Karakteristik, Klasifikasi, dan Dampak Anak yang Mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder

Karakteristik, Klasifikasi, dan Dampak Anak yang Mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder




Anak-anak yang banyak bergerak tapi masih dalam batas normal biasanya gerakannya diarahkan oleh suatu tujuan dan dapat mengontrol perilaku mereka. Namun ada sebagian anak yang menunjukkan gerakan tanpa diarahkan oleh suatu tujuan dan tanpa alasan yang jelas serta terlihat tidak bisa menyesuaikan perilaku mereka terhadap tuntutan, guru dan orangtua. Anak yang menunjukkan gambaran tersebut diatas adalah anak-anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas atau gangguan hiperkinetik atau “attention deficit hyperactivity disorder” (ADHD). Anak ADHD memiliki salah satu karakteristik yaitu kesulitan berperilaku yang merupakan aktivitas yang sangat berlebihan atau tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya terutama aktivitas motorik dan atau vokal (Rusmawati dan Dewi, 2011).

Berikut ciri ADHD, dimana ciri-ciri ini muncul pada masa kanak-kanak awal, bersifat menahun, dan tidak diakibatkan oleh kelainan fisik yang lain, mental, maupun emosional (Baihaqi dan Sugiarmin, 2006). Ciri utama individu dengan gangguan pemusatan perhatian meliputi: gangguan pemusatan perhatian (inattention), gangguan pengendalian diri (impulsifitas), dan gangguan dengan aktivitas yang berlebihan (hiperaktivitas). Dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Inatensi
Yang dimaksud adalah bahwa sebagai individu penyandang gangguan ini tampak mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatiannya. Mereka sangat mudah teralihkan oleh rangsangan yang tiba-tiba diterima oleh alat inderanya atau oleh perasaan yang timbul pada saat itu. Dengan demikian mereka hanya mampu mempertahankan suatu aktivitas atau tugas dalam jangka waktu yang pendek, sehingga akan mempengaruhi proses penerimaan informasi dari lingkungannya.

2. Impulsifitas
Yang dimaksud adalah suatu gangguan perilaku berupa tindakan yang tidak disertai dengan pemikiran. Mereka sangat dikuasai oleh perasaannya sehingga sangat cepat bereaksi. Mereka sulit untuk memberi prioritas kegiatan, sulit untuk mempertimbangkan atau memikirkan terlebih dahulu perilaku yang akan ditampilkannya. Perilaku ini biasanya menyulitkan yang bersangkutan maupun lingkungannya.

3. Hiperaktivitas
Yang dimaksud adalah suatu gerakan yang berlebuhan melebihi gerakan yang dilakukan secara umum anak seusianya. Biasanya sejak bayi mereka banyak bergerak dan sulit untuk ditenangkan. Jika dibandingkan dengan individu yang aktif tapi produktif, perilaku hiperaktif tampak tidak bertujuan. Mereka tidak mampu mengontrol dan melakukan koordinasi dalam aktivitas motoriknya, sehingga tidak dapat dibedakan gerakan yang penting dan tidak penting. Gerakannya dilakukan terus menerus tanpa lelah, sehingga kesulitan untuk memusatkan perhatian.



Klasifikasi ADHD

ADHD adalah kondisi yang amat kompleks, gejalanya berbeda-beda. Para ahli mempunyai perbedaan pendapat mengenai hal ini, akan tetapi mereka sepakat menggolongkan ADHD ke dalam tiga tipe (Baihaqi dan Sugiarmin, 2006), yaitu:

1. Tipe ADHD Gabungan

Untuk mengetahui tipe ini dapat didiagnosis/dideteksi oleh adanya paling sedikit 6 di antara 9 kriteria untuk perhatian, ditambah paling sedikit 6 diantara 9 kriteria untuk hiperaktifitas impulsifitas, tentunya disertai bukti antara lain sebagai berikut:

a. Gejala-gejala tersebut tampak sebelum anak mencapai usia 7 tahun.

b. Gejala-gejala diwujudkan pada paling sedikit dua setting yang berbeda.

c. Gejala yang muncul menyebabkan hambatan yang signifikan dalam kemampuan akademik.

d. Gangguan tidak dapat dijelaskan dengan ebih baik oleh kondisi psikologi atau psikiatri lainnya.

