Konsep Slow Learners

Slow Learners: Their Psychology and Educational Programmes

By:
MS. SANGEETA CHAUHAN
Assistant Professor, Department of Education,
 S.S.V.V., Varanasi-221002
International Journal of Multidisciplinary Research
Vol.1 Issue 8, December 2011, ISSN 2231 5780
Hal. 279-289

1. Konsep Slow Learners
Berdasarkan pengalaman pendidik di India menggambarkan bahwa terdapat banyak anak-anak yang memiliki keterlambatan dalam memahami materi pembelajaran di sekolah dan anak-anak tersebut membutuhkan bantuan khusus. Keterlambatan yang dialami anak akhirnya mengakibatkan terbatasnya prestasi akademik yang dicapai. Anak-anak yang tersebut umumnya memiliki skor inteligensi antara 76 sampai 89 dan ternyata dari populasi yang ada terdapat sekitar 8% anak mengalami slow learners atau keterlambatan belajar. Sedangkan Jenson (1980) menyatakan bahwa anak slow learners memiliki skor IQ antara 80 sampai 90.
Burt (1937) menjelaskan bahwa istilah “mundur” atau ‘siswa lambat belajar” diperuntukkan bagi anak yang tidak mampu mengatasi tugas-tugas yang diharapkan dari kelompok usianya. Contohnya, seorang anak memiliki usia 10 tahun namun umur mentalnya di bawah dari usia kronologisnya maka diasumsikan anak tersebut mengalami lambat belajar dengan pencapaian akademik konstan di bawah rata-rata.
Keberadaan anak slow learners di dalam kelas sangat berbeda dengan anak-anak yang tidak mengalami hambatan ini. Keterlambatan yanng dimiliki sang anak kadang menjadi momok yang sangat menyenangkan bagi anak yang normal untuk dijadikan bahan ejekan di kelas dan di luar kelas. Anak-anak ini terlihat memiliki kemampuan abstraksi dan simbolik yang nampak berbeda dengan anak normal begitupun dengan kemampuan penalaran. Anak dengan slow learners juga akan mengalami kesulitan dalam melakukan permainan yang kompleks dan tugas-tugas sekolah yang rumit. Oleh karena itu stimulasi dari lingkungan eksternal anak seperti peran dari peserta didik sangat menolong anak yang mengalami keterlambatan belajar. Anak-anak tersebut mempunyai kondisi dan kebutuhan yang berbeda atau khusus. Kesadaran penuh dari peserta didik merupakan kunci bagi sang anak untuk bisa menyesuaikan diri dengan keterlambatan dimilikinya dan kelak keterlambatan itu dapat ditangani dan akan mendukung prestasi atau kemampuan optimal anak slow learners.
2. Tipe-tipe Slow Learners
Tipe-tipe slow learners dibagi atas dua, yaitu:
a. The Children Requiring Separation or Segregated Set-up
Tipe ini menggambarkan kondisi yang parah pada anak yang mengalami keterlambatan belajar. Selain itu, keterbatasan mental yang dimiliki oleh anak slow learners ini juga membuat mereka mengalami hambatan secara psikologis dan emosional. Oleh karena itu anak dengan tipe ini sangat membutuhkan perhatian dan penanganan khusus di sekolah khusus.
b. The Children Served in Integrated General Set-up
Anak dengan tipe ini dapat dikatakan memiliki keterlambatan belajar yang ringan. Sehingga anak dengan tipe ini masih memungkinkan ditempatkan di sekolah umum bersama dengan anak-anak normal lainnya. Tipe ini terbagi atas dua jenis yaitu anak dengan keterlambatan belajar di seluruh mata pelajaran dan anak yang keterlambatan belajar pada pelajaran-pelajaran tertentu saja.

