siswa dengan slow learner dalam kegiatan yang membutuhkan keterampilan yang berbeda dan kekuatan lainnya.  Menggabungkan anak slow learner dengan rekan-rekan dan anggota lainnya dalam kelompok melalui kegiatan di mana anak dengan slow learner berhasil memberikan kontribusi yang signifikan terhadap motivasi dalam pencapaian akademik dan keberhasilan sekolah (Shaw, 2010 hal. 16).



Intervensi Slow Learner

Family Therapy

Tujuan terapi keluarga oleh para ahli dirumuskan secara berbeda. Bowen menegaskan bahwa tujuan terapi keluarga adalah membantu konseli (angota keluarga) untuk mencapai individualis, membuat dirinya menjadi hal yang berbeda dari sistem keluarga. Sedangkan Minuchin (Somaryanti&Asturik,2013) mengemukakan bahwa tujuan terapi keluarga adalah mengubah struktur dalam keluarga dengan cara menyusun kembali kesatuan dan menyembuhkan perpecahan yang tejadi dalam suatu keluarga. Diharapkan keluarga dapat menantang persepsi untuk melihat realitas, mempertimbangkan alternatif sedapat mungkin dan pola transaksional. Agota keluarga dapat mengembangkan pola hubungan yang baru dan struktur yang mendapatkan self-reinforcing. Terapi keluarga didasarkan pada teori system terdiri dari 3 prinsip. Pertama adalah kausalitas sirkular, artinya peristiwa berhubungan dan saling bergantung bukan ditentukan dalam sebab satu arah efek perhubungan. Jadi, tidak ada anggota keluarga yang menjadi penyebab masalah lain; perilaku tiap anggota tergantung pada perbedaan tingkat antara satu dengan yang lainnya.

Prinsip kedua, ekologi, mengatakan bahwa system hanya dapat dimengerti sebagai pola integrasi, tidak sebagai kumpulan dari bagian komponen. Dalam system keluarga, perubahan perilaku salah satu anggota akan mempengaruhi yang lain. Prinsip ketiga adalah subjektivitas yang artinya tidak ada pandangan yang objektif terhadap suatu masalah, tiap anggota keluarga mempunyai persepsi sendiri dari masalah keluarga (Somaryanti & Astutik,2013). Terapi keluarga tidak bisa digunakan bila tidak mungkin untuk mempertahankan atau memperbaiki hubungan kerja antar anggota kunci keluarga. Tanpa adanya kesadaran akan pentingnya menyelesaikan masalah pada setiap anggota inti keluarga, maka terapi keluarga sulit dilaksanakan. Bahkan meskipun seluruh anggota keluarga datang atau mau terlibat, namun beberapa system dalam keluarga akan sangat rentan untuk terlibat dalam terapi keluarga. Geldard (2013) mengemukakan beberapa teknik yang dapat digunakan oleh terapis keluarga meliputi:

1) Pemeragaan: Memperagakan ketika masalah itu muncul. Misalnya ayah dan anaknya sehingga mereka saling diam bertengkar, maka terapis membujuk mereka untuk berbicara setelah itu terapis memberikan saran-sarannya dan bisa disebut dengan psikodrama. Dan komunikasi dalam keluarga paling penting.

2) Homework: Mengumpulkan seluruh anggota keluarga agar saling berkomunikasi diantaranya.

3) Family Sculpting: Cara untuk mendekatkan diri dengan anggota keluarga yang lain dengan cara nonverbal.

4) Genograms: Sebuah cara yang bermanfaat untuk mengumpulkan dan mengorganisasi informasi tentang keluarga genogram adalah Sebuah diagram terstruktur dari sistem hubungan tiga generasi keluarga. Diagram ini sebagai roadmap dari sistem hubungan keluarga. Hal ini berarti memahami masalah dalam bentuk grafik.



Referensi:
Kathryn Geldard. (2013). Konseling Remaja. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Shaw, S.R. (2010). Rescuing students from the slow learner trap. Principal Leadership.

Somaryanti. & Astutik.D. (2013). Family Therapy Dalam Menangani Pola Asuh Orang Tua Yang
Salah Pada Anak Slow Learner. Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam Vol. 03, No. 01.



No comments for "Model Pembelajaran Bagi Siswa yang Mengalami Slow Learner"

Berlangganan via Email