Anak Berkebutuhan Khusus: Slow Learner

Slow Learner

Definisi Slow Learner
Anak Lambat belajar (Slow Learner) adalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai ketidakmampuan/kekurangmampuan untuk belajar dan untuk menyesuaikan diri sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Maka, anak lambat belajar membutuhkan lebih banyak waktu, lebih banyak pengulangan dan harus seringkali berkonsultasi dengan guru agar mencapai kesuksesan (Somaryanti &Astutik, 2013).

Slow Learner (Lambat dalam belajar) adalah sebuah konsep/istilah yang secara inheren dipenuhi oleh pendidikan kontemporer, psikologi, dan interpretasi serta representasi budaya (Williamson & Paul, 2012). Termasuk di dalamnya, kata/konsep dari “lambat” itu sendiri adalah ekspresi hidup dalam kata-kata yang digunakan sehari-hari, gambar, dan semua tindakan dimana secara meyakinkan terpaut pada anak-anak, remaja dan dewasa. Slow Learner menurut Williamson dan Paul (2012), seiring berjalannya waktu, sebaliknya menjadi kategori yang mengarah kepada apatis, lamban, menunda, segan, melamun, mengantuk, bertahap, menganggur, tak terlihat, tidak aktif, malas, lesu, tertinggal, berkeliaran, lalai, pasif, lamban, menunda-nunda, tenang, enggan, lalai, kendur, malas, lambat bergerak, seperti-siput, stagnan, lambat, dan seperti-kura-kura.
Slow learner dapat didefinisikan sebagai anak dengan fungsi kecerdasan yang terbatas. Anak slow learner dapat digolongkan Borderline Intelligence dengan skor IQ (69-89) (dalam skor WISC) Di dalam DSM IV (Michael, 2000) anak yang mengalami slow learner   tidak dapat dimasukkan ke dalam pendidikan berkebutuhan khusus (sekolah luar biasa), tetapi masuk dalam pendidikan formal dengan kebutuhan sekolah inklusif. Di mana anak dengan slow learner dianggap selalu mengalami siklus kegagalan di dalam menyelesaikan mainstream pendidikannya (Shaw, 2010). Di saat dewasa pun anak-anak slow learner tetap mengalami kelemahan dalam kemampuan self-perceptiondan perilaku belajar mereka sehingga mengalami gangguan perilaku seperti held back dan putus sekolah (Shaw, 2010).

Karakteristik Slow Learner
Shaw (2010) menggambarkan terdapat sejumlah karakteristik dari anak slow learner dibandingkan dengan anak rata-rata seusianya, yaitu:
a. Kesulitan untuk memahami teknik pembelajaran dengan konsep yang abstrak.
b. Kesulitan dalam mengubah atau mengeneralisasi keterampilan, pengetahuan, dan strategi belajar, mengadaptasi konsep baru pada situasi yang baru.
c. Kesulitan secara kognitif untuk mengorganisasikan materi baru, termasuk asimilasi informasi baru atas informasi sebelumnya.
d. Kesulitan mengalami untuk tata kelola waktu dan penentuan tujuan jangka panjang.
e. Kesulitan  dalam membangun motivasi akademis atau motivasi berprestasi.

Faktor Slow Learner
Slow learner memiliki hubungan yang sangat erat dengan IQ, maka terdapat dua faktor yang mempengaruhinya :
1. Faktor Internal
a. Genetik / Hereditas
Berdasarkan 111 penelitian yang diidentifikasi dalam suatu survei pustaka dunia tentang persamaan inteligensi dalam keluarga (Atkinson, dkk, 1983), terdapat korelasi antara IQ orangtua dan anaknya. Semakin tinggi proporsi gen yang serupa pada dua anggota keluarga, semakin tinggi korelasi rata-rata IQ mereka.
b. Biokimia
Disebabkan oleh zat – zat yang dapat merusak otak, misalnya : zat pewarna pada makanan, pencemaran lingkungan, gizi yang tidak memadai, dan pengaruh – pengaruh psikologis dan sosial yang merugikan perkembangan anak.
2. Faktor Eksternal
a. Lingkungan
Efek lingkungan yang berbeda terhadap IQ, berdasarkan penelitian yang dilakukan Beyley bahwa status sosial – ekonomi keluarga mempengaruhi IQ anak (Atkinson, dkk, 1983). Disimpulkan bahwa, individu dapat memiliki IQ sekitar 65 jika dibesarkan di lingkungan miskin, tetapi dapat memiliki IQ lebih dari 100 jika dibesarkan di lingkungan sedang atau kaya. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa kondisi keluarga mempengaruhi bagaimana keluarga mengasuh anak mereka.
b. Strategi Pembelajaran
Penyebab utama problem anak lamban belajar (slow learner) berupa strategi pembelajaran yang salah atau tidak tepat, pengelolaan kegiatan pembelajaran yang tidak membangkitkan motivasi belajar anak dan pemberian ulangan penguatan yang tidak tepat.