3. Karakteristik Slow learners
Berikut dipaparkan empat karakteristik yang mendasari slow learners, yaitu:
a. Keterbatasan kapasitas kognitif
Schonell (1942) menjelaskan bahwa kecerdasan umum merupakan kekuatan mental bawaan yang terus bekembang seiring pengalaman yang dilalui sang anak. Pada proses belajar individu akan mengaktifkan pengalaman yang dilaluinya setiap saat, namun untuk mengaktifkan pengalaman itu membutuhkan kapasitas kognitif yang memadai. Jadi, ketika sang anak memiliki kapasitas kognitif yang terbatas maka anak tersebut akan lambat belajar dan gagal untuk mengatasi situasi belajar. Bahkan berpikir rasional menjadi hampir mustahil bagi anak slow learners.
b. Kapasitas memori yang terbatas
Kapasitas memori adalah kemampuan anak dalam menerima rangsangan kemudian mengelolahnya diotak lalu disimpan di dalam memori jangka panjang dan jangka pendek. Informasi yang tersimpan disebut memori. Memori ini kelak akan membantu anak dalam mempelajari sesuatu. Jadi, ketika kapasitas memori seseorang terbatas maka anak akan mengalami kesulitan atau keterlambatan dalam memperlajari sesuatu hal.
c. Konsentrasi yang rendah dan mudah terganggu
Pada anak slow leraners rentang perhatian mereka sangat singkat. Kondisi tersebut akan membuat anak kesulitan memahami instruksi atau penjelasan dari guru yang sebagian besar merupakan informasi lisan dengan durasi 30 menit. Kondisi tersebut menrupakan bagian tersebulit pada anak slow leraners dalam memahami materi yang dijelaskab guru. Sehingga sudah lazin dikumpai anak slow learners memiliki prestasi akademik di bawah rata-rata yang konsisten.
d. Tidak mampu mengekspresikan ide-ide
Idelnya anak-anak usia sekolah yang sudah mampu membaca dapat mengemukakan kembali isi bacaan yang dibacanya. Namun, pada anak slow learners hal itu adalah hal yang tersulit dilakukan sang anak. Mengingat anak juga memiliki kapasitas memori yang terbatas dan konsentrasi yang mudah teralihkan.
4. Program-program Pendidikan untuk Slow learners
Peneliti dalam penelitian ini telah menetapkan efektifitas beberapa program pendidikan yang dibuat oleh psikolog dan pendidik untuk mengatasi masalah anak slow learners. Berikut dipaparkan beberapa program pendididkan yang efektif bagi anak slow learners:
a. Motivasi
Motivasi yang dimiliki oleh peserta didik merupakan salah satu indikator yang membuat siswa mampu mencapai prestasi belajar yang optimal. Keberhasilan seorang guru sangat tergantung pada seberapa efektif guru tersebut mampu memotivasi siswa untuk belajar. Khususnya pada siswa slow learners yang sering mengalami kegagalan belajar dan menghindar dari proses belajar. Ketika guru berhasil memotivasi siswa slow learners maka pemberian instruksi akan efektif dan tujuan pendidikan dapat dicapai. Motivasi yang diberikan guru juga sebagai salah satu bentuk penerimaan kepada siswa slow learners, sehingga mereka merasa bahwa diri mereka bukan siswa yang diabaikan. Kehadiran mereka sama berartinya dengan siswa-siswa lain yang normal.
b. Perhatian secara individu
Program ini berbentuk perhatian yang diberikan oleh guru terhadap siswa tertentu. Seorang guru harus memahami perbedaan yang ada dimasing-masing siswa sehingga mampu menyadari keberadaan siswa slow learners. Ketika keberadaan siswa slow learners sudah terdekteksi maka ditunjuk satu guru yang secara intensif akan menangani siswa slow learners tersebut. Penanganan tersebut meliputi pemberian kebutuhan-kebutuhan akademik kepada siswa yang mendukung proses akademik yang dijalaninya.
c. Pemulihan dan pengembangan kepercayaan diri
Kondisi anak slow learners tidak dapat dipisahkan dengan gangguan emosi yang merupakan dampak dari respon lingkungan atas keberadaan mereka. Respon tersebut dapat berbentuk kegagalan akademik, penolakan dari orangtua dan teman. Hal tersebutlah yang akan mengantarkan anak pada ketidak percayaan diri. Oleh karena itu guru harus merancang program pemulihan dan pengembangan kepercayaan diri pada anak slow learners sehingga anak dapat mencapai prestasi belajar yang lebih baik.
d. Kurikulum elastis
Pratt (1980) menjelaskan bahwa terdapat dua asumsi dasar yang mendasari semua kurikulum yaitu pengetahuan harus dikejar sendiri oleh yang menginginkannya dan kurikulum harus dirancang untuk memenuhi langsung kebutuhan jangka panjang siswa. Oleh karena itu seorang guru sudah sepatutnya menyuguhkan kurikulum yang akan diajarkan sesuai dengan kebutuhan siswa slow learners.
e. Pengajaran remedial
Rastogi (1978) dan Narayana rao (1987) memaparkan beberapa pedoman sistematis yang harus ditetapkan dalam program pengajaran remedial, yaitu:
1) Isi pembelajaran disesuaikan dengan kapasitas, pengalaman, dan tingkat pendidikan siswa.
2) Penyajian materi yang singkat.
3) Memberikan materi pembelajaran yang berbentuk ide-ide konkrit.
4) Guru menyajikan materi dengan ramah sehingga pembelajaran menjadi kondusif bagi anak.
5) Melalui materi seni, musik, dan drama, keterampilan sosial dan kepercayaan diri anak dapat diasah.
6) Latihan materi pengajaran pada anak merupakan bagian penting dari proram ini.
7) Sumber daya manusia yang menangani program ini harus dipastikan memiliki kapasitas yang memadai atau optimal.
f. Lingkungan yang sehat
Lingkungan yang kondusif atau menyenangkan bagi anak akan membuat proses belajar menjadi efektif.
g. Pemeriksaan medis secara berkala
Kesehatan yang terganggu akan membuat anak slow learners makin terpuruk dengan kondisinya. Oleh karena itu, pemeriksaan medis secara berkala akan menghindarkan anak slow learners pada kondisi yang lebih buruk.
h. Pelatihan dengan metode-metode khusus
Beberapa penelitian membuktikan bahwa pemberian metode khusus akan sangat efektif diberikan pada anak slow learners. Metode khusus tersebut antara lain:
1) Pemberian instruksi audio-visual.
2) Pemberian instruksi tambahan.
3) Instruksi dengan batuan modul pembelajaran.
4) Instruksi dengan bantuan komputer.
i. Kontrak pembelajaran dan mengajar berkelompok
Program kontrak pembelajaran adalah proses perjanjian antara guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangung. Perjanjian ini meliputi tata tertib pembelajaran, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, media pembelajaran, dan tolak ukur keberhasilan pembelajaran. Sedangkan tutor teman sebaya merupakan program yang menghadirkan teman sebaya siswa dalam proses pembelajaran yang kelak akan membantu siswa slow learners dalam memahami materi pelajaran yang diberikan.
5. Kesimpulan
Anak-anak dengan keterlambatan belajar yang dimilikinya sangat membutuhkan penanganan guna untuk memenuhi kebutuhan khusus yang mereka miliki. Sikap pengabaian dari lingkungan akan mengantarkan anak slow learners pada masalah serius seperti kesejahteraan sang anak. Oleh karena itu kesembilan program penanganan anak slow learners dapat dijadikan alat bantu untuk mengoptimalkan kemampuan yang ada pada diri mereka.




No comments for "Konsep Slow Learners"

Berlangganan via Email