Anak Berkebutuhan Khusus: Oppositional Defiant Disorder (ODD)

Studi Kasus: Oppositional Defiant Disorder (ODD)



IDENTITAS KLIEN
Inisial         : RP
Jenis Kelamin : Perempuan
Pendidikan : TK
Umur : 5 tahun

RIWAYAT KELUHAN
Pihak sekolah  Klien dalam kesehariannya sering-
kali memukul ataupun menunjukkan mimik muka
 marah yang membuat teman-teman sekelasnya takut
 hingga menangis. Selain itu subjek juga beberapa
kali terlihat mengambil jajanan ataupun mainan milik
 teman-teman sekelasnya tanpa memita izin terlebih
 dahulu.

INTEGRASI DATA
Domain Kognitif
- Subjek memperoleh skor IQ 117, kategori rata-rata atas (skala Binet) , kemampuan intelektual subjek berada pada taraf di atas rata-rata jika di bandingkan dengan anak-anak seusianya.
Subjek memiliki kemampuan yang cukup baik dalam memahami dan menganalisis informasi baru yang diterimanya.
Subjek cukup mampu untuk memahami aturan-aturan yang berlaku dalam hubungan sosial sehari-hari.
Subjek memiliki koordinasi visual dan motorik yang cukup baik sehingga subjek mampu untuk menyelesaikan suatu tugas yang memerlukan koordinasi mata dan gerak tangan dengan baik.
Subjek memiliki kelemahan dalam subtes memori dan konsentrasi sehingga subjek memiliki kesulitan untuk memusatkan konsentrasi dan ingatan jangka pendeknya terhadap suatu tugas yang sedang di kerjakannya.

Domain Afektif
Subjek kurang mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya, karena ayah dan ibu subjek sibuk bekerja.
Kesehariannya subjek lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah maupun dirumah neneknya.
Perbedaan pola asuh antara ayah dan ibu
Domain Sosial
- Subjek banyak memiliki teman yang usianya jauh diatas usia subjek yaitu, anak-anak kelas 3 sekolah dasar dan satu anak retardasi mental yang sudah SMP

Domain Emosi
Subjek termasuk anak yang mudah marah ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Ketika marah subjek akan bersikap agresif secara fisik dan verbal
Subjek memukul ataupun menunjukkan mimik muka marah pada teman dan orang tuanya ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Subjek seringkali mengganggu temannya : memukul, memarahi, merebut alat tulis, mengejek gambar temannya.

LANDASAN TEORI
Oppositional Defiant Disorder
Kriteria diagnostik menurut DSM-V (American Psychiatric Association, 2013):
A. Perilaku marah/mood yang tidak menyenangkan, perilaku berdebat/menentang, atau perilaku balas dendam yang berlangsung setidaknya selama enam bulan yang ditandai paling sedikit empat gejala dari kategori berikut, dan muncul selama interaksi dengan paling tidak satu individu yang bukan saudara kandung.

Angry/Irritable Mood
Sering kehilangan kendali saat marah
Mudah terganggu
Mudah marah

Argumentative/Defiant Behavior
Sering berdebat/berargumen dengan figur yang memiliki otoritas atau dengan orang dewasa.
Sering menentang atau menolak dalam memenuhi permintaan dari figur otoritas atau tidak mengikuti peraturan.
Sering mengganggu orang lain dengan sengaja.
Sering menyalahkan orang lain dari kesalahan yang telah ia perbuat.

Vindictiveness
Telah melakukan balas dendam setidaknya dua kali dalam enam bulan terakhir.

B. Gangguan dari perilaku ini menyebabkan distress pada orang lain dalam konteks sosialnya (misalnya keluarga, peer group, rekan kerja), atau dapat berdampak negatif pada fungsi sosial, pendidikan, pekerjaan, atau fungsi area penting lainnya.

C. Perilaku tidak terjadi pada orang yang psikotik, menggunakan zat substansif, depresif, atau gangguan bipolar.

TINGKATAN SPESIFIK
Ringan: Gejala terjadi pada satu setting (mis: di rumah, di sekolah, di tempat kerja, atau di dalam kelompok sebaya)
Sedang: Gejala terjadi pada dua setting
Berat: Gejala terjadi pada tiga setting atau lebih


DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association. (2013). Dognostic and statistical manual of mental disorders, edition 5th (DSM-5). Washington: American Psychiatric Publishing.

American Academy of Child and Adolescent Psychiatric. (2009). Oppositional defiant disorder: A guide for families. America: American Academy of Child and Adolescent Psychiatric.

Deliana, S. R. (2009). Problematika perkembangan anak. Semarang: Widya Karya.

Filcheck, H. A &  McNeil, C. B. (2004). The use of token economies in preschool classrooms: Practical and phylosophical concerns. Journal of early and intensive behavior intervention, 1(1):94-104.

Komalasari, G., Wahyuni, E. W & Karsih. (2014). Teori dam teknik konseling. Jakarta: PT Indeks.

Pujianti, H. (2008). Terapi perilaku pada anak yang mengalami oppositional defiant disorder. Jurnal Psikologi.

Raaijimakers, M. A. (2008). Aggresive Behavior in Preschool Children. Thesis: The University Medical Center Utrecht . ISBN:978-90-393-4933-5.

Smith, M. L. (1996). A study of social skills training and oppositional defiant disorder with a kindergarten student. Thesis: Xavier University.

Salend, S. J & Sylvestre, S. (2005). Understanding and addressing oppositional and defiant classroom behaviors. Journal Counsil for Exceptional Children, 37(6):32-39.

Valle, P. D & Kelley, S. L. (2001). The “oppositional defiant and conduct disorde child: A brief review of etiology, assessment, and treatment. Behavioral Development Bulletin, 1(1):36-41.



No comments for "Anak Berkebutuhan Khusus: Oppositional Defiant Disorder (ODD)"

Berlangganan via Email