Anak Berkebutuhan Khusus: Disleksia dan Aphasia

Disleksia dan Aphasia


Kesulitan Belajar Membaca (Disleksia)
Disleksia dikategorisasikan sebagai ketidakmampuan membaca yang parah tanpa masalah psikologis atau non-psikologis lainnya (Lyon, dkk, dalam Bogliotti, dkk, 2008). Kata dyslexia berasal dari bahasa Yunani dys yaitu miskin atau ketidakmampuan, dan lexis yang berarti kata atau bahasa, sehingga dyslexia secara bahasa berarti permasalahan dengan kata (Cox, 1985, dalam Ott, 2007). The International Dyslexia association (1998) (dalam Ott ,2007) memperjelas definisi dari disleksia, yaitu:
“Disleksia adalah ketidakmampuan belajar yang dikategorisasikan dengan permasalahan mengekspresi atau menerima, baik dalam bahasa lisan atau tulisan.  Permasalahan dapat muncul dalam membaca, mengeja, menulis, berbicara atau mendengar. Disleksia bukanlah penyakit, sehingga tidak memiliki sebuah obat atau penyembuhan. Disleksia dideskripsikan adalam berbagai pemikiran, sering dianggap sebagai orang yang gifted atau produktif yang belajar dengan cara berbeda. Disleksia bukanlah hasil dai intelegensi rendah. Adanya gap antara sikap belajar dan pencapaian di sekolah. Permasalahannya bukan dari perilaku, psikologis, motivasi atau sosial. Ini juga bukanlah permasalahan dengan penglihatan; orang dengan disleksia tidak dapat membaca dari belakang. Disleksia merupakan hasil dari perbedaan struktur dan fungsi otak mereka. Orang dengan disleksia adalah unik, setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Banyak disleksis yang kreatif dan memiliki kemampuan yang tidak biasa seperti pada seni, atletik, arsitektur, grafis, elektronik, mekanik, drama, musik, atau mesin. Disleksis sering muncul pada program pencarian bakat yang membutuhkan integrasi antara visual, spatial dan motorik. Permasalahan mereka dalam memproses bahasa membedakan mereka ke dalam sebuah grup. Hal ini berarti bahwa disleksis memiliki masalah dalam menerjemahkan bahasa ke dalam pikiran (seperti dalam mendengarkan atau membaca) atau pemikiran ke dalam bahasa (seperti dalam menulis dan berbicara).

Karakteristik Kesulitan belajar membaca (Disleksia)
Mangunsong (2009) mengungkapkan anak kesulitan belajar mengalami masalah dalam tiga aspek membaca, yaitu decoding, kelancaran (fluency) dan pemahaman (comprehension). Anak mengalami kesulitan dalam mengubah bahasa tulisan menjadi bahasa lisan (decoding), misalnya kesulitan menyebutkan huruf-huruf yang membentuk kata topi, yaitu t,o,p, dan i. Anak juga mengalami kesulitan dalam membaca dengan lancar (fluency) dan memahami arti kata (comprehension).
Hammond dan Hercules (2000) mengungkapkan beberapa karakteristik orang dengan disleksia, yaitu:
Tidak efisiennya sistem memori jangka pendek (short-term memory)
Kesulitan untuk memproses suara, menginterpretasinya, dan memasukkannya ke dalam memori
Kesulitan dalam kemampuan koordinasi dan motorik
Kesulitan dalam memproses visual
Kesulitan dalam menulis, seperti:
- Mengeja menjadi sebuah masalah, khususnya pada kata-kata yang kecil
- Mengeja sesuai dengan bagaimana kata itu terdengar
- Bingung pada sebuah kata atau melupakannya
- Menulis dengan lambat dan banyak membuat draft
- Menulis dengan cepat sebagai upaya untuk menuliskan pikiran sebelum melupakannya
- Kesulitan untuk memahami apa yang telah ditulis
- Kesulitan meorganisasi dan menstruktur ide dalam menulis
- Kesulitan mengekspresikan diri secara akurat dalam tulisan
Kesulitan dalam membaca, seperti:
- Butuh membaca sesuatu berulang kali untuk memahaminya
- Membaca dengan sangat lambat. Terkadang juga sulit untuk mengingat apa yang telah dibaca
- Ketidakakuratan dalam membaca (kekurangan kata atau menambahkannya)
- Kehilangan wilayah mebaca dan harus mengulang
- Kesulitan untuk fokus pada suatu halaman. Membutuhkan konsentrasi dan perjuangan untuk dapat fokus
- Membaca menjadi sulit karena kata yang baru dan tidak familiar sehingga susah untuk diingat
- Kesalahan membaca kata-kata atau frasa yang mirip

Aphasia
Dibawah ini akan dijelaskan beberapa tipe aphasia (dalam Gupta & Singhal, 2011)
a. Broca’s aphasia (non-fluent telegraphic speech)
Kesulitan dalam berbicara walaupun ia mampu memahmi suatu kalimat. Individu akan berbicara lambat sekali dengan struktur kata yang sangat sederhana. Kata benda mampu disebutkan hanya ketika ia menyebutkan satu kata saja. Kata sambung, kata sifat dan lainnya jarang sekali digunakan
b. Wernicke’s aphasia
Adalah ketidakmampuan untuk mengerti dari suatu kata atau menyuarakannya menjadi ucapan utuh.
c. Conduction aphasia
Adalah sebuah paradoxical deficit dimana orang dengan gangguan ini dapat bicara dengan mudah, mengetahui nama objek, dan memahami pembicaraan, tapi mereka tidak dapat mengulang kata-kata. Penejelasan tentang masalah ini adalah terdapat hubungan yang buruk antara perceptual word image dalam pariental-temporal cortex dan sistem motorik yang memproduksi kata-kata.
d. Nominal aphasia
Individu yang mengalami Anomic Aphasia atau amnesic aphasia mampu memahami kalimat, menghasilkan kalimat dan mengulang kalimat. Ia tidak mampu untuk menyebutkan kata benda. Contohnya, ketika ditampilkan gambar berupa jangkar kapal, pasien yang menderita gangguan ini tidak dapat menyebutkan nama tersebut. Pasien ini menjawab “saya tahu itu apa, itu yang biasa digunakan untuk mengikatkan kapal”. Ia bisa menjelaskan namun sulit mengatakan kata benda. Kerusakan ini terjadi di temporal cortex. Kata benda dan kata kerja begitu berbeda. Kemampuan untuk menyebutkan kata benda ada di bagian otak dalam rekognisi dan klasifikasi sedangkan kata kerja ada dibagian otak yang berhubungan dengan gerakan.
e. Transcortical motor aphasia
Transcortical aphasia sering disebut juga sebagai isolation syndrome dimana individu dapat mengulang dan memahami kata dan nama objek tapi tidak dapat berbicara secara spontan, atau mereka tidak dapat memahami kata–kata walaupun mereka dapat mengulangnya. Apashia ini diduga diakibatkan oleh hilangnya area korteks luar bahasa tradisional.

Cara mengidentifikasi
Cara mengidentifikasi anak dengan kesulitan belajar dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut (Mangunsong, 2009):
1. Mencatat anak-anak dengan berbagai indikasi
-Tugas/kegiatan akademisnya sering tidak selesai
-Kualitas pekerjaannya buruk (dibandingkan dengan teman sekelas)
-Tidak ada motivasi belajar; sering absen di sekolah
2. Melakukan pengamatan sistematik terhadap masing-masing anak
3. Menggunakan alat/instrumen seleksi (screening test). Contoh: Untuk mendeteksi disleksia dapat menggunakan, Michael Vinegrad: a revised dyslexia checklist. Educare, No. 48 March 1994.
4. Testing psikometrik, meliputi:
-Asesmen potensi intelektual
-Asesmen hasil belajar/prestasi akademik
-Asesmen berbagai modalitas belajar
Data atau informasi tentang kesulitan belajar juga dapat diperoleh melalui:
1. Case history – melalui interview
2. Observasi
3. Informal testing
4. Formal standart test
Mengidentifikasi disleksia juga dapat dilakukan dengan beberapa tahapan berikut (Lucid, 2006), yaitu:
Anak membaca atau mengeja secara signifikan berada di belakang usia kronologikalnya (biasanya 2 atau 3 tahun)
Intelegensi anak tidak secara signifikan berada di bawah rata-rata
Tidak ada sosial, emosional ataupun pendidikan yang menjadi penyebab kesulitan anak dalam membaca
Anak tidak menderita kerusakan penglihatan, kehilangan pendengaran, atau kerusakan otak yang serius atau penyakit yang parah
Anak menunjukkan beberapa tanda-tanda positif dari gangguan ini, seperti kesulitan phonological atau masalah memori.

Permasalahan yang muncul
1. Segi Psikologi
Masalah yang sering muncul adalah masalah penggunaan bahasa lisan/tulis, masalah-masalah dalam mendengarkan, berpikir, mengeja, matematik, serta masalah dalam kemampuan memahami serta mengungkapkan (bahasa reseptif & ekspresif).
2. Segi emosional dan sosial
Hal yang paling sering dikemukakan tentang anak kesulitan belajar adalah ketidakstabilan emosi dan impulsivitas. Emosi yang labil ditandai dengan seringnya terjadi perubahan-perubahan yang menyolok dalam suasana hati dan temperamen. Impulsivitas menunjukkan kurang dapat dikontrolnya impuls-impuls. Pada beberapa anak ada kemungkinan untuk menyerang orang lain atau benda-benda tanpa ada provokasi sebelumnya atau tiba-tiba berdiam diri pada waktu yang tidak sepantasnya.
Kemungkinan penyebab masalah sosial bagi sebagian siswa dengan kesulitan belajar adalah defisit dalam kognisi sosial. Mereka salah membaca tanda-tanda sosial dan salah menginterpretasi perasaan atau emosi dari orang lain. Mereka juga kesulitan melihat dari sudut pandang orang lain.
3. Segi pendidikan
Penelitian menyebutkan bahwa siswa dengan kesulitan belajar tidak percaya pada kemampuan dirinya sendiri, tidak memiliki kemampuan untuk menentukan strategi apa yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah, dan memiliki masalah dalam menghasilkan strategi belajar secara spontan. Siswa dengan kesulitan belajar juga memiliki kesulitan bekerja sendiri serta bermasalah dalam pekerjaan rumah (Munk, Bursuck, Polloway, Jayanthi, 1998, dalam Mangunsong, 2009).

Model pendidikan
Snowling and Hulme (2011) dalam Snowling (2012), meriview bahwa intervensi untuk kesulitan bahasa dan aksara haruslah bersifat sistematik, terstruktur dengan baik dan multi-sensori, penggabungan pembelajaran langsung, jeda waktu untuk memahami dan revisi-revisi. Untuk disleksia, intervensi yang efektif seharusnya menggunakan pelatihan dalam penyuaraan kalimat, kesadaran phoneme, dan menyatukan kalimat dan phonemes melalui menulis dan membaca dari teks pada level yang sesuai untuk meningkatkan kemampuannya.
Bentuk penanggulangan yang dapat diberikan untuk anak dengan kesulitan belajar juga dapat berupa:
1. Remedial
Merupakan usaha perbaikan yang dilakukan pada fungsi belajar yang terhambat. Dalam program remedial (perbaikan belajar-mengajar) sebaiknya mengikuti prosedur berikut:
a) Analisis hasil diagnosis
b) Menentukan bidang yang perlu mendapat perbaikan
c) Menyususn program perbaikan
d) Melaksanakan program perbaikan
e) Menilai perbaikan belajar-mengajar
2. Tutoring
Merupakan bantuan yang dilakukan langsung pada bidang studi yang terhambat dari siswa yang sudah duduk di bangku sekolah. Cara ini lebih cepat karena tanpa melalui perbaikan proses dasarnya terlebhih dahulu, dengan tujuan mengejar ketinggalan di kelas. Tetapi sebaiknya intervensi yang paling ideal dan menyeluruh akan mencakup kedua program tersebut
3. Kompensasi
Diberikan bila hambatan yang dimiliki berdampak negatif dalam pembentukan konsep dirinya. Dalam arti, mengingat usia, kegiatan yang dilakukan dan derajat kesulitan yang dialami sedemikian rupa, sehingga diperlukan suatu kompensasi untuk mengatasi kekurangannya di bidang tertentu. Contohnya, bagi anak yang memiliki masalah pendengaran dan penglihatan dapat didudukkan di di bagian depan kelas, dan bekerja sama dengan teman akrab untuk memberikan petunjuk dan informasi yang tidak dipahami.

Intervensi
1. Program pengembangan kemampuan decoding dan program pengembangan kemampuan bahasa lisan (disleksia) (Snowling dan Hulme, 2011)
2. Metode multisensori (disleksia) (Praptiningrum dan Purwandari, 2009)
3. Stimulasi visual (disleksia) (Kawuryan, 2012)
4. Tritmen menulis (repeated copying dan mere-call kata-kata yang menjadi target) (aphasia) (Beeson, Rising dan Volk, 2003)
5. Pelatihan verb production menggunakan program tritmen Verb production at the Word and Sentence Level (aphasia) (Bastiaanse, Jonkers, Quak, & Varela, 1997, dalam Bastiaanse, dkk, 2006)






DAFTAR PUSTAKA

Basso, Anna. 2003. Aphasia and its therapy. New York: Oxford University Press.

Bastiaanse, R., Hurkmans, J., & Links, P. 2006. The training of verb production in Broca’s aphasia: A multiple-baseline across-behaviors study. Aphasiology, 20: 298-311.

Beeson, P.M. Rising, K, & Volk, J. 2003. Writing treatment for severe aphasia: Who benefits?. Journal of speech, language and hearing research, 46:1038-1060.

Bogliotti, C., Sernicles, W., Galusi, S.M., & Charolles, L.S. 2008. Discrimination of speech sounds by children with dyslexia: comparions with chronological age and reading level controls. Journal of experimential child psychology.

Ginsberg, Lionel. 2005. Lecture notes: Neurologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Gupta, Abha & Singhal, Gaurav. 2011. Understanding aphasia in a simplied manner. Journal Indian academy of clinical medicine. 12(1), 33-37.

Hammond, J. & Hercules, F. 2000. Understanding dsylexia: An introducton for dyslexic students in higher education. United Kingdong: The Glasgow of art.

Jensen, Eric. 2000. Different brain, different learners, how to reach the hard reach. California: The brain store, Inc.

Jordan, Dale. 2000. Jordan dyslexia assessment/reading program. Austin: TX Pro Ed.
Kawuryan, Fajar. 2012. Pengaruh stimulasi visual untuk meningkatkan kemampuan membaca pada anak disleksia. Jurnal psikologi pitutur, 1(1)9-20.

Lucid. 2006. Understanding dyslexia. Article.
Mangunsong, Frieda. 2009. Psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Jakarta: LPSP3 UI.
Ott, Philomena. 2007. Teaching children with dyslexia: a practical guide. New York, Routledge.
Praptiningrum, N. & Purwandari. 2009. Metode multisensori untuk mengambangkan kemampuan membaca anak disleksia di SD inklusi. Jurnal penelitian ilmu pendidikan, 2(2):179-192.

Snowling, M.J. 2012. Early identification and interventions for dyslexia: a contemprary view. Journal of reasearch in special educational needs. UK: Blackmail Publishing, Ltd.

No comments for "Anak Berkebutuhan Khusus: Disleksia dan Aphasia"

Berlangganan via Email