Anak Berkebutuhan Khusus: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)





ADHD adalah suatu gangguan perilaku yang memiliki gejala utama berupa ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian, impulsif, dan hiperaktif. Pada anak dengan ADHD tampilan gejala berupa impulsif dan hiperaktif terlihat lebih dominan daripada tampilan inatensi. Hal ini menyebabkan mereka terlihat selalu bergerak tidak terarah dan tidak sesuai dengan tuntutan tugas, mengalami kesulitan dalam mengendalikan gerakan tubuh, terutama ketika mereka dituntut untuk tenang dan mempertahankan suatu posisi atau melakukan kegiatan yang sama dalam waktu yang lama. Misalnya adalah ketika anak diminta untuk tetap duduk di tempat duduknya selama jam pelajaran di sekolah. Aktivitas motorik yang berlebihan ditandai dengan adanya perasaan gelisah, selalu menggerak-gerakan jari tangan, kaki, memainkan benda, tidak dapat duduk dengan tenang, serta selalu meninggalkan tempat duduknya (Barkley dkk, 2006).

Gangguan Pemusatan Perhatian Hiperaktivitas (GPPH) atau Attention Deficit and Hyperactivity Disorder (ADHD) ditandai dengan adanya gejala ketidakmampuan anak untuk memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang dihadapi, sehingga rentang perhatiannya sangat buruk atau sangat singkat waktunya dibandingkan dengan anakanak lain yang seusianya. Gejala lain yang menyertai adalah adanya tingkah laku yang hiperaktif dan tingkah laku yang impulsif (Yusuf, 2000 dalam Nanik, 2009).

Peters dan Douglas (dalam Goldstein, 1995) mendeskripsikan ADHD sebagai gangguan yang menyebabkan individu memiliki kecenderungan untuk mengalami masalah pemusatan perhatian, kontrol diri, dan kebutuhan untuk selalu mencari stimulasi. Anak dengan ADHD tidak hanya menghadapi masalah penolakan akan tetapi juga menghadapi hambatan dalam berbagai aspek dalam fungsi sosialnya dengan teman sebaya (Hoza dkk, 2005).

Gangguan hiperaktif sesungguhnya sudah dikenal sejak sekitar tahun 1900 di tengah dunia medis. Pada perkembangan selanjutnya mulai muncul istilah ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity disorder). Untuk dapat disebut memiliki gangguan hiperaktif, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi (pemusatan perhatian yang kurang), hiperaktif (perilaku anak yang tidak bisa diam), dan impulsif (kesulitan anak untuk menunda respon). Gangguan ini disebabkan kerusakan kecil pada sistem syaraf pusat dan otak sehingga rentan konsentrasi penderita menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan. Penyebab lainnya dikarenakan tempramen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak serta epilepsi atau bisa juga karena gangguan di kepala seperti geger otak, pernah terbentur, infeksi, keracunan, gizi buruk dan alergi makanan (Meliastari, 2012).

ADHD adalah suatu gangguan dalam kognitif yang sangat kompleks, mempengaruhi seluruh kelompok usia maupun jenis kelamin. ADHD semakin dikenal juga sebagai kerusakan perkembangan dari Executive Function dari otak yaitu activation, Focus, Effort, Emotion, Memory, and Action. Gangguan ini bersifat dimensional dan simtom-simtonya termanifestasi pada situasi yang spesifik. Tidak mudah untuk mencari data menggunakan observasi saja, wawancara yag intensif dan mendalam juga sangat penting untuk melakukan diagnosis. ADHD juga melibatkan beberapa gangguan psikiatri, yang mana sekarang dikategorikan dalam kelompok komorbid, tetapi beberapa darinya semisal regulasi emosi, mungkin akan menjadi komponen dasar dari gangguan itu sendiri (Brown, 2002).

Jadi, jika didefinisikan, secara umum ADHD menjelaskan kondisi anak-anak yang memperlihatkan simtom-simtom (ciri atau gejala) kurang konsentrasi, hiperaktif,dan impulsif yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan sebagian besar aktivitas hidup mereka. 

FAKTOR PENYEBAB
Faktor penyebab ADHD telah banyak diteliti dan dipelajari tetapi belum ada satu pun penyebab pasti yang tampak berlaku bagi semua gangguan yang ada. Berbagai virus, zat-zat kimia berbahaya yang banyak dijumpai di lingkungan sekitar, faktor genetika, masalah selama kehamilan atau kelahiran, atau apa saja yang dapat menimbulkan kerusakan perkembangan otak, berperan penting sebagai faktor penyebab ADHD ini (Baihaqi dan Sugiarmin, 2006). 

Terdapat beberapa hal yang diduga menjadi penyebab terjadinya ADHD, secara umum karena ketidakseimbangan kimiawi atau kekurangan zat kimia tertentu di otak yang berfungsi untuk mengatur ‘perhatian dan aktivitas’ . Beberapa penelitian menunjukan adanya kecenderungan faktor keturunan (herediter) tetapi banyak pula penelitian yang menyebutkan bahwa faktor-faktor sosial dan lingkunganlah yang lebih berperan. 