Klasifikasi Slow Learner
Slow learner merupakan salah satu dari lima kesulitan belajar siswa (Sudradjat, 2008). Lima kesulitan itu antara lain :
1. Learning disorder atau kekacauan belajar, yaitu keadaan di mana proses belajar seseorang terganggu akibat munculnya respon yang bertentangan.
2. Learning disfunction, merupakan gejala di mana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa itu tidak mengalami subnormalitas mental.
3. Under-achiever, mengacu pada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang cenderung di atas normal, tetapi berprestasi belajar yang rendah.
4. Learning disabilities, yaitu ketidakmampuan belajar yang mengacu pada gejala di mana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar.
5. Slow-learner, adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf intelektual yang relatif sama.
Penggolongan slow learner menurut masalah belajar anak :
1. Anak dengan masalah konsentrasi
2. Anak dengan masalah daya ingat
3. Anak dengan masalah kognisi
4. Anak dengan masalah sosial dan emosional

Permasalahan Yang Mungkin Muncul Dari Sisi Emosi, Fisik, Psikologis
a).  Emosi
Semua anak pasti mengalami permasalahan emosional, tetapi slow learner mengalami permasalahan yang serius dan untuk waktu yang lama sehingga sangat mengganggu proses belajar mereka. Permasalahan emosional ini berakibat pada prestasi akademis yang rendah, hubungan interpersonal yang tidak baik, dan harga diri yang rendah. Bagian penting dalam perkembangan personal, sosial dan emosional adalah konsep diri dan harga diri. Aspek dari perkembangan mereka ini sangat dipengaruhi pengalaman mereka di rumah, bersama teman, dan di sekolah. Konsep diri meliputi bagaimana kita memandang kekuatan, kelemahan, kemampuan, sikap dan nilai-nilai kita sendiri. Perkembanganya bermula sejak lahir dan terus dipengaruhi/ dibentuk oleh pengalaman. Kuranganya konsep diri yang positif dapat merusak perkembangan sosial anak. Slow learner biasanya suka menarik diri, tidak dewasa, memiliki gambaran diri yang rendah, atau depresi sehingga mudah terganggu (disturbed). Anak-anak seperti ini biasanya tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit teman atau bermain dengan anak yang sangat lebih muda dari mereka. mereka suka berkhayal. Mereka menderita karena kurang memiliki ketrampilan social. Program pelatihan ketrampilan social sangat efektif dalam memperbaiki perilaku sosial anak yang menarik diri dan tidak memiliki teman. Ketika anak mulai sekolah mereka menilai diri mereka berdasarkan keberhasilan. Hal ini dapat terlihat ketika bahkan kegagalan kecil dapat menyebabkkan anak merasa tidak berharga. Perkembangan social dan emosional anak selama kelas-kelas awal dibentuk oleh tiga pengaruh. Yang pertama adalah orang tua dan keluarga. Kedua adalah kelompok teman sebaya. Yang ketiga adalah pengalaman di sekolah. Ketegangan di rumah dan hubungan dengan saudara dan orang tua dapat menyebabkan frustasi pada anak. Rasa takut dan cemas yang disebabkan sikap guru juga akan mengganggu emosi anak. Ketegangan dan frustasi anak dapat menjadi penyebab slow learning.
b).  Pendidikan
 Faktor penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah tingkat kepandaian orang tua dan juga keluarga. Orang tua yang terpelajar sangat memperhatikan perkembangan intelektual anak mereka. Mereka mulai mendidik dan melatih anak mereka sebelum masuk TK.  Mereka juga menyediakan mainan pendidikan dan buku yang membantu anak belajar. Mereka juga mendidik sendiri anak mereka dalam membaca dan aritmatika. Dengan cara ini mereka melatih anak mereka untuk meningkatkan kecepatan/ laju pembelajaran. Orang tua yang terdidik dapat menyediakan pengalaman dan materi pendidikan bagi anak mereka sesuai tingkat  kecerdasan mereka sendiri. Tetapi jika orang tua tidak  terdidik, mereka tidak dapat mengambil langkah untuk memajukan anak mereka. Mereka jarang memperlihatkan minat pada perkembangan intelek anak mereka. Sebagai akibatnya anak mereka tidak mendapatkan cukup kesempatan untuk melatih pikiran mereka supaya dapat meningkat laju pembelajaran mereka. Anak-anak seperti ini ketika pertama kali masuk sekolah dan melihat anak lain sudah lebih maju akan kehilangan kepercayaan diri mereka. Hal ini berlanjut ke ketumpulan intelek yang menyebabkan slow learning.