2. Tipe ADHD Kurang Memperhatikan
Untuk mengetahui tipe ini dapat didiagnosis/dideteksi oleh adanya paling sedikit 6 di antara 9 kriteria untuk perhatian dan mengakui bahwa individu-individu tertentu mengelami sikap kurang memerhatikan yang mendalam tanpa hiperaktifitas/impulsifitas.

3. Tipe ADHD Hiperaktif Impulsif
Untuk mengetahui tipe ini dapat didiagnosis/dideteksi oleh adanya paling sedikit 6 di antara 9 kriteria untuk bagian hiperaktif impulsifitas. Tipe ini mengacu pada anak-anak yang mengalami kesulitan lebih besar dengan memori (ingatan) mereka dan kecepatan motor perseptual (persepsi gerak), cenderung untuk melamun, dan kerap kali menyendiri secara sosial.


Identifikasi Attention Deficit Hyperactivity Disorder
Untuk melakukan identifikasi ADHD dapat digunakan pedoman yang di keluarkan oleh American Psychiatric Association, yang menerapkan kriteria untuk menentukan gangguan pemusatan perhatian dengan mengacu kepada DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, 4th edition tahun 2005) sebagai berikut:

A 1. Kurang Perhatian

Pada kriteria ini, anak ADHD paling sedikit mengalami enam atau lebih dari gejala-gejala berikutnya, dan berlangsung selama paling sedikit 6 bulan sampai suatu tingkatan yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan dan secara negatif berpengaruh pada aktivitas sosial, akademik, dan pekerjaan.

a. Seringkali gagal memerhatikan baik-baik terhadap sesuatu yang detail atau membuat kesalahan yang sembrono dalam pekerjaan sekolah dan kegiatan-kegiatan lainnya.

b. Seringkali mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian terhadap tugas-tugas atau kegiatan bermain

c. Seringkali tidak mendengarkan jika diajak bicara secara langsung.

d. Seringkali tidak mengikuti baik-baik instruksi dan gagal dalam menyelesaikan pekerjaan sekolah, pekerjaan,atau tugas di tempat kerja (bukan disebabkan karena perilaku melawan atau kegagalan untuk mengerti instruksi).

e. Seringkali mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas dan kegiatan.

f. Seringkali kehilangan barang atau benda penting untuk tugas-tugas dan kegiatan, misalnya kehilangan permainan;kehilangan tugas sekolah;kehilangan pensil, buku, dan alat tulis lain.

g. Seringkali menghindari, tidak menyukai atau enggan untuk melaksanakan tugas-tugas yang membutuhkan usaha mental yang didukung, seperti menyelesaikan pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah.

h. Seringkali bingung/terganggu oleh rangsangan dari luar, dan

i. Seringkali cepat lupa dalam menyelesaikan kegiatan sehari-hari.


A 2. Hiperaktivitas Impulsifitas
Paling sedikit enam atau lebih dari gejala-gejala hiperaktivitas impulsifitas berikutnya bertahan selama paling sedikit 6 bulan sampai dengan tingkatan yang maladaptif dan tidak dengan tingkat perkembangan.

Hiperaktivitas
a. Seringkali gelisah dengan tangan atau kaki mereka, dan sering menggeliat di kursi.

b. Sering meninggalkan tempat duduk di dalam kelas atau dalam situasi lainnya di mana diharapkan agar anak tetap duduk.

c. Sering berlarian atau naik-naik secara berlebihan dalam situasi di mana hal ini tidak tepat. (Pada masa remaja atau dewasa terbatas pada perasaan gelisah yang subjektif).

d. Sering mengalami kesulitan dalam bermain atau terlibat dalam kegiatan senggang secara tenang.

e. Sering 'bergerak' atau bertindak seolah-olah 'dikendalikan oleh motor', dan sering berbicara berlebihan.

Impulsivitas
a. Mereka sering memberi jawaban sebelum pertanyaan selesai.

b. Mereka sering mengalami kesulitan menanti giliran.

c. Mereka sering menginterupsi atau mengganggu orang lain, misalnya rnemotong pembicaraan atau permainan.



B. Beberapa gejala hiperaktivitas impulsifitas atau kurang perhatian yang menyebabkan gangguan muncul sebelum anak berusia 7 tahun.

C. Ada suatu gangguan di dua atau lebih setting/situasi.

D. Harus ada gangguan yang secara klinis, signifikan di dalam fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan.

E. Gejala-gejala tidak terjadi selama berlakunya PDD, skizofrenia, atau gangguan psikotik lainnya, dan tidak dijelaskan dengan lebih baik oleh gangguan mental lainnya.