Ada dugaan kuat bahwa televisi, komputer, dan videogame mempunyai andil dalam memunculkan atau memperberat gejala ini. Anak dengan ciri ADHD tetapi tidak ditemukan adanya kelainan neurologis, penyebabnya diduga ada kaitan dengan faktor emosi dan pola pengasuhan. 
Namun untuk bahan kajian lebih lanjut akan dikemukakan hasil penelitian Faron dkk, 2000, Kuntsi dkk, 2000, Barkley, 20003 (dalam Baihaqi & Sugiarmin, 2006), yang mengatakan bahwa terdapat faktor yang berpengaruh terhadap munculnya ADHD , yaitu: 
1. Faktor genetika 
Bukti penelitian menyatakan bahwa faktor genetika merupakan faktor penting dalam memunculkan tingkah laku ADHD. Satu pertiga dari anggota keluarga ADHD memiliki gangguan, yaitu jik orang tua mengalami ADHD, maka anaknya beresiko ADHD sebesar 60 %. Pada anak kembar, jika salah satu mengalami. ADHD, maka saudaranya 70-80 % juga beresiko mengalami ADHD. 
Pada studi gen khusus beberapa penemuan menunjukkan bahwa molekul genetika gen-gen tertentu dapat menyebabkan munculnya ADHD.Dengan demikian temuan-temun dari aspek keluarga, anak kembar, dan gen-gen tertentu menyatakan bahwa ADHD ada kaitannya dengan keturunan. 

2. Faktor neurobiologis 
Beberapa dugaan dari penemuan tentang neurobiologis diantaranya bahwa terdapat persamaan antara ciri-ciri yang muncul pada ADHD dengan yang muncul pada kerusakan fungsi lobus prefrontl. Demikian juga penurunan kemampuan pada anak ADHD pada tes neuropsikologis yang dihubungkan dengan fungsi lobus prefrontal. Temuan melalui MRI (pemeriksaan otak dengan teknologi tinggi)menunjukan ada ketidaknormalan pada bagian otak depan. Bagian ini meliputi korteks prefrontal yang saling berhubungan dengan bagian dalam bawah korteks serebral secara kolektif dikenal sebagai basal ganglia. 
Bagian otak ini berhubungan dengan atensi, fungsi eksekutif, penundaan respons, dan organisasi respons. Kerusakan-kerusakan daerah ini memunculkan ciri-ciri yang serupa dengan ciri-ciri pada ADHD. Informasi lain bahwa anak ADHD mempunyai korteks prefrontal lebih kecil dibanding anak yang tidak ADHD.

Dengan demikian dapat disimpulkan kondisi yang terjadi pada anak penderita ADHD penyebab utamanya adalah di otak. Kita tidak dapat menyalahkan mereka atas kondisi yang terjadi dan juga bukan karena anda tidak dapat mendidik anak dengan baik (bad parenting). Hingga kini tidak ada obat untuk menyembuhkannya, tapi gejala yang muncul bisa diminimalisir melalui kombinasi obat dan terapi perilaku.

KARAKTERISTIK
Anak-anak yang banyak bergerak tapi masih dalam batas normal biasanya gerakannya diarahkan oleh suatu tujuan dan dapat mengontrol perilaku mereka. Namun ada sebagian anak yang menunjukkan gerakan tanpa diarahkan oleh suatu tujuan dan tanpa alasan yang jelas serta terlihat tidak bisa menyesuaikan perilaku mereka terhadap tuntutan, guru dan orangtua. Anak yang menunjukkan gambaran tersebut diatas adalah anak-anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas atau gangguan hiperkinetik atau “attention deficit hyperactivity disorder” (ADHD). Anak ADHD memiliki salah satu karakteristik yaitu kesulitan berperilaku yang merupakan aktivitas yang sangat berlebihan atau tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya terutama aktivitas motorik dan atau vokal (Rusmawati dan Dewi, 2011).

Berikut ciri ADHD, dimana ciri-ciri ini muncul pada masa kanak-kanak awal, bersifat menahun, dan tidak diakibatkan oleh kelainan fisik yang lain, mental, maupun emosional (Baihaqi dan Sugiarmin, 2006). Ciri utama individu dengan gangguan pemusatan perhatian meliputi: gangguan pemusatan perhatian (inattention), gangguan pengendalian diri (impulsifitas), dan gangguan dengan aktivitas yang berlebihan (hiperaktivitas). Dapat dijelaskan sebagai berikut: 
1. Inatensi 
Yang dimaksud adalah bahwa sebagai individu penyandang gangguan ini tampak mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatiannya. Mereka sangat mudah teralihkan oleh rangsangan yang tiba-tiba diterima oleh alat inderanya atau oleh perasaan yang timbul pada saat itu. Dengan demikian mereka hanya mampu mempertahankan suatu aktivitas atau tugas dalam jangka waktu yang pendek, sehingga akan mempengaruhi proses penerimaan informasi dari lingkungannya. 
2. Impulsifitas 
Yang dimaksud adalah suatu gangguan perilaku berupa tindakan yang tidak disertai dengan pemikiran. Mereka sangat dikuasai oleh perasaannya sehingga sangat cepat bereaksi. Mereka sulit untuk memberi prioritas kegiatan, sulit untuk mempertimbangkan atau memikirkan terlebih dahulu perilaku yang akan ditampilkannya. Perilaku ini biasanya menyulitkan yang bersangkutan maupun lingkungannya. 
3. Hiperaktivitas 
Yang dimaksud adalah suatu gerakan yang berlebuhan melebihi gerakan yang dilakukan secara umum anak seusianya. Biasanya sejak bayi mereka banyak bergerak dan sulit untuk ditenangkan. Jika dibandingkan dengan individu yang aktif tapi produktif, perilaku hiperaktif tampak tidak bertujuan. Mereka tidak mampu mengontrol dan melakukan koordinasi dalam aktivitas motoriknya, sehingga tidak dapat dibedakan gerakan yang penting dan tidak penting. Gerakannya dilakukan terus menerus tanpa lelah, sehingga kesulitan untuk memusatkan perhatian. 

KLASIFIKASI
ADHD adalah kondisi yang amat kompleks, gejalanya berbeda-beda. Para ahli mempunyai perbedaan pendapat mengenai hal ini, akan tetapi mereka sepakat menggolongkan ADHD ke dalam tiga tipe (Baihaqi dan Sugiarmin, 2006), yaitu:
1. Tipe ADHD Gabungan
Untuk mengetahui tipe ini dapat didiagnosis/dideteksi oleh adanya paling sedikit 6 di antara 9 kriteria untuk perhatian, ditambah paling sedikit 6 diantara 9 kriteria untuk hiperaktifitas impulsifitas, tentunya disertai bukti antara lain sebagai berikut:
a. Gejala-gejala tersebut tampak sebelum anak mencapai usia 7 ahu.
b. Gejala-gejala diwujudkan pada paling sedikit dua setting yang berbeda.
c. Gejala yang muncul menyebabkan hambatan yang signifikan dalam kemampuan akademik.
d. Gangguan tidak dapat dijelaskan dengan ebih baik oleh kondisi psikologi atau psikiatri lainnya.

2. Tipe ADHD Kurang Memperhatikan
Untuk mengetahui tipe ini dapat didiagnosis/dideteksi oleh adanya paling sedikit 6 di antara 9 kriteria untuk perhatian dan mengakui bahwa individu-individu tertentu mengelami sikap kurang memerhatikan yang mendalam tanpa hiperaktifitas/impulsifitas.

3. Tipe ADHD Hiperaktif Impulsif
 Untuk mengetahui tipe ini dapat didiagnosis/dideteksi oleh adanya paling sedikit 6 di antara 9 kriteria untuk bagian hiperaktif impulsifitas. Tipe ini mengacu pada anak-anak yang mengalami kesulitan lebih besar dengan memori (ingatan) mereka dan kecepatan motor perseptual (persepsi gerak), cenderung untuk melamun, dan kerap kali menyendiri secara sosial. 

IDENTIFIKASI
Untuk melakukan identifikasi ADHD dapat digunakan pedoman yang di keluarkan oleh American Psychiatric Association, yang menerapkan kriteria untuk menentukan gangguan pemusatan perhatian dengan mengacu kepada DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, 4th edition tahun 2005) sebagai berikut: 
A 1. Kurang Perhatian 
Pada kriteria ini, anak ADHD paling sedikit mengalami enam atau lebih dari gejala-gejala berikutnya, dan berlangsung selama paling sedikit 6 bulan sampai suatu tingkatan yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan dan secara negatif berpengaruh pada aktivitas sosial, akademik, dan pekerjaan. 
a. Seringkali gagal memerhatikan baik-baik terhadap sesuatu yang detail atau membuat kesalahan yang sembrono dalam pekerjaan sekolah dan kegiatan-kegiatan lainnya.
b. Seringkali mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian terhadap tugas-tugas atau kegiatan bermain
c. Seringkali tidak mendengarkan jika diajak bicara secara langsung.
d. Seringkali tidak mengikuti baik-baik instruksi dan gagal dalam menyelesaikan pekerjaan sekolah, pekerjaan,atau tugas di tempat kerja (bukan disebabkan karena perilaku melawan atau kegagalan untuk mengerti instruksi).
e. Seringkali mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas dan kegiatan.
f. Seringkali kehilangan barang atau benda penting untuk tugas-tugas dan kegiatan, misalnya kehilangan permainan;kehilangan tugas sekolah;kehilangan pensil, buku, dan alat tulis lain.
g. Seringkali menghindari, tidak menyukai atau enggan untuk melaksanakan tugas-tugas yang membutuhkan usaha mental yang didukung, seperti menyelesaikan pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah.
h. Seringkali bingung/terganggu oleh rangsangan dari luar, dan
i. Seringkali cepat lupa dalam menyelesaikan kegiatan sehari-hari. 

A 2. Hiperaktivitas Impulsifitas
Paling sedikit enam atau lebih dari gejala-gejala hiperaktivitas impulsifitas berikutnya bertahan selama paling sedikit 6 bulan sampai dengan tingkatan yang maladaptif dan tidak dengan tingkat perkembangan. 
Hiperaktivitas 
a. Seringkali gelisah dengan tangan atau kaki mereka, dan sering menggeliat di kursi.
b. Sering meninggalkan tempat duduk di dalam kelas atau dalam situasi lainnya di mana diharapkan agar anak tetap duduk.
c. Sering berlarian atau naik-naik secara berlebihan dalam situasi di mana hal ini tidak tepat. (Pada masa remaja atau dewasa terbatas pada perasaan gelisah yang subjektif). 
d. Sering mengalami kesulitan dalam bermain atau terlibat dalam kegiatan senggang secara tenang. 
e. Sering 'bergerak' atau bertindak seolah-olah 'dikendalikan oleh motor', dan sering berbicara berlebihan. 

Impulsivitas 
a. Mereka sering memberi jawaban sebelum pertanyaan selesai.
b. Mereka sering mengalami kesulitan menanti giliran.
c. Mereka sering menginterupsi atau mengganggu orang lain, misalnya rnemotong pembicaraan atau permainan. 

B. Beberapa gejala hiperaktivitas impulsifitas atau kurang perhatian yang menyebabkan gangguan muncul sebelum anak berusia 7 tahun. 
C. Ada suatu gangguan di dua atau lebih setting/situasi. 
D. Harus ada gangguan yang secara klinis, signifikan di dalam fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan.
E. Gejala-gejala tidak terjadi selama berlakunya PDD, skizofrenia, atau gangguan psikotik lainnya, dan tidak dijelaskan dengan lebih baik oleh gangguan mental lainnya. 

MASALAH YANG MUNCUL 
Anak dengan  ADHD dapat tertinggal satu atau dua tahun dalam perkembangan sosial mereka. Para ahli menyatakan bahwa keterlambatan perkembangan sosial yang dialami anak dengan  ADHD berhubungan dengan ketidakmampuan anak dalam menangkap isyarat-isyarat sosial dan pesan-pesan nonverbal yang ada pada konteks-konteks sosial. Anak dengan ADHD cenderung memiliki sedikit pilihan respon untuk menghadapi situasi sosial dan lebih memilih respon agresif untuk menghadapi situasi sosial. Pola penolakan sosial biasanya akan muncul pada pertengahan masa kanak-kanak akibat rendahnya keterampilan sosial yang dimiliki anak dengan ADHD (Novita dan Siswanti, 2010).

Anak dengan ADHD mengalami berbagai hambatan dalam perkembangannya baik yang berkaitan dengan akademik, penyesuaian sosial, emosi, tingkah laku. Kognitif, dan fisikal. Dibandingkan dengan teman-teman sebayanya, anak dengan ADHD akan tampak berperilaku ang tidak matang. Problem perilaku ketidak matangan terlihat dengan jelas saat usia mereka mulai menginjak usia 6 tahun- usia sekolah dasar. Pada usia tersebut anak dengan ADHD terlihat memiliki keterbatasan dalam tanggung jawab, kemandirian, kedisiplinan, keterampilan sosial, pengendalian diri terhadap perilaku dan emosi dibandingkan anak-anak sebayanya pada umumnya (Nanik, 2009).
Permasalahan lain yang timbul akibat ADHD ini antara lain adalah orang tua dan guru pada umumnya sulit untuk memahami dan menerima anak-anak dengan gangguan ADHD ini. Guru menganggap anak-anak ini bodoh, malas, atau acuh tak acuh dalam kelas. Hal ini akn menjadi semakin parah bila masalah perilaku anak semakin menonjol karena ketidakmampuan mengendalikan diri dan sebagai akibat kompleksitas interaksi. Orang tua menjadi cemas, kecewa, dan biasanya bersikap menuntut atau menekan anak. Permasalahan menjadi berputar melingkar seperti lingkaran setan yang sebenarnya dapat dihindari. Anak dapat diberikan pendidikan dan dilatih untuk mengontrol perilakunya meskipun dengan pendidikan khusus. Banyak orang tua yang kelelahan, khususnya para ibu karena berusaha mengatasi perilaku anak-anak mereka dan mendekati depresi setelah mengetahui anak-anak mereka mengalami gangguan ADHD (Flanagen, 2005).

Menurut Abdurrahman (1996), Beberapa masalah perilaku yang muncul yang menghambat proses belajar pada anak ADHD dapat digambarkan sebagai berikut: 
1. Aktivitas motorik yang berlebihan 
Masalah motorik pada anak ini disebabkan karena kesulitan mengontrol dan melakukan koordinasi dalam aktivitas motoriknya, sehingga tidak dapat membedakan kegiatan yang penting dan yang tidak penting. Gerakannya dilakukan terus-menerus tanpa lelah, sehingga kesulitan memusatkan perhatian. Aktivitas motorik berlebihan ini seperti, jalan-jalan di kelas atau bertindak berlebihan. 
2. Menjawab tanpa ditanya 
Masalah ini sangat membutuhkan kesabaran guru. Ciri impulsif demikian ini merupakan salah satu sifat yang dapat menghambat proses belajar anak. Keadaan ini menunjukkan bahwa anak tidak dapat mengendalikan dirinya untuk berespon secara tepat. Mereka sangat dikuasai oleh perasaannya sehingga sangat cepat bereaksi, sulit untuk mempertimbangkan atau memikirkan terlebih dahulu perilaku yang akan ditampilkannya. Perilaku ini biasanya menyulitkan yang bersangkutan maupun lingkungannya. 

Keadaan impulsivitas ini sering ditampilkan dalamberbgai perbuatan. Mereka tidak memikirkan terlebih dahulu apa akibatnya bila melakukan suatu perbuatan. Sebagai contoh ketika menyeberang jalan tanpa melihat dulu ke kiri dan ke kanan. Sering memanjat. melompat dari ketinggian yang berbahaya untuk ukurannya. menyalakan api, dan lain sebagainya.. Kecenderungannya, Anak ADHD seakan-akan menempatkan dirinya dalam suatu kondisi yang mempunyai resiko tinggi, bahkan seringkali berbahaya bagi orang lain. 

Impulsivitas ini muncul pula dalam bentuk verbal. Mereka berbicara tanpa berpikir lebih dahulu, tidak memperhitungkan bagaimana perasaan orang lain yang mendengarkan, apakah akan menyinggung atau menyakitkan hati. Bentuk lain dari impulsivitas adalah anak seperti tidak sabaran, kurang mampu untuk menuna: keinginan, menginterupsi pembicaraan orang lain. Cepat marah jika orang lain melakukan sesuatu di luar keinginannya 
3. Menghindari tugas
Masalah ini muncul karena biasanya anak merasa cepat bosan, sekalipun dengan tugas yang menarik. Tugas-tugas belajar kemungkinan sulit dikerjakan karena anak mengalami hambatan untuk menyesuaikan diri terhadap kegiatan belajar yang diikutinya. Keadaan ini dapat memunculkan rasa frustasi. Akibatnya anak kehilangan motivasi untuk belajar. 
4. Kurang perhatian 
Kesulitan dalam mendengar, mengikuti arahan, dan memberikan perhatian adalah merupakan masalah umum pada anak-anak ini. Kesulitan tersebut muncul karena kemampuan perhatian yang jelek. Sebagian anak mempunyai kesulitan dengan informasi yang disampaikan secara visual sebagian lainnya, sebagian kecil mempunyai kesulitan dengan materi pelajaran yang disampaikan secara auditif. Perhatian yang mudah teralihkan sangat menghambat dalam proses belajar. 
Anak ADHD mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian dan cenderung melamun, kurang motivasi, sulit mengikuti instruksi. Mereka sering menunda atau menangguhkan tugas yang diberikan dan kesulitan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan karena cepat berpindah ke topik lain.
5. Tugas yang tidak diselesaikan 
Masalah ini berhubungan dengan masalah pengabaian tugas. Jika anak mengabaikan tugas, boleh jadi tidak menyelesaikan tuganya. Sekali mengembangkan kebiasaan belajar yang jelek di sekolah maupun di rumah, pola-pola tersebut akan terjadi pula di tempat lain. 
Masalah ini berhubungan dengan penghargaan waktu yang kurang baik, frustasi terhadap tugas, serta berbagai sikap yang merusak, namun membangun kebiasaan yang baik secara konsisten merupakan langkah yang penting agar tugas dapat diselesaikan dengan baik. Harus diingat bahwa anak-anak ini mempunyai masalah dalam perencanaan, penataan, dan perkiraan waktu. 
6. Bingung akan arahan-arahan 
Masalah ini berpangkal pada perhatian, ketika perhatian pecah selama kegiatan permbelajaran, terjadi perpecahan proses informasi yang mengakibatkan kebingungan sehingga informasi yang diterima tidak utuh. 
Selain itu dapat menurunkan daya ingat jangka pendek. Anak ADHD mengalami kesulitan dalam mengingat informasi yang baru didapat untuk jangka waktu yang pendek. Keadaan ini dapat mempengaruhi kegiatan belajar, karena anak cenderung tidak dapat merespon dengan baik setiap instruksi. Dengan demikian mereka juga mengalami kesulitan dalam mempelajari simbol-simbol, seperti warna dan alphabet. 
7. Disorganisasi 
Pada umumnya anak-anak ini mengalami disorganisasi, impulsif, ceroboh, dan terburu-buru dalam melakukan tugas yang mengakkibatkan pekerjaan acak-acakan, bingung, dan sering kali lupa beberapa bagian tugas. Anak akan gagal melakukan seluruh tugas karena ia lupa atau salah menginterpretasikan keperluan dalam menyelesaikan tugas tersebut atau meski ia dapat menyelesaikan tugas, ia sering kali lupa membawa kembali tugas tersebut ke sekolah. 
Selain itu, seringkali nampak ketika anak mengatur kamarnya. Mereka kelihatannya kesulitan, demikian juga dalam kegiatan sehari-hari lainnya. Hal ini nampak juga ketika anak mengikuti ulangan atau ujian. Mereka kurang dapat memperhatikan atau menimbang jawaban yang tepat, sehingga seringkali memperoleh nilai yang kurang dari rata-rata kelasnya. 
8. Tulisan yang jelek 
Anak-ank ini seringkali memiliki tulisan tangan yang jelek. Masalah ini bisa ditemukan pada tingkat berat sampai ringan. Tulisan yang jelek ada hubungannya dengan masalah aktivitas motorik dan sikap impulsif yang teburu-buru. 
Masalah ini juga erat kaitannya dengan masalah koordinasi motorik yang mengaruhi keterampilan motorik kasar dan halus atau koordinasi mata dan tangan. Dalam keterampilan motorik kasar, mereka mengalami kesulitan dalam keseimbangan melompat, berlari, atau naik sepeda. Dalam keterampilan motorik halus, seperti mengancingkan baju, memakai tali sepatu, menggunting, mewarnai, dan tulisannya sulit dibaca. Dalam koordinasi mata-tangan seperti melempar bola, menangkap bola, menendang, maka gerakan-gerakannya cenderung terburu-buru. Hal ini tampak juga ketika mengikuti kegiatan olah raga, gerakan-gerakannya tampak kurang terampil. 
9. Masalah-masalah sosial 
Meskipun masalah dalam hubungan teman sebaya tidak ditemukan pada semua anak-anak ini, namun kecenderungan impulsif, kesulitan menguasai diri sendiri, serta toleransi rasa frustasi yang rendah, tidaklah mengherankan jika sebagian anak mempunyai masalah dalam kehidupan sosial, kesulitan bermain dengan aturan, dan aktivitas lainnya yang tidak hanya terbatas di sekolah saja tetapi di lingkungan sosial lainnya. 
Masalah penyesuaian diri ini, bisa ditemukan dalam semua hal yang baru, misalnya sekolah, guru, rumah, baju baru. Mereka lebih menyukai lingkungan yang sudah dikenal dengan baik, tidak mudah berubah, dan bersifat kekeluargaan. Keadaan ini dapat menyebabkan mereka lebih cepat menjadi putus asa. Seringkali apa yang sudah menjadi kebiasaan sejak kecil akan berlanjut terus sampai dewasa. 
10. Gangguan memiliki ketidakstabilan emosi, baik watak maupun suasana hati. Anak ADHD menampakkan pula perilaku sangat labil dalam menentukan derajat suasana hati dari sedih ke gembira. Stimulus yang menyenangkan akan menyebabkan kegembiraan yang berlebihan, sedang rangsang yang tidak menyenangkan akan memunculkan kemarahan yang besar. Anak seringkali marah hanya disebabkan oleh faktor pemicu yang sepele. Mereka juga cenderung mengalami masalah untuk merasakan kegembiraan. Pada masa remaja kurang merasakan perasaan kehilangan semangat atau tidak berdaya.
11. Selain itu pada gangguan ini konsep diri yang dimiliki sangat rendah. Kebanyakan mereka menolak untuk bermain dengan teman seusianya, mereka lebih suka bermain dengan yang lebih mudah usianya. Keadaan ini menunjukkan pertanda awal dari harga diri yang rendah. Apabila dikemudian hari mereka tidak menunjukkan kemajuan di sekolah atau tidak dapat mengembangkan keterampilan sosial, akan menimbulkan perasaan citra diri yang negatif yang membuat rasa harga dirinya semakin menurun.

MODEL PENDIDIKAN
Menurut Sugiarmin (2005), pertumbuhan dan perkembangan individu serta keharusannya untuk mempelajari pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan untuk bersosialisasi dalam masyarakat merupakan suatu perpaduan yang komplek. Bila seseorang hendak mengembangkan kepribadiannya ia harus belajar mengendalikan dorongan-dorongan emosionalnya, sehingga dapat menselaraskan dan menstabilkan perasaan serta tindakannya. Selain itu mampu memusatkan perhatiannya serta menyusun sesuatu yang akan dilakukannya secara tepat dan benar. 

Anak ADHD karena masalah yang menyertainya mengalami kesulitan untuk melakukan proses tindakan atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Keadaan ini menuntut pengaturan yang memungkinkan anak dapat mengontrol diri dalam segala perbuatannya. Selain itu setiap perlakuan yang diberikan pada anak ADHD membutuhkan umpan balik yang segera dan konsisten. Hal ini penting untuk memperkuat tingkah laku yang dikehendaki dan menghindarkan tingkah laku yang tidak dikehendaki. 

Berdasarkan hal tersebut, maka terdapat beberapa hal yang dibutuhkan anak ADHD, hal ini tidak terlepas dari masalah yang dialaminya yaitu pertama yang berkaitan dengan kebutuhan pengendalian diri, kedua kebutuhan belajar.
Pertama, kebutuhan pengendalian diri Kebutuhan pengendalian diri lebih berkaitan dengan mengurangi atau menghilangkan hyeraktivitas, meningkatkan rentang perhatian, dan pengendalian impulsivitas. Oleh karena itu yang dibutuhkan anak ADHD adalah :
1. Rutinitas, struktur, dan konsistensi 
Untuk terpenuhinya rutinitas, struktur, dan konsisten, perlu dibuat jadwal harian dalam bentuk visual dan tempelkan di tempat yang mudah dilihat. Bila ada perubahan, beritahu sebelumnya. Tetapkan peraturan secara jelas beserta konsekuensinya bila anak melanggar peraturan tersebut. Konsistensi dalam penerapan disiplin, pemberian reward bagi tingkah laku positif dan penerapan konsekuensi atau hukuman haruslah konsisten agar anak tidak bingung. 
2. Fokuskan pada hal-hal positif 
Untuk meningkatkan rasa percaya diri anak, beri perhatian lebih pada keunggulan anak dan saat-saat ia melakukan tingkah laku positif. Berikan reward dan penghargaan atas usaha-usaha yang telah ia lakukan walaupun hasilnya belum memuaskan. Temukan aktivitas-aktivitas yang disukai anak dan kembangkan kemampuan anak secara optimal agar dapat dibanggakan. 
3. Penjelasan yang sederhana dan singkat 
Agar anak dapat memahami apa yang disampaikan orang lain, penjelasan harus diberikan dengan kata-kata sederhana, singkat, dan dalam situasi yang tenang. Penting untuk menarik perhatian anak sebelum memulai penjelasan. Pastikan bahwa ia mendengarkan perkataan orang lain dan tidak sedang melamun atau asik melakukan aktivitas tertentu. Amat disarankan untuk menggunakan nada suara datar, monoton, dan tegas bila berbicara dengan anak. 
4. Hindari argumentasi dan eskalasi 
Untuk menghindari konflik yang berlarut-larut, sedapat mungkin hindarilah argumentasi. Beri perintah atau larangan dengan singkat dan tegas. Abaikan saja komentar-komentar protes dari anak, jangan terlalu banyak memberikan penjelasan karena justru akan menimbulkan argumentasi. Yang penting adalah menjelaskan konsekuensi dari pilihan anak: bila ia memilih mengikuti perintah, maka ia akan memperoleh reward; sementara kalau ia memilih menolak, maka yang diperoleh adalah konsekuensi negatif. 
5. Abaikan hal-hal yang tidak penting 
Kita perlu menyadari bahwa anak ADHD tidak mungkin dituntut untuk berperilaku teratur dan selalu mentaati norma-norma sosial. Buatlah daftar tentang tingkah laku yang menjadi prioritas dalam kehidupan anak seperti misalnya mampu menghindarkan diri dari bahaya, tidak bertindak agresif, mengerjakan tugas sebaik mungkin. Hal-hal lain yang tidak menjadi prioritas sebaiknya tidak terlalu dijadikan masalah sehingga anak tidak frustasi. 

Kedua, kebutuhan belajar Anak ADHD seperti anak pada umumnya membutuhkan pengembangan diri yaitu melalui belajar. Karena hambatan yang dialaminya pemenuhan kebutuhan akan belajar pada anak ADHD tidak semulus pada anak umumnya. Tanpa bantuan yang dirancang secara khusus akan sulit bagi anak untuk bisa belajar secara optimal. Ia akan kesulitan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Padahal secara umum potensi kecerdasannya relatif baik, bahkan sama seperti anak pada umumnya. 

Untuk memenuhi kebutuhan belajar anak ADHD tidaklah mudah, dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang lebih. Dan yang paling mendasar adalah ketangguhan, kesungguhan, dan kesabaran dalam membantu anak belajar yang memang lain dari yang lain. Oleh karena itu penting terutama bagi orang tua dan guru bekerjasama dan mencari cara-cara terbaik untuk dapat memilih berbagai strategi pembelajaran yang sesuai bagi anak.
Kegagalan dalam belajar pada anak ADHD lebih disebabkan karena anak mengalami kesulitan mengendalikan diri. Dorongan-dorongan emosional yang muncul seperti ke luar dari tempat duduk, tindakan impulsivitas, yang tanpa bisa dikendalikan sangat merugikan diri anak sendiri dan orang lain. Keadaan ini sering mengganggu lingkungan belajar di kelas, sehingga anak dijauhi atau diasingkan oleh teman-temannya. 

Untuk belajar anak butuh lingkungan yang tenang, kondusif, dan terkendali. Pengelolaan kelas dengan memperhatikan keberagaman peserta didik, jika dapat diterapkan secara konsisten dan konsekuen akan dapat membantu menciptakan suasana yang memungkinkan semua anak dapat belajar. 

Oleh karena itu anak ADHD pengaturan kegiatan yang terjadwal tidak hanya dalam pengendalian diri tetapi juga pengaturan di dalam memenuhi kebutuhan belajar. Pengaturan belajar yang konsisten tetapi fleksibel dapat diterapkan dalam pengaturan kelas, pembelajaran, dan ketika pemberian tugas (Sugiarmin, 2005).

INTERVENSI
Salah satu intervensi yang cukup banyak digunakan adalah terapi modifikasi perilaku. Terapi modifikasi perilaku harus melalui pendekatan perilaku secara langsung, dengan lebih memfokuskan pada perunahan secara spesifik. Pendekatan ini cukup berhasil dalam mengajarkan perilaku yang diinginkan, berupa interaksi sosial, bahasa dan perawatan diri sendiri. Selain itu juga akan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan, seperti agrsif, emosi labil, self injury dan sebagainya. Modifikasi perilaku, merupakan pola penanganan yang paling efektif dengan pendekatan positif dan dapat menghindarkan anak dari perasaan frustrasi, marah, dan berkecil hati menjadi suatu perasaan yang penuh percaya diri (Judarwanto, 2009).

Selain itu, terapi bermain sangat penting untuk mengembangkan ketrampilan, kemampuan gerak, minat dan terbiasa dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam melakukan kegiatan kelompok. Bermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan untuk beraktifitas dan bekerja saat usia dewasa. Terapi bermain digunakan sebagai sarana pengobatan atau terapitik dimana sarana tersebut  dipakai untuk mencapai aktifitas baru dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan terapi (Judarwanto, 2009).
Salah satu contoh intervensi dengan terapi bermain yang dilakukan oleh Meliastari (2012) untuk mengurangi hiperaktifitas pada anak attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah melalui permainan tradisional teropa tempurung. Penelitian ini membuktikan bahwa permainan tradisional terompa tempurung efektif dalam mengurangi hiperaktifitas pada anak ADHD di SLB Lima Kaum.
Intervensi selanjutnya dilakukan oleh Rusmawati dan Dewi (2011) yaitu penerapan terapi musik dan gerak untuk menurunkan kesulitan berperilaku siswa Sekolah Dasar dengan gangguan ADHD. Kesulitan berperilaku yang dimaksud ditunjukkan melalui perilaku berlari dan melompat tanpa tujuan yang seringkali dilakukan oleh anak ADHD. Terapi ini dilakukan dengan pemberian tritmen berupa suara alunan musik yang harmonis yang diikuti dengan gerakan-gerakan terstruktur sesuai dengan irama musik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terapi musik dan gerak terbukti efektif dalam menurunkan kesulitan perilaku siswa SD dengan gangguan ADHD. 

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, M. (1996). Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti. 

American Psychiatric Assosiations (2005). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM IV). Washington, DC. American Psychiatric Associations. 
Baihaqi, MIF., Sugiarmin, M. (2006). Memahami dan Membantu Anak ADHD. Bandung: Refika Aditama 

Barkley, R.A., Shelton, T.L., Crosswait, C.R., Moorehouse, M., Fletcher, K., Barrett, S., Jenkins, L., & Metevia, L. (2000). Multi-method psycho-educational intervention for preschool children with disruptive behavior: Preliminary results at post-treatment. Journal of Child Psychology & Psychiatry & Allied Disciplines, 41(3) 319-332. 

Brown, T.E. (2002). DSM-IV: ADHD and Executive Function Impairements. Journal Proceedings. Vol 2 (25). Pp. 910-914.

Flanagen, R. (2005). ADHD Kids, Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Jakarta: Prestasi Pustaka Pelajar.

Goldstein, S. (1995). Understanding and managing children’s classroom behavior. New York: John Wiley & Sons Inc.

Hoza, B. dkk. (2005). What aspects of peer relationships are impaired in children with attention-deficit/hyperactivity disorder. Journal of consulting and clinical psychology american psychological association. Vol. 73 (3), pp. 411-423.

Judarwanto, W. (2009). Deteksi Dini ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Jakarta: Children Family Clinic.

Meliastari. (2012). Mengurangi Hiperaktifitas Pada Anak Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) Melalui Permainan Tradisional Teropa Tempurung (Single Subject Research Kelas III Di SLB Negeri Lima Kaum). Jurnal Ilmiah Pendidikan Khusus. Vol 1 (2) pp. 283-294.

Nanik. (2009). Penulusuran Karakteristik Hasil Tes Inteligensi WISC Pada Anak Dengan Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Hiperaktivitas. Jurnal Psikologi. Vol 34 (1). Pp 18-39.

Novita., Siswanti. (2010). Pengaruh Social Stories Terhadap Keterampilan Sosial Anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Jurnal Psikologi Undip. Vol 8 (2). Pp. 102-115.

Rusmawati, D., Dewi, E.K. (2011). Pengaruh Terapi Musik dan Gerak terhadap Penurunan Kesulitan Perilaku Siswa Sekolah Dasar dengan Gangguan ADHD. Jurnal Psikologi Undip. Vol 9 (1). Pp. 73-92.

Sugiarmin, M. (2005). Terapi Psikoedukatif bagi anak GPPH dan Kesulitan Belajar. Makalah Seminar, Bandung 

No comments for "Anak Berkebutuhan Khusus: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)"

Berlangganan via Email