Model Pembelajaran Bagi Slow Learner
Oleh sebab itu metode pembelajaran yang di gunakan untuk anak Slow Learner jelas berbeda dengan anak normal. Di jelaskan bahwa sejumlah strategi umum yang digunakan untuk intervensi  anak yang mengalami slow learner antara lain instruksi aktif dan konkret, advanced organizational strategy,  increased instructional efficiency,dan motivational strategies (Shaw, 2010 hal.13).
Deskripsi dari strategi dalam pengajaran dan pembelajaran untuk anak dengan slow learner adalah sebagai berikut:
1. Concrete Instruction . Anak yang mengalami slow learner mengalami kesulitan untuk instruksi berkonsep abstrak. Mereka akan lebih efektif dan belajar lebih baik dengan instruksi berpendekatan: “lihatlah, rasakanlah, sentuhlah, dan lakukanlah” (Shaw, 2010 hal. 14).
2. Generalization. Siswa dengan kecerdasan terbatas (Borderline intelligence) dapat belajar dan berlatih strategi belajar atau peraturan seperti yang telah diajarkan kepadanya, akan tetapi mereka sangat sulit untuk mengetahui kapan, dimana, dan bagaimana peraturan tersebut diaplikasikan (Shaw, Social 2010 hal. 14).
3. Organizing Instruction. Membandingkan informasi-informasi yang dipelajari dengan variasi situasi-situasi baru dengan  meningkatkan generalisasi serta informasi baru kepada informasi sebelumnya, membutuhkan pengetahuan akan meningkatkan penolakan secara fungsional.   Oleh karena itu akan mudah bagi anak yang mengalami slow learner jika menjelaskan materi yang sudah mereka kuasai sebelumnya untuk mempermudah penjelasan materi baru.
4. Increasing Instructional Efficiency.  Anak dengan kecerdaasan terbatas (Borderline Intelligence) belajar lebih lambat dibandingkan dengan teman-teman seusianya yang berkecerdasan rata-rata.  Anak Borderline Intelligence lebih mudah belajar setiap fakta-fakta yang terbatas dibandingkan temannya karena mereka memiliki kekuatan untuk rote memorization.  Mereka lebih membutuhkan banyak fakta-fakta terbatas untuk memahami sebuah konsep.  Dengan membuat intruksi yang lebih efisien, maka akan memperkecil jurang antara slow learner dan teman seusianya yang berkecerdasan rata-rata.  Untuk memudahkannya dibuatlah instruksi yang terorganisasi dengan baik, seperti  instruksi dengan bantuan komputer (Shaw, 2010 hal. 15).  Tipe lingkungan ini memungkinkan slow learner  untuk belajar fakta-fakta terpisah dalam mempelajari generalisasi sehingga mampu mengatasi keterbatasan yang mereka alami.
5. Academic Motivation.  Dukungan motivasi akademik adalah penting untuk membangun resiliensi akademis darislow learner. Menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman di dunia nyata membantu mereka melihat keuntungan dari pembelajaran sehingga sangat signifikan sebagai motivator (Shaw, 2010 hal. 15).
6. Social and Economic Needs.  Anak dengan slow learner sering kali berjuang dengan kegagalan yang kronis, mereka dapat membangun self-concept yang rendah dan memutuskan diri dari lingkungan sekolah.  Hal ini penting untuk mengidentifikasi dan mendorong siswa dengan slow learner dalam kegiatan yang membutuhkan keterampilan yang berbeda dan kekuatan lainnya.  Menggabungkan anak slow learner dengan rekan-rekan dan anggota lainnya dalam kelompok melalui kegiatan di mana anak dengan slow learner berhasil memberikan kontribusi yang signifikan terhadap motivasi dalam pencapaian akademik dan keberhasilan sekolah (Shaw, 2010 hal. 16).