Dampak: Masalah yang Muncul

Anak dengan  ADHD dapat tertinggal satu atau dua tahun dalam perkembangan sosial mereka. Para ahli menyatakan bahwa keterlambatan perkembangan sosial yang dialami anak dengan  ADHD berhubungan dengan ketidakmampuan anak dalam menangkap isyarat-isyarat sosial dan pesan-pesan nonverbal yang ada pada konteks-konteks sosial. Anak dengan ADHD cenderung memiliki sedikit pilihan respon untuk menghadapi situasi sosial dan lebih memilih respon agresif untuk menghadapi situasi sosial. Pola penolakan sosial biasanya akan muncul pada pertengahan masa kanak-kanak akibat rendahnya keterampilan sosial yang dimiliki anak dengan ADHD (Novita dan Siswanti, 2010).

Anak dengan ADHD mengalami berbagai hambatan dalam perkembangannya baik yang berkaitan dengan akademik, penyesuaian sosial, emosi, tingkah laku. Kognitif, dan fisikal. Dibandingkan dengan teman-teman sebayanya, anak dengan ADHD akan tampak berperilaku ang tidak matang. Problem perilaku ketidak matangan terlihat dengan jelas saat usia mereka mulai menginjak usia 6 tahun- usia sekolah dasar. Pada usia tersebut anak dengan ADHD terlihat memiliki keterbatasan dalam tanggung jawab, kemandirian, kedisiplinan, keterampilan sosial, pengendalian diri terhadap perilaku dan emosi dibandingkan anak-anak sebayanya pada umumnya (Nanik, 2009).

Permasalahan lain yang timbul akibat ADHD ini antara lain adalah orang tua dan guru pada umumnya sulit untuk memahami dan menerima anak-anak dengan gangguan ADHD ini. Guru menganggap anak-anak ini bodoh, malas, atau acuh tak acuh dalam kelas. Hal ini akn menjadi semakin parah bila masalah perilaku anak semakin menonjol karena ketidakmampuan mengendalikan diri dan sebagai akibat kompleksitas interaksi. Orang tua menjadi cemas, kecewa, dan biasanya bersikap menuntut atau menekan anak. Permasalahan menjadi berputar melingkar seperti lingkaran setan yang sebenarnya dapat dihindari. Anak dapat diberikan pendidikan dan dilatih untuk mengontrol perilakunya meskipun dengan pendidikan khusus. Banyak orang tua yang kelelahan, khususnya para ibu karena berusaha mengatasi perilaku anak-anak mereka dan mendekati depresi setelah mengetahui anak-anak mereka mengalami gangguan ADHD (Flanagen, 2005).

Menurut Abdurrahman (1996), Beberapa masalah perilaku yang muncul yang menghambat proses belajar pada anak ADHD dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Aktivitas motorik yang berlebihan

Masalah motorik pada anak ini disebabkan karena kesulitan mengontrol dan melakukan koordinasi dalam aktivitas motoriknya, sehingga tidak dapat membedakan kegiatan yang penting dan yang tidak penting. Gerakannya dilakukan terus-menerus tanpa lelah, sehingga kesulitan memusatkan perhatian. Aktivitas motorik berlebihan ini seperti, jalan-jalan di kelas atau bertindak berlebihan.

2. Menjawab tanpa ditanya

Masalah ini sangat membutuhkan kesabaran guru. Ciri impulsif demikian ini merupakan salah satu sifat yang dapat menghambat proses belajar anak. Keadaan ini menunjukkan bahwa anak tidak dapat mengendalikan dirinya untuk berespon secara tepat. Mereka sangat dikuasai oleh perasaannya sehingga sangat cepat bereaksi, sulit untuk mempertimbangkan atau memikirkan terlebih dahulu perilaku yang akan ditampilkannya. Perilaku ini biasanya menyulitkan yang bersangkutan maupun lingkungannya.

Keadaan impulsivitas ini sering ditampilkan dalamberbgai perbuatan. Mereka tidak memikirkan terlebih dahulu apa akibatnya bila melakukan suatu perbuatan. Sebagai contoh ketika menyeberang jalan tanpa melihat dulu ke kiri dan ke kanan. Sering memanjat. melompat dari ketinggian yang berbahaya untuk ukurannya. menyalakan api, dan lain sebagainya.. Kecenderungannya, Anak ADHD seakan-akan menempatkan dirinya dalam suatu kondisi yang mempunyai resiko tinggi, bahkan seringkali berbahaya bagi orang lain.

Impulsivitas ini muncul pula dalam bentuk verbal. Mereka berbicara tanpa berpikir lebih dahulu, tidak memperhitungkan bagaimana perasaan orang lain yang mendengarkan, apakah akan menyinggung atau menyakitkan hati. Bentuk lain dari impulsivitas adalah anak seperti tidak sabaran, kurang mampu untuk menuna: keinginan, menginterupsi pembicaraan orang lain. Cepat marah jika orang lain melakukan sesuatu di luar keinginannya

3. Menghindari tugas

Masalah ini muncul karena biasanya anak merasa cepat bosan, sekalipun dengan tugas yang menarik. Tugas-tugas belajar kemungkinan sulit dikerjakan karena anak mengalami hambatan untuk menyesuaikan diri terhadap kegiatan belajar yang diikutinya. Keadaan ini dapat memunculkan rasa frustasi. Akibatnya anak kehilangan motivasi untuk belajar.

4. Kurang perhatian

Kesulitan dalam mendengar, mengikuti arahan, dan memberikan perhatian adalah merupakan masalah umum pada anak-anak ini. Kesulitan tersebut muncul karena kemampuan perhatian yang jelek. Sebagian anak mempunyai kesulitan dengan informasi yang disampaikan secara visual sebagian lainnya, sebagian kecil mempunyai kesulitan dengan materi pelajaran yang disampaikan secara auditif. Perhatian yang mudah teralihkan sangat menghambat dalam proses belajar.

Anak ADHD mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian dan cenderung melamun, kurang motivasi, sulit mengikuti instruksi. Mereka sering menunda atau menangguhkan tugas yang diberikan dan kesulitan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan karena cepat berpindah ke topik lain.

5. Tugas yang tidak diselesaikan

Masalah ini berhubungan dengan masalah pengabaian tugas. Jika anak mengabaikan tugas, boleh jadi tidak menyelesaikan tuganya. Sekali mengembangkan kebiasaan belajar yang jelek di sekolah maupun di rumah, pola-pola tersebut akan terjadi pula di tempat lain.

Masalah ini berhubungan dengan penghargaan waktu yang kurang baik, frustasi terhadap tugas, serta berbagai sikap yang merusak, namun membangun kebiasaan yang baik secara konsisten merupakan langkah yang penting agar tugas dapat diselesaikan dengan baik. Harus diingat bahwa anak-anak ini mempunyai masalah dalam perencanaan, penataan, dan perkiraan waktu.

6. Bingung akan arahan-arahan

Masalah ini berpangkal pada perhatian, ketika perhatian pecah selama kegiatan permbelajaran, terjadi perpecahan proses informasi yang mengakibatkan kebingungan sehingga informasi yang diterima tidak utuh.

Selain itu dapat menurunkan daya ingat jangka pendek. Anak ADHD mengalami kesulitan dalam mengingat informasi yang baru didapat untuk jangka waktu yang pendek. Keadaan ini dapat mempengaruhi kegiatan belajar, karena anak cenderung tidak dapat merespon dengan baik setiap instruksi. Dengan demikian mereka juga mengalami kesulitan dalam mempelajari simbol-simbol, seperti warna dan alphabet.

7. Disorganisasi

Pada umumnya anak-anak ini mengalami disorganisasi, impulsif, ceroboh, dan terburu-buru dalam melakukan tugas yang mengakkibatkan pekerjaan acak-acakan, bingung, dan sering kali lupa beberapa bagian tugas. Anak akan gagal melakukan seluruh tugas karena ia lupa atau salah menginterpretasikan keperluan dalam menyelesaikan tugas tersebut atau meski ia dapat menyelesaikan tugas, ia sering kali lupa membawa kembali tugas tersebut ke sekolah.

Selain itu, seringkali nampak ketika anak mengatur kamarnya. Mereka kelihatannya kesulitan, demikian juga dalam kegiatan sehari-hari lainnya. Hal ini nampak juga ketika anak mengikuti ulangan atau ujian. Mereka kurang dapat memperhatikan atau menimbang jawaban yang tepat, sehingga seringkali memperoleh nilai yang kurang dari rata-rata kelasnya.

8. Tulisan yang jelek

Anak-ank ini seringkali memiliki tulisan tangan yang jelek. Masalah ini bisa ditemukan pada tingkat berat sampai ringan. Tulisan yang jelek ada hubungannya dengan masalah aktivitas motorik dan sikap impulsif yang teburu-buru.

Masalah ini juga erat kaitannya dengan masalah koordinasi motorik yang mengaruhi keterampilan motorik kasar dan halus atau koordinasi mata dan tangan. Dalam keterampilan motorik kasar, mereka mengalami kesulitan dalam keseimbangan melompat, berlari, atau naik sepeda. Dalam keterampilan motorik halus, seperti mengancingkan baju, memakai tali sepatu, menggunting, mewarnai, dan tulisannya sulit dibaca. Dalam koordinasi mata-tangan seperti melempar bola, menangkap bola, menendang, maka gerakan-gerakannya cenderung terburu-buru. Hal ini tampak juga ketika mengikuti kegiatan olah raga, gerakan-gerakannya tampak kurang terampil.

9. Masalah-masalah sosial

Meskipun masalah dalam hubungan teman sebaya tidak ditemukan pada semua anak-anak ini, namun kecenderungan impulsif, kesulitan menguasai diri sendiri, serta toleransi rasa frustasi yang rendah, tidaklah mengherankan jika sebagian anak mempunyai masalah dalam kehidupan sosial, kesulitan bermain dengan aturan, dan aktivitas lainnya yang tidak hanya terbatas di sekolah saja tetapi di lingkungan sosial lainnya.

Masalah penyesuaian diri ini, bisa ditemukan dalam semua hal yang baru, misalnya sekolah, guru, rumah, baju baru. Mereka lebih menyukai lingkungan yang sudah dikenal dengan baik, tidak mudah berubah, dan bersifat kekeluargaan. Keadaan ini dapat menyebabkan mereka lebih cepat menjadi putus asa. Seringkali apa yang sudah menjadi kebiasaan sejak kecil akan berlanjut terus sampai dewasa.

10. Gangguan memiliki ketidakstabilan emosi, baik watak maupun suasana hati. Anak ADHD menampakkan pula perilaku sangat labil dalam menentukan derajat suasana hati dari sedih ke gembira. Stimulus yang menyenangkan akan menyebabkan kegembiraan yang berlebihan, sedang rangsang yang tidak menyenangkan akan memunculkan kemarahan yang besar. Anak seringkali marah hanya disebabkan oleh faktor pemicu yang sepele. Mereka juga cenderung mengalami masalah untuk merasakan kegembiraan. Pada masa remaja kurang merasakan perasaan kehilangan semangat atau tidak berdaya.

11. Selain itu pada gangguan ini konsep diri yang dimiliki sangat rendah. Kebanyakan mereka menolak untuk bermain dengan teman seusianya, mereka lebih suka bermain dengan yang lebih mudah usianya. Keadaan ini menunjukkan pertanda awal dari harga diri yang rendah. Apabila dikemudian hari mereka tidak menunjukkan kemajuan di sekolah atau tidak dapat mengembangkan keterampilan sosial, akan menimbulkan perasaan citra diri yang negatif yang membuat rasa harga dirinya semakin menurun.


Referensi:

Abdurrahman, M. (1996). Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti.

American Psychiatric Assosiations (2005). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM IV). Washington, DC. American Psychiatric Associations.

Baihaqi, MIF., Sugiarmin, M. (2006). Memahami dan Membantu Anak ADHD. Bandung: Refika Aditama

Flanagen, R. (2005). ADHD Kids, Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Jakarta: Prestasi Pustaka Pelajar.

Nanik. (2009). Penulusuran Karakteristik Hasil Tes Inteligensi WISC Pada Anak Dengan Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Hiperaktivitas. Jurnal Psikologi. Vol 34 (1). Pp 18-39.

Novita., Siswanti. (2010). Pengaruh Social Stories Terhadap Keterampilan Sosial Anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Jurnal Psikologi Undip. Vol 8 (2). Pp. 102-115.

Rusmawati, D., Dewi, E.K. (2011). Pengaruh Terapi Musik dan Gerak terhadap Penurunan Kesulitan Perilaku Siswa Sekolah Dasar dengan Gangguan ADHD. Jurnal Psikologi Undip. Vol 9 (1). Pp. 73-92.

No comments for "Karakteristik, Klasifikasi, dan Dampak Anak yang Mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder"

Berlangganan via Email