Intervensi Slow Learner
Family Therapy
Tujuan terapi keluarga oleh para ahli dirumuskan secara berbeda. Bowen menegaskan bahwa tujuan terapi keluarga adalah membantu konseli (angota keluarga) untuk mencapai individualis, membuat dirinya menjadi hal yang berbeda dari sistem keluarga. Sedangkan Minuchin (Somaryanti&Asturik,2013) mengemukakan bahwa tujuan terapi keluarga adalah mengubah struktur dalam keluarga dengan cara menyusun kembali kesatuan dan menyembuhkan perpecahan yang tejadi dalam suatu keluarga. Diharapkan keluarga dapat menantang persepsi untuk melihat realitas, mempertimbangkan alternatif sedapat mungkin dan pola transaksional. Agota keluarga dapat mengembangkan pola hubungan yang baru dan struktur yang mendapatkan self-reinforcing. Terapi keluarga didasarkan pada teori system terdiri dari 3 prinsip. Pertama adalah kausalitas sirkular, artinya peristiwa berhubungan dan saling bergantung bukan ditentukan dalam sebab satu arah efek perhubungan. Jadi, tidak ada anggota keluarga yang menjadi penyebab masalah lain; perilaku tiap anggota tergantung pada perbedaan tingkat antara satu dengan yang lainnya.
Prinsip kedua, ekologi, mengatakan bahwa system hanya dapat dimengerti sebagai pola integrasi, tidak sebagai kumpulan dari bagian komponen. Dalam system keluarga, perubahan perilaku salah satu anggota akan mempengaruhi yang lain. Prinsip ketiga adalah subjektivitas yang artinya tidak ada pandangan yang objektif terhadap suatu masalah, tiap anggota keluarga mempunyai persepsi sendiri dari masalah keluarga (Somaryanti & Astutik,2013). Terapi keluarga tidak bisa digunakan bila tidak mungkin untuk mempertahankan atau memperbaiki hubungan kerja antar anggota kunci keluarga. Tanpa adanya kesadaran akan pentingnya menyelesaikan masalah pada setiap anggota inti keluarga, maka terapi keluarga sulit dilaksanakan. Bahkan meskipun seluruh anggota keluarga datang atau mau terlibat, namun beberapa system dalam keluarga akan sangat rentan untuk terlibat dalam terapi keluarga. Geldard (2013) mengemukakan beberapa teknik yang dapat digunakan oleh terapis keluarga meliputi:
1) Pemeragaan: Memperagakan ketika masalah itu muncul. Misalnya ayah dan anaknya sehingga mereka saling diam bertengkar, maka terapis membujuk mereka untuk berbicara setelah itu terapis memberikan saran-sarannya dan bisa disebut dengan psikodrama. Dan komunikasi dalam keluarga paling penting.
2) Homework: Mengumpulkan seluruh anggota keluarga agar saling berkomunikasi diantaranya.
3) Family Sculpting: Cara untuk mendekatkan diri dengan anggota keluarga yang lain dengan cara nonverbal.
4) Genograms: Sebuah cara yang bermanfaat untuk mengumpulkan dan mengorganisasi informasi tentang keluarga genogram adalah Sebuah diagram terstruktur dari sistem hubungan tiga generasi keluarga. Diagram ini sebagai roadmap dari sistem hubungan keluarga. Hal ini berarti memahami masalah dalam bentuk grafik.




DAFTAR PUSTAKA

Kathryn Geldard. (2013). Konseling Remaja. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Shaw, S.R. (2010). Rescuing students from the slow learner trap. Principal Leadership.

Somaryanti. & Astutik.D. (2013). Family Therapy Dalam Menangani Pola Asuh Orang Tua Yang
Salah Pada Anak Slow Learner. Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam Vol. 03, No. 01.

Williamson.,J. & Paul.,J.(2012). The “Slow Learner” as a Mediated Construct. ISSN 1929-9192 Canadian Journal of Disability Studies

No comments for "Anak Berkebutuhan Khusus: Slow Learner"

Berlangganan via